UCEC Kirim Dosen Belajar Entrepreneurship

NERACA

Sebagai salah satu cara meningkatkan pendidikan entrepreneurship, Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) mengirimkan empat dosen dari berbagai universitas untuk belajar entrepreneurship di Amerika Serikat (AS).

Mereka adalah Michael Nathaniel Kurniawan (Universitas Ciputra), Erik Purnomo (Universitas Ciputra), Desi Arisandi (Universitas Tarumanegara), dan Boy Pasaribu (Universitas Bakrie). Selama enam bulan, keempat dosen dari berbagai latar belakang pendidikan itu akan belajar entrepreneurship melalui program Global Faculty Visitor Program (GFVP). Sebuah program kerja sama antara UCEC dengan yayasan entrepreneurship ternama di AS, Kauffman Foundation.

Pria yang akrab disapa Pak Ci itu menjelaskan, negara lain mengirimkan generasi mudanya untuk dididik menjadi entrepreneur di Kauffman Foundation. Tapi dia punya pemikiran lain. Menurutnya, yang lebih dibutuhkan Indonesia adalah tenaga pendidik yang dapat mencetak ribuan entrepreneur Indonesia di masa depan.

"Karena itu, kita mengirimkan dosen, bukan mahasiswa. Saya harap, para dosen tersebut bisa mencetak generasi entrepreneur Indonesia sekembalinya mereka ke tanah air," kata Ciputra ketika melepas peserta GFVP di Marketing Gallery Ciputra World, Jakarta, kemarin.

Program Director GFVP dari Kauffman Foundation Wendy EF Torrance menjelaskan, GFVP berdurasi enam bulan. Selam 12 minggu pertama, para peserta akan mengikuti berbagai kuliah, seminar, dan kegiatan pendidikan lainnya sebagai tandem dari Global Scholars Programme. Kegiatan tersebut dipusatkan di Kansas City.

Delapan minggu berikutnya, para peserta akan melihat praktik entrepreneurship di berbagai daerah di AS. "Pada periode ini, para peserta juga diberi kesempatan merancang dan mengembangkan ide tugas akhirnya," imbuh Wendy melalui sambungan teleconference.

Deputi Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Agus Muharam menyatakan dukungannya atas program peningkatan kewirausahaan melalui pendidikan di dalam dan luar negeri seperti yang digagas UCEC. Menurutnya, sektor formal kini sudah tidak bisa menampung angkatan kerja yang meningkat.

"Sektor swasta pun tidak cukup menampung semua pengangguran sebagai karyawan. Karena itu perlu adanya perubahan pola pikir dari job seeker ke job creator," ujar Agus.

Para alumni GFVP dari dua angkatan sebelumnya kini telah kembali ke kampus masing-masing dan mengembangkan pendidikan entrepreneurship di kampus mereka. Contohnya, Universitas Tarumanegara kini memiliki program magister dalam bidang entrepreneurship pertama di Indonesia. Dosen Universitas Negeri Semarang telah merancang dan mengembangkan program pendidikan entrepreneurship untuk guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Di Medan, Universitas Sumatra Utara (USU) kini mengelola Center of Entrepreneurship yang menjadi pelaku utama pengembangan dunia entrepreneurship di Sumatra Utara. (agus/dbs)

02

Related posts