Kemenperin Komit Wujudkan Industri Hijau

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pelaku industri manufaktur di dalam negeri untuk dapat mendukung kelestarian lingkungan hidup melalui praktek industri hijau. Hal ini sejalan dengan salah satu program prioritas yang terdapat di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

“Melalui implementasi industri 4.0, diharapkan dapat memperbaiki pendekatan keberlanjutan yang sudah ada sebagaimana telah disepakati bersama secara global dalam Sustainable Development Goals (SDGs),” kata Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto.

Eko menegaskan, program pembangunan industri hijau merupakan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. “Industri hijau merupakan sebuah ikon industri yang harus dipahami dan dilaksanakan, di mana industri dalam proses produksinya menerapkan upaya efisiensi dan efektivitas terhadap penggunaan sumber daya secara berkelanjutan,” jelas Eko.

Oleh karena itu, menurut Eko, Kemenperin memberikan apresiasi kepada BBTPPI Semarang selaku unit teknis di bawah BPPI yang telah menghasilkan teknologi bermanfaat bagi sektor industri agar bisa lebih ramah lingkungan. Inovasi itu adalah alat pemantauan lingkungan secarareal timeberbasisInternet of Things(IoT) yang terkoneksi dengan Sistim Informasi Digital (SINDI).

SINDI merupakan sistem informasi digital sebagaidashboardinformasi yang terintegrasi dari beberapa layanan jasa teknis di BBTPPI Semarang. SINDI memiliki fitur pelaporan dan evaluasi hasil pengujian laboratorium yang terkoneksi, baik pelanggan sebagai pengguna jasa dan laboratorium sebagai unit penyedia analisis jasa pengujian.

BBTPPI Semarang juga menciptakan reaktor elektrokatalitik pengolah air limbahportabledan pengolahan ozonasi katalitik. Alat ini dapat dimanfaatkan untuk mengelola limbah cair dan gas yang dikeluarkan oleh industri, sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

“Jadi, melalui sistem yang dikembangkan BBTPPI ini, kami punya duapilot project. Yang pertama sudah kami tempatkan di industri untuk memonitoring emisi secara online karena menggunakan teknologi IoT. Selain itu, sistem monitoring air limbah yang dioperasikan di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik BBTPPI,” papar Eko.

Eko optimistis, melalui penerapan inovasi teknologi tersebut, dapat turut memacu daya saing industri yang memanfaatkannya. “Dengan memastikan lingkungan terjaga baik, tentunya proses produksi akan bisa berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Eko pun meyakini, inovasi teknologi yang dihasilkan oleh BBTPPI Semarang dapat mendukung program Citarum Harum dan Bengawan Solo Bersih. “Upaya ini akan kami prioritaskan agar bisa sejalan dengan kebijakan pemerintah, dan kami juga berharap BBTPPI menjadi satelit bagi Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) 4.0,” tuturnya.

Guna mencapai sasaran tersebut, menurut Eko, perlu langkah sinergis dengan kementerian dan lembaga terkait termasuk pemerintah daerah. “Bahkan, melalui inovasi teknologi ini, kami ingin mendorong pula pengembangan industri kecil dan menengah (IKM),” imbuh Eko.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BBTPPI Semarang, Ali Murtopo Simbolon menyampaikan, sistem monitoring udara secarareal timedanonlinetelah diaplikasikan di PT. Ungaran Sari Garments dan CV. Jadi Jaya Makmur.“Selain diaplikasikan di perusahaan, sistem sistem monitoring udara buatan BBTPPI juga telah di ujicoba untuk memonitor kualitas udara di Semarang dan Bandung,” ungkapnya.

Untuk pengembangan selanjutnya, sistem monitoring udara ini akan didesain agar dapat dikustomisasi tergantung pada spesifikasi polutan dan emisi yang dihasilkan di industri, terintegrasi ke dalam unit kontrol proses, dan mampu menganalisis baik kecenderungan danearly warning systemmelalui pengembangan sistem monitoring udara secarareal timedanonlineberbasisartificial intelligence.

Sementara itu, untuk sistem monitoring air limbah, parameter yang dapat diukur dan dimonitor secarareal timedan online antara lain: pH, suhu,Total Suspended Solid(TSS) atau Padatan Tersuspensi Total,Chemical Oxygen Demand(COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia, dan debit air.

“Prinsip dasar sistem ini adalah hasil pembacaan setiap jenis sensor akan dikirim olehtransmitterhingga menyajikan tampilan hasil pengukuran padadisplay dashboard,” terang Ali.

Selanjutnya, dengan bantuandata loggerdikirimkan keserverdan ditampilkan dalaminterfaceberbasiswebmaupun android, sehingga pemantauan kualitas air limbah yang dibuang dapat menjadi lebih mudah. Sistem ini diatur untuk melakukan pengukuranreal time24 kali selama 24 jam.

BERITA TERKAIT

Impor Sampah Harus Dikaji Ulang

NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Budisatrio Djiwandono meminta agar kegiatan impor sampah plastik untuk digunakan sebagai…

Korporasi Harus Sejahterakan Masyarakat

NERACA Jambi - Pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa aktivitas korporasi tidak mencemari lingkungan sekitar dan juga tidak mengorbankan kesejahteraan…

Pemerintah Kurangi Impor dan Pacu Utilisasi

NERACA Jakarta - Pemerintah bertekad semakin serius untuk membina dan membangun industri baja nasional, baik itu yang berstatus Badan Usaha…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

KLHK Dukung Omnibus Law, Komisi IV DPR Berharap Pemerintah Berhati-hati

Jakarta – Beanar, bahwa saat ini pemerintah tengah menggodok RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Banyak pihak yang mendukung tapi tidak…

Pemerintah Pastikan RUU Cipta Kerja Selaras Dengan Koridor Konstitusi

NERACA RUU Cipta Kerja bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, sejahtera. Hal ini dilakukan melalui upaya memenuhi hak warga…

Pemerintah Dorong Investasi Berkelanjutan Sektor Pertanian di Papua Barat

NERACA Sorong - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Investasi Hijau untuk Provinsi Papua dan Papua Barat,…