Regulator Cari Solusi Permanen Skema Tarif Jasa Penerbangan - Dunia Usaha

NERACA

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian sedang mencari solusi mengenai skema pentarifan di industri penerbangan. Penerbangan murah dimaksud merupakan skema diskon untuk penerbangan berbiaya hemat (LCC).

"Intinya adalah kita mencari solusi yang menyeluruh. Kan yang penerbangan murah itu hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, itu untuk sementara saja," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sebagaimana disalin dari Antara.

Sebagaimana telah diwartakan, penerbangan murah dimaksud merupakan skema diskon untuk penerbangan berbiaya hemat (LCC). Skema tersebut berlaku di hari-hari tertentu, yakni Selasa, Kamis dan Sabtu pada pukul 10.00 sampai pukul 14.00, di mana maskapai LCC harus memberikan potongan harga sebesar 50 persen dari tarif batas atas.

Saat ini, kata Darmin, Kemenko Perekonomian bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih terus memantau pelaksanaan diskon tarif 50 persen oleh maskapai pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. "Sekarang masih efektif. Tentunya perhubungan (Kemenhub) punya record," ucapnya.

Secara terpisah, Menteri Perhubungan Budi (Menhub) Karya Sumadi mengharapkan adanya ekulibrium baru harga tiket pesawat setelah polemik adanya kenaikan serta penurunan tiket sejak akhir 2018.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan tarif batas atas dan tarif batas bawah yang dinilai akan menciptakan ekulibrium baru serta lebih maju dari negara lain. "Mekanisme pentarifan lain negara berlaku hukum pasar, kita sudah maju dengan tetapkan tarif batas atas dan tarif batas bawah. Akan terjadi keseimbangan baik jika maskapai diperhatikan," kata Budi Karya. Namun, lanjut dia, saat ini gejolak harga tiket pesawat masih dirasakan, karena itu pihaknya akan melakukan penelusuran terhadap struktur biaya operasional maskapai.

Sebelumnya, PT Angkasa Pura I tengah mematangkan insentif untuk maskapai terkait upaya untuk membantu menurunkan tiket pesawat. Direktur Angkasa Pura I Faik Fahmi usai penandatanganan nota kesepahaman dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengatakan insentif tersebut bisa berupa pemotongan harga atau diskon. “Teknisnya kemarin disepakati mungkin nanti dalam bentuk pemberian semacam pemotongan atau cashback yang kita sepakati. Prinsipnya kita akan berikan,” katanya.

Sementara itu, untuk maskapai penerbangan berbiaya murah sudah disepakati pemberian diskon hingga 50 persen dari tarif batas atas (TBA) untuk Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB. “Di penerbangan sesuai ketentuan itu kami berikan insentif khusus dalam bentuk uang yang nanti mengkompensasi apa yang dikeluarkan maskapai,” katanya.

Ia mengaku mekanisme pemberian insentif itu masih didikusikan, termasuk dengan operator bandara pesaing, yakni PT Angkasa Pura II. “Ini masih dalam pembahasan mekanisme. Tapi, prinsipnya akan diberikan. Masalah teknisnya saja bisa diserahkan ke masing-masing institusi,” katanya.

Meskipun insentif dari sisi biaya di bandara tidak begitu signifikan, yakni hanya di bawah satu persen dari biaya operasional maskapai, Faik mengaku pihaknya sepakat untuk menciptakan bisnis penerbangan yang sehat. “Ini lebih kepada komitmen kami untuk mendukung. Kita kan ingin ciptakan industri aviasi yang sehat, jadi kami sepakat dukung, tapi proporsional,” katanya.

Salah satu maskapai LCC yang sudah menerapkan, yakni Citilink Indonesia di 62 penerbangan per hari pada Selasa, Kamis, dan Sabtu) dengan total saat ini 3.348 kursi.

Adapun rute-rute yang mengalami penyesuaian harga tiket diantaranya adalah rute Jakarta –Medan pp, Jakarta – Yogyakarta pp, Makassar – Surabaya pp, Jakarta – Denpasar pp, Balikpapan – Denpasar pp, Surabaya – Banjarmasin pp, Jakarta – Solo pp, Jakarta – Malang pp, Batam – Pekanbaru pp, Jakarta – Pangkal Pinang pp, Jakarta – Bengkulu, Kertajati – Pekanbaru, Medan – Yogyakarta dan berbagai rute lainnya.

Maskapai berbiaya hemat Citilink Indonesia mengaku optimistis mengantongi okupansi mencapai di atas 60 persen meskipun ada kewajiban dari pemerintah untuk menurunkan tarif batas atas sebesar 50 persen.

Vice President Cargo and Ancillary Harismawan Wahyuadi dalam soft lauching “Dining Experience” di Jakarta, Rabu, menjelaskan dengan turunnya harga, maka diharapkan jumlah penumpang akan naik, otomatis tingkat keterisian atau okupansi akan naik. “Nanti akan ‘balance’ (seimbang) sendiri begitu harga turun ‘kan hukum ‘supply-demand’,” katanya.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Perlu Hubungkan Riset Mobil Listrik di Kampus dengan Industri

NERACA Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan siap menghubungkan riset kendaraan bertenaga listrik yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada…

Penyerapan Beras Tahun Ini Diakui Tak Capai Target

NERACA Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan bahwa realisasi penyerapan beras petani hingga akhir tahun ini tidak…

INDI 4.0 Diharapkan Jadi Wadah Bangun Sinergi dan Kolaborasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian berharap Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) dapat menjadi wadah dalam membangun sinergi dan…