Ekspor Kelapa Kembali Naik

NERACA

Jakarta - Benar, bahwa produk kelapa hingga saat ini masih sangat diminati. Artinya sangat disayangkan jika potensi yang ada saat ini seperti kelapa kalau masih dipasarkan dalam bentuk primer. Sebab harus diakui meskipun permintaan dalam bentuk primer masih dimintai tapi alangkah baiknya jika menjual dalam bentuk minimal setengah jadi atau minimal jangan dalam bentuk kopra. Seperti di Sumatera Barat yang berkomitmen untuk meningkatkan ekspor kelapa.

“Jadi benar bahwa saat ini Sumatera Barat telah melakukan ekspor 3 produk olahan kelapa, yaitu santan, kelapa parut, dan air kelapa,” ucap Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Baratan) Kementerian Pertanian (Kementan), saat melepas ekspor di Teluk Bayur, Sumatera Barat

Adapun besarannya, menurut Ali yaitu sebanyak 108,4 ton ke manca negara seperti Eropa dan Amerika. Dari angka tersebut, sebanyak 35,2 ton dalam bentuk santan kelapa senilai Rp. 612,7 juta tujuan Belanda. Kemudian ke Inggris sebanyak 37,2 ton dalam bentuk kelapa parut dengan nilai Rp 827 juta. Lalu, tujuan Jerman dan Norwegia sebanyak 36 ton air kelapa dengan nilai Rp. 308 juta.

Ditempat yang sama, Eka Hernida Yanto, Kepala Karantina Pertanian Padang menambahkan bahwa memang benar permintaaan kelapa dari Sumatera Barat ini tidaklah kecil dan sudah dilakukan sejak dahulu kala.

Berdasarkan catatan Karantina Pertanian tahun tahun 2018 total ekspor olahan kelapa ini mencapai 8.615 ton atau senilai Rp. 111, 92 milyar. Sementara di tahun 2019 per akhir Juni sudah mencapai 6.221 ton senilai Rp. 82,85 milyar.

“Artinya meski baru 6 bulan namun sudah mencapai 72 persen dibandingkan dengan ekspor 2018,” jelas Eka .

Selain komoditas olahan kelapa, Eka mengakui, yang diekspor kali ini juga ada 11.000 MT cangkang sawit tujuan Jepang. Cangkang sawit merupakan komoditas ekspor terbesar di Sumatera Barat. Di tahun 2019 sudah mencapai 234 ribu ton atau senilai Rp. 234 Milyar. Menurut Eka ini merupakan ekspor perdana cangkang sawit bagi PT. Pinang Mas Energy.

“Hal ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian dalam upaya percepatan akselerasi ekspor, penambahan ragam komoditas menjadi salah satu program yang didorong selain menumbuhkan ekspotir baru dari kalangan muda."Barantan dengan program Agro Gemilang, siap memberikan bimbingan dan pendampingan teknis para eksportir komoditas pertanian ke pasar global,” terang Eka.

Kemudian, Eka mengatakan, tiga komoditas lainnya yang ikut diberikan phytosanitary certificate pada hari ini adalah 173,2 ton kulit kayu manis tujuan Inggris, Prancis dan Singapura senilai Rp. 14,6 milyar. 102,7 ton pinang biji tujuan Thailand senilai Rp. 1,8 milyar dan 100,8 ton karet olahan tujuan India senilai Rp. 2,2 milyar.

Phytosanitary Certificate merupakan jaminan yang diberikan Badan Karantina Pertanian bahwa komoditas tersebut telah melewati pemeriksaan karantina sebagaimana yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor.

Melihat hal tersebut, Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Sumbar, Muhammad Yani turut menyambut baik dengan meningkatnya ekspor asal Sumatera Barat.

Sebab memang potensi pertanian Sumatera Barat harus di dukung dengan potensi sumber daya manusia agar mampu menambah nilai manfaat, khususnya para pelaku bisnis serta mampu bersaing dengan negara lain.

Artinya dalam hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian melalui Barantan yang telah memfasilitasi kemudahan proses ekspor komoditas pertanian Sumbar.

“Semua unsur di institusi pemerintah provinsi Sumatera Barat mendukung penuh percepatan ekspor yang gencar dilakukan pada pelaku bisnis untuk terus memberi manfaat buat semua dan mengajak untuk terus berinovasi agar produk pertanian memberi nilai tambah pemasukan devisa negara,” tutur Yani.

Sebelumnya, Unggul Ametung, Kasubdit Tanaman Kelapa, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian pun juga mengingatkan untuk tidak lagi menjual dalam bentuk kopra dibutuhkan komitmen bersama.

Sebab harus diakui dengan mengurangi penjualan kopra maka stok kelapa dalam bentuk gelondongan akan berkurang dengan begitu harga akan terdongkrak karena penjualan akan mengarah kepada produk atau barang minimal setengah jadi.

“Sehingga jika petani menjual kelapa dalam bentuk minimal setengah jadi atau VCO selama satu musim (3 bulan) saja maka otomatis industri akan membelinya berapa pun harganya. Jadi pada bulan ke empat harga akan melonjak,” tegas Unggul.

Kemudian, lanjut Unggul, selain dengan mengurangi penjualan kopra gerakan peremajaan pada tanaman kelapa juga menjadi salah satu solusi untuk mengurangi stok ditingkat petani. “Sebab dengan melakukan peremajaan otomatis stok akan berkurang,” harap Unggul.

Lebih dari itu, Unggul mengakui bahwa saat ini barang turunan kelapa yang diproduksi oleh petani melalui koperasi atau kelompok tani banyak diminati. Sebab ada banyak produk turunan dari kelapa baik dari sabut, tempurung, daging dan airnya.

Bahkan saat ini permitaannya tidaklah kecil terutama permitaan dari negara luar. “Jadi sebenarnya permintaan untuk olahan dari kelapa tidaklah kecil, diantaranya permintaan jok yang menggunakan sabut kelapa. Jika semua bagian diolah maka bukan tidak mungkin harga akan meningkat,” papar Unggul.

BERITA TERKAIT

Indonesia Menjadi Negara Maju, AS Keluarkan Kriteria Baru Negara Berkembang

NERACA Jakarta - US Trade Representative (USTR) memperketat kriteria negara berkembang yang berhak mendapatkan pengecualian de minimis dan negligible import…

LPDB Sebut KUD Tani Jaya Jadi Koperasi Percontohan

NERACA Mojokerto - Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Jaya di Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, menjadi contoh bagi koperasi lain di…

Krakatau Steel Siap Restrukturisasi

NERACA Jakarta – Demi mendukung kinerja, PT Krakatau Steel (persero) Tbk melakukan restrukturisasi bisnis, dan diharapkan akan selesai di September…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Impor Sampah Harus Dikaji Ulang

NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Budisatrio Djiwandono meminta agar kegiatan impor sampah plastik untuk digunakan sebagai…

Korporasi Harus Sejahterakan Masyarakat

NERACA Jambi - Pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa aktivitas korporasi tidak mencemari lingkungan sekitar dan juga tidak mengorbankan kesejahteraan…

Pemerintah Kurangi Impor dan Pacu Utilisasi

NERACA Jakarta - Pemerintah bertekad semakin serius untuk membina dan membangun industri baja nasional, baik itu yang berstatus Badan Usaha…