Bendung “Tsunami” Barang Impor, Kemenperin Restrukturisasi Industri

NERACA

Jakarta - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya meningkatkan kinerja industri dalam negeri untuk membendung serbuan produk impor yang makin merajalela di pasar domestik. Di antaranya dengan melakukan restrukturisasi industri, seperti tekstil, alas kaki, gula dan pupuk, pemenuhan kecukupan bahan baku, peningkatan SDM, perbaikan pelayanan publik serta melakukan pengamanan pasar melalui SNI wajib untuk produk tertentu, penerapan safeguard dan antidumping.

Upaya restrukturisasi ini, menurut Dirjen Industri Berbasis Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto, untuk membentengi pasar lokal dari gempuran “tsunami” barang impor. Selain itu langkah tersebut sebagai strategi untuk meningkatkan kinerja industri dalam negeri. Jika konsep ini diterapkan, hasilnya dikalim akan sangat berarti bagi masyarakat. Disebutkan, saat ini industri non migas Indonesia tumbuh 6,83%, diatas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,4%. Pencapaian itu terhitung terbesar sejak 2005.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah dengan perkuatan pasar dalam negeri dari gempuran pasar lokal melalui program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) serta melalui penerapan regulasi dankampanye cinta produk dalam negeri,” kata Panggah Susanto saat dihubungi Neraca, Rabu (11/4).

Saat ini Kemenperin tengah menggalakkan penggunaan sumberdaya alam untuk dimaksimalkan menjadi produk bernilai tinggi sebagai program hilirisasi. Program tersebut menggambarkan bagaimana sumberdaya alam bisa diproses di dalam negeri sehingga menghasilkan produk bernilai tinggi.

Ini juga didukung adanya penerapan undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) yang dengan menyatakan bahwa pada tahun 2014, ekspor produk mentah tidak diperbolehkan atau dilarang.

Sebanyak 21 perusahaan sepatu nasional akan mendapatkan dana bantuan pemerintah dalam program restrukturisasi permesinan industri sepatu nasional sekitar Rp 17 miliar. Dana restrukturisasi permesinan diberikan untuk meningkatkan daya saing produk sepatu nasional di pasar domestik maupun ekspor.

Seleksi Penerima

Hal senada juga di ungkapkan Budi Irmawan, Direktur Industri Aneka Kementerian Perindustrian. Ia menyatakan pemerintah telah menyeleksi perusahaan-perusahaan yang berhak mendapatkan bantuan program restrukturisasi mesin sepatu. Jumlah perusahaan yang mengajukan bantuan awalnya sebanyak 26 perusahaan. “Pemerintah menyetujui pengajuan 21 perusahaan dengan nilai anggaran restrukturisasi permesinan Rp 17 miliar dari total pengajuan Rp 26 miliar,” ujar Budi.

Budi menyebutkan plafon anggaran pemerintah untuk program restrukturisasi permesinan pada tahun ini berkisar Rp 18 miliar. Pada tahun 2010 pemerintah menganggarkan dana restrukturisasi mesin di sektor ini sebesar Rp 34 miliar. Namun, penyerapan anggaran dari produsen hanya Rp 25,5 miliar atau 75% pada tahun lalu.

“Tujuan pemerintah memberikan bantuan dana restrukturisasi adalah agar produsen sepatu meremajakan mesin produksi. 21 perusahaan sepatu yang akan memperoleh bantuan pemerintah telah menginvestasikan sekitar Rp 200 miliar untuk restrukturisasi mesin. Pemerintah memberi bantuan berupa diskon harga mesin dan subsidi bunga kredit untuk mendukung investasi restrukturisasi mesin industri sepatu nasional,” bebernya.

Strategi restrukturisasi mesin akan meningkatkan daya saing industri sepatu nasional dalam bersaing dengan produk impor. Saat ini produk sepatu impor terutama dari China mulai membanjiri pasar domestik. “Produsen dalam negeri sulit bersaing dengan kondisi permesinan yang sudah tua karena membuat biaya produksi tidak efisien. Produsen dalam negeri sulit meraih pertumbuhan penjualan di pasar dalam negeri. Program restrukturisasi mesin telah ikut menyumbang terhadap kenaikan ekspor produk alas kaki di dalam negeri. Dengan mesin-mesin baru ini, industri alas kaki di Indonesia diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pasar, baik lokal maupun ekspor,” ungkap Budi.

Nilai impor alas kaki hingga akhir 2011 mencapai US$ 107,93 juta, meningkat 27,7% dibanding periode yang sama tahun lalu US$ 84,49 juta. Peningkatan tersebut didorong kenaikan permintaan di dalam negeri.

Djimanto, Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Persepatuan Indonesia (Apresindo), mengatakan nilai tersebut merupakan nilai impor sepatu, sandal, serta impor komponen pembuatan alas kaki. “Peningkatan impor untuk memenuhi penambahan kapasitas produksi alas kaki tahun ini,” kata Djimanto.

Saat ini 60% komponen pembuatan alas kaki masih diimpor, khususnya dari China . Komponen impor tersebut terdiri dari 77 jenis, antara lain kulit, sol, gesper, aksesori, pengait, dan lain-lain. Djimanto menjelaskan kenaikan permintaan sepatu impor juga karena harga jual yang lebih murah hingga 10% dibanding produk lokal. “Harga yang lebih murah tentu sesuai dengan daya beli masyarakat saat ini,” katanya.

Asosiasi memperkirakan pangsa pasar sepatu impor pada tahun ini mencapai 50%, meningkat 10% dibanding tahun lalu. Sepatu impor yang membanjiri pasar sepatu domestik adalah sepatu impor berkualitas rendah. Sementara untuk sepatu kualitas menengah ke atas, produk lokal lebih menguasai pangsa pasar karena kualitas yang lebih baik daripada produk impor, khususnya dari China. Produsen sepatu lokal tidak menaikkan harga jual pada tahun ini untuk meningkatkan daya saing terhadap produk impor.

“Asosiasi memproyeksikan dengan harga jual yang stabil dan didukung kualitas yang lebih baik dibanding produk impor, ekspor sepatu lokal akan meningkat 15% menjadi US$ 2,5 miliar pada tahun ini dari 2010. Kenaikan tersebut juga didukung investasi perusahaan sepatu multinasional, dengan membangun pabrik di Indonesia,” ujar Djimanto.

Pada periode Januari hingga September 2011, ekspor sepatu nasional sudah mencapai US$ 2,5 miliar. Nilai ekspor itu sudah melebihi total ekspor sepatu tahun lalu yang mencapai US$ 2,3 miliar. Tujuan utama ekspor sepatu Indonesia adalah Uni Eropa sekitar 44% dan Amerika Serikat 30% dari total nilai ekspor.

Related posts