Fragmen Sejarah Kampung Akuarium yang Terlupakan

Kampung Akuarium merupakan sebuah kawasan seluas 10.384 meter persegi yang terletak di RT 1 dan RT 12 di RW 004, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Tempat ini hanya ditandai dengan papan nama kecil, terpampang kurang jelas saat masuk kawasan itu. Sebuah lapangan kosong yang cukup luas turut menjadi penanda, jika lokasi pernah menjadi pemukiman padat penduduk.

Tercatat puluhan shelter atau rumah tinggal sementara dibangun bermodel huruf U, dibagian sisi Utara, Timur, dan Barat dari Kampung Akuarium. Mengutip Antara, Senin (14/10), laman Oseanografi LIPI mencatat sejarah Kampung Akuarium berawal dari 10 Januari 1898.

Saat itu, Dr. J. C. Koningsberger diangkat menjadi kepala laboratorium Zoologi Pertanian bagian dari Kebun Raya Bogor milik pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Koningsberger mempunyai perhatian yang sangat luas, tidak saja pada fauna darat tetapi juga pada fauna laut. Penelitian tentang fauna laut kala itu sama sekali belum terjamah.

Ia menemukan lokasi tepat dan cocok untuk mendirikan laboratorium di Teluk Jakarta pada September 1904. Sebidang tanah itu terletak persis di sebelah utara Pasar Ikan, bagian paling selatan Oude Haven Kanal sekarang Pelabuhan Sunda Kelapa dan merupakan muara Sungai Ciliwung.

Pembangunan laboratorium di kawasan Pasar Ikan itu pun dimulai tahun 1904 dan selesai pada Desember 1905. Laboratorium yang dibangun itu merupakan gedung semi-permanen disebut Visscherij Laboratorium te Batavia atau Laboratorium Perikanan di Batavia.

Dalam perkembangannya laboratorium itu lebih dikenal Visscherij Station te Batavia atau Stasiun Perikanan Batavia. Perkembangan selanjutnya di tahun 1922, dimulainya pembangunan laboratorium baru yang lebih permanen. Disamping gedung laboratorium dibangun pula gedung akuarium air laut yang besar.

Akuarium itu dibuka untuk masyarakat umum pada tanggal 12 Desember 1923, sebagai akuarium pertama di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara. Hingga tahun 1960-an, lokasi itu dikenal sebagai Akuarium Pasar Ikan menjadi tujuan wisata yang yang terkenal di Jakarta. Para pengunjung selalu membludak pada hari libur dan lebaran.

Pada pertengahan tahun 1970-an Pemerintah DKI Jakarta menutup kawasan dan akuarium di Pasar Ikan, dikarenakan rencana pengembangan perluasan kawasan Museum Bahari. Laboratorium kelautan lalu dipindahkan ke kawasan Ancol yang saat ini menjadi Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Saat itu pembangunan di Pasar Ikan tidak jelas dan dan terkatung-katung, hingga seluruh kawasan bekas Akuarium itu kemudian diduduki oleh penduduk dan berkembang menjadi kampung dengan penghunian liar yang dikenal sebagai Kampung Akuarium.

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (RDTR dan PZ) Provinsi DKI Jakarta menjelaskan jika Kampung Akuarium masuk ke dalam zona merah atau zona pemerintah daerah dengan rincian kawasan pemugaran Kota Tua/Sunda Kelapa.

Walau termasuk kawasan pemugaran Kota Tua/Sunda Kelapa, kawasan tersebut dapat dibangun rumah susun umum, asrama, rumah dinas, rumah ibadah, pasar tradisional, pasar induk, pasar/penyaluran grosir, permakaman, SPBU dan SPBG, ruang pertemuan, sarana olahraga dan sendi, sarana transportasi serta sarana lainnya, namun dengan syarat yang harus dipenuhi.

Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Saefullah, menegaskan status daerah itu masuk ke dalam zona merah, artinya boleh digunakan untuk sarana pemerintah dan dapat juga digunakan untuk kepentingan masyarakat. Pemukiman padat Kampung Akuarium digusur pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada akhir tahun 2016 lalu saat kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaya Purnama.

Alasan penggusuran karena kampung itu tidak sesuai peruntukan ruang kota sekaligus untuk revitalisasi cagar budaya. Pemerintah DKI mengklaim warga di Kampung Akuarium berada di atas lahan yang berstatus milik PD Pasar Jaya.

BERITA TERKAIT

Kota Tua Peninggalan Belanda di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara bekas jajahan Belanda. Setelah Belanda terusir dan Indonesia merdeka, banyak bangunan dan situs peninggalan sejarah…

Masjid Apung Ancol Menambah Deretan Masjid Ikonik di Jakarta

Wali Kota Jakarta Utara Sigit Wijatmoko berharap Masjid Apung Ancol dapat menjadi ikon wisata baru di Jakarta Utara dan Provinsi…

Air Terjun Benang Kelambu, Tempat Mandi Bidadari di Rinjani

Jika ingin merasakan "kehadiran" bidadari, silakan mampir ke Air Terjun Benang Kelambu di kaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Kota Tua Peninggalan Belanda di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara bekas jajahan Belanda. Setelah Belanda terusir dan Indonesia merdeka, banyak bangunan dan situs peninggalan sejarah…

Masjid Apung Ancol Menambah Deretan Masjid Ikonik di Jakarta

Wali Kota Jakarta Utara Sigit Wijatmoko berharap Masjid Apung Ancol dapat menjadi ikon wisata baru di Jakarta Utara dan Provinsi…

Air Terjun Benang Kelambu, Tempat Mandi Bidadari di Rinjani

Jika ingin merasakan "kehadiran" bidadari, silakan mampir ke Air Terjun Benang Kelambu di kaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat…