Pemerintah Menaruh Asa Divestasi Saham INCO - Kembangkan Kendaraan Listrik

NERACA

Jakarta – Dukungan pemerintah terhadap PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) untuk mengakuisisi 20% divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mendapatkan respon positif dari pelaku pasar. Sejak kesepakatan transaksi dilakukan kedua belah pihak, kini proses tersebut masih dalam berjalan.

Pemerintah melalui menteri BUMN Erick Thohir memperkirakan proses divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) bisa rampung pada pertengahan tahun ini. Dirinya menilai proses divestasi saham INCO tersebut merupakan bagian yang penting dari rencana pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Apalagi, Presiden Joko Widodo telah menyampaikan bahwa transportasi massal di Ibu Kota baru nantinya akan menggunakan kendaraan listrik.

Baterai kendaraan listrik pun menjadi sesuatu yang sangat penting, apalagi Indonesia merupakan salah satu nikel terbesar di dunia. Nikel merupakan bahan baku dari baterai kendaraan listrik.”Oleh karena itu, akusisi Vale menjadi bagian penting dari rencana strategis. Prosesnya masih berjalan, kita tunggu saja, mungkin maksimal di pertengahan tahun ini sudah ada info yang terbaik," ujarnya beberapa waktu lalu.

Pada awalnya, proses akuisisi saham Vale diperkirakan rampung pada akhir tahun lalu. Namun, Erick tidak bersedia menyebutkan alasan mengapa proses tersebut berjalan lebih lama dari target. Adapun, induk perusahaan tambang BUMN PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) menyiapkan dana sebesar US$500 juta untuk menyerap 20% saham Vale.

Direktur Inalum Ogi Prastomiyono sebelumnya mengatakan perseroan menyiapkan dana senilai US$500 juta atau setara dengan Rp7,048 triliun. Menurutnya, akusisi saham INCO sebesar 20% akan menggunakan dana internal.”Rencana penyerapan divestasi saham INCO sudah kami anggarkan untuk tahun depan. Head of Aggreement pun sudah selesai 11 Oktober lalu. Saat ini ada tiga dokumen yang sedang diproses untuk proses akusisi," katanya.

Direktur Keuangan Vale Indonesia, Bernardus Irmanto pernah bilang, tahun ini perseroan akan fokus pada pengembangan dua proyek smelter di Bahadopi, Sulawesi Tengah untuk rencana pembangunan smelter feronikel. Selanjutnya, Vale Indonesia juga memiliki rencana pembangunan smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Disebutkan, proyek Bahodopi dan Pomalaa disebut akan menghasilkan produk olahan nikel kelas satu. Produk tersebut berbeda dengan nickel matte yang biasa diproduksi Vale Indonesia melalui pabrik di Sorowako, Sulawasi Selatan.

Nickel matte hanya digunakan untuk industri baja anti karat stainless steel. Adapun, nikel kelas satu merupakan bahan baku produk premium seperti baterai listrik untuk electronic vehicle (EV).”Untuk proyek pengembangan, kami fokus untuk melanjutkan pengembangan Pomalaa dan Bahodopi,” ungkapnya.

Adapun per kuartal III/2019, INCO telah merealisasikan capex US$114,5 juta yang digunakan untuk membiayai sejumlah proyek dan belanja modal rutin perseroan sepanjang periode tersebut.”Secara garis besar, penggunaannya pada 2020 adalah untuk membangun kembali salah satu dari empat furnace, implementasi project de-bottlenecking seperti air slag granulation dan mobile screening station, kemudian untuk mine development dan project 2 sustaining lainnya,” katanya.

BERITA TERKAIT

Jaga Kualitas Produksi Tambang - BRMS Kirim Dore Bullion dari Poboya Ke Jakarta

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan bisnis di sektor pertambangan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) terus mengoptimalkan nilai tambah dalam…

Pasca Marubeli Miliki Saham - SILO Kembangkan Potensi Bisnis Kesehatan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan bisnis layanan kesehatan yang dinilai memiliki prospek positif, PT Siloam Internasional Tbk (SILO) terus perluas kerjasama…

Sentimen Virus Corona Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (25/2) sore ditutup melemah dipicu meluasnya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Cambio Lofts, Hunian Premium di Alam Sutera

Potensi pasar properti pada tahun 2020 diyakini lebih baik disbanding dua tahun sebelumnya, hal ini terlihat dari munculnya proyek baru…

Rampungkan Rights Issue - Glencore Akuisisi Saham CITA Rp 1,19 Triliun

NERACA Jakarta – Di tengah melorotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring dengan sentien virus…

Bentuk Manajemen Baru - Saham AISA Dipastikan Tidak Didelisting

NERACA Jakarta – Resmi terbentuknya manajemen baru pasca tersandung masalah hukum hingga berujung suspensi saham yang berkepanjangan, kini manajemen PT…