Pasar Modal Minim Analis Keuangan CFA - Indonesia Kalah dari Singapura

NERACA

Jakarta – Besarnya pertumbuhan investor pasar modal dengan beragam macam produk investasi, rupanya tidak sepadan dengan pertumbuhan jumlah analis keuangan bersertifikat. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan terhadap kesehatan industri pasar modal, khususnya bagi investor untuk mendapatkan kajian dana analis keuangan yang dipercaya.

Presiden Chatered Financial Analyst (CFA) Society Indonesia, Pahala Mansury mengatakan, industri pasar modal Indonesia masih membutuhkan ribuan analis keuangan bersertifikat. Pasalnya, hingga saat ini hanya ada 261 pemegang CFA.”Angka ini masih 1/8 nya dibandingkan dengan Singapura yang sudah memiliki 3.500 anggota, padahal total nilai kapitalisasi pasar modal di Indonesia empat kali lebih besar,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dirinya menambahkan, perlu pemahaman dan sosialisasi kepada pelaku pasar modal akan pentingnya kehadiran analis keuangan berserfikat. Salah satu cara yang akan dilakukan adalah mengelar konferensi internasional perdana dengan tajuk “The Future of Finance: AI & Data” pada 20 November 2019 di Financial Hall, SCBD Jakarta. Disampaikannya, topik tersebut akan membahas berbagai teknologi termasuk AI (Artificial Intelligence) dan bagaimana dataanalyticsini akan membantu pengembangan dunia keuangan di Indonesia, khususnya di pasar modal.

Kemudian bagaimana pengembanganfintech(financial techonology) di pasar modal maupun di dunia terhadap keuangan Indonesia, serta bagaimana pengaruh ekonomi digital tersebut terhadap Indonesia. Menurutnya, Indonesia merupakan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara sehingga ia berharap konferensi ini akan meningkatkanawarenessmasyarakat mengenai pentingnya sertifikasi profesional pasar modal.

Seperti diketahui, di Indonesia baru ada sekitar 261 orang yang telah memiliki sertifikat CFA."Ketikaawareness-nya sudah tinggi maka jumlah para profesional yang memiliki sertifikat akan meningkat. Kita juga kerja sama dengan Teach Me yang menerbitkanguide bookuntukmengikuti ujian sertifikasi CFA," kata Pahala.

Dirinya pun menyebutkan, ada beberapa kendala yang mengakibatkan analis keuangan sulit mendapatkan sertifikat SFA. Dimana di antaranya karena biaya yang terbilang mahal dan lamanya waktu yang diperlukan untuk mengikuti persiapan tes mendapatkan sertifikat. Untuk mendapatkan sertifikat CFA misalnya, analis keuangan harus membayar 11.000 dollar AS atau sekitar Rp 15 juta dan membutuhkan persiapan sekitar 500 sampai 600 jam.

Sementara Executive Director CFA Society Indonesia, Annastasha Suraji pernah bilang, biaya tersebut harus dibayarkan di muka sebelum mengikuti tes. "Mungkin hal ini yang membuat orang berpikir ulang, sudah keluarkan uang belasan juta tapi takutnya tidak lulus ujian untuk mendapatkan sertifkat,"ujarnya.

Asal tahu saja, bagi praktisi keuangan, CFA ini dianggap lebih penting dibandingkan gelar MBA (Master of Business Administration).CFA adalah sertifikat profesi sebagai analis yang dikeluarkan CFA Institute, Amerika Serikat. Sertifikat ini khusus diperuntukan bagi para profesional yang bekerja di bidang keuangan. Para pemegang sertifikat CFA, kemampuannya diakui setara dengan praktisi keuangan manca negara.

BERITA TERKAIT

Targetkan Pasar Milenial - PP Urban Garap Proyek Hunian Urbantown

NERACA Jakarta – Menjawab kebutuhan hunian yang terus meningkat dan juga membidik potensi pasar dari kalangan milenial, PT PP Urban…

Bisnis Otomotif Melempem - Laba Bersih Bintraco Dharma Ikut Tertekan

NERACA Jakarta – Lesunya industri otomotif dalam negeri berimbas pada pencapaian kinerja keuangan PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk…

Penjualan Mobil Astra International Turun 7,6%

NERACA Jakarta – Industri otomotif dalam negeri masih melandai dan hal tersebut terlihat dari penjualan mobil PT Astra International Tbk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sikapi Kasus Hanson International - Tantangan Menjaga Kepercayaan Investor Yang Sehat

Di tengah geliatnya pertumbuhan industri pasar modal, dari segi nilai transaksi, jumlah investor lokal dan produk investasi yang ditawarkan, rupanya…

Saham DEAL Masuk Dalam Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengawasi perdagangan saham PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL) karena telah terjadi…

WINS Raih Kontrak Sewa Kapal US$ 40 Juta

NERACA Jakarta – Di penghujung akhir tahun 2019, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) mengantongi kontrak penyewaan dua unit kapal…