Mengolah Sampah Menjadi Energi Alternatif

NERACA

Salah satu energi yang dihasilkan oleh sisa pembuangan manusia adalah energi sampah. Energi yang dihasilkan atau didapatkan melalui pengolahan sampah, baik sampah organik maupun sampah non organik. Energi yang dihasilkan pun bila dikelola dengan baik bukan mustahil dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta, Indonesia tergolong sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia. Jumlah penduduk yang banyak ini mengakibatkan pemerintah Indonesia harus mampu menyediakan pasokan listrik untuk seluruh penduduk di Indonesia. Saat ini, listrik di Indonesia diperkirakan menjangkau 65% penduduk Indonesia dengan jumlah pasokan listrik mencapai 26 ribu MW.

Kondisi ini membuat PLN sebagai perusahaan penyedia listrik di Indonesia menghadapi masalah dalam penyediaan karena seringkali mengalami kekurangan pasokan listrik. Oleh karena itu, pemerintah menggalakkan program peningkatan kapasitas listrik di Indonesia sebesar 10 ribu MW. Pada program ini, pemerintah mengajak seluruh pihak yang concern di bidang energi untuk terlibat dan ikut serta dalam pengadaan listrik di Indonesia.

Untuk menyukseskan program listrik 10 ribu MW, pemerintah turut mendukung upaya untuk menyediakan energi listrik melalui sumber energi alternatif. Berbagai sumber energi alternatif seperti tenaga mikrohidro (PLTMH), sampah (PLTSa), sel surya, biogas, geothermal, sampai nuklir mulai dikembangkan dan diterapkan pada banyak pembangkit listrik. Saat ini, program tersebut baru berhasil direalisasikan sekitar 3 ribu MW (30%). Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah agar dapat merealisasikannya untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia.

Selain listrik, sampah juga merupakan permasalahan pelik yang menimpa Indonesia. Pada tahun 2000, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat Indonesia telah mencapai 1 kg per orang per hari. Angka ini diperkirakan terus bertambah dan mencapai 2,1 kg per orang per hari pada tahun 2020 atau setara dengan 500 juta ton sampah per hari.

Dampak negatif dari penumpukan sampah ini adalah munculnya gas metana yang jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bahaya. Gas metana memiliki sifat mudah meledak dan mempunyai 21 kali daya rusak ozon dari pada gas karbon dioksida. Selain itu sampah yang menumpuk menyebabkan bau yang menyengat yang menggangu kesehatan penduduk sekitar tempat pengolahan sampah (TPA).

Pengolahan sampah menjadi energi listrik sudah lazim di banyak negara, tetapi di Indonesia fasilitas gas dari TPA (Tempat Penampungan Akhir) masih relatif baru. Pada saat ini proyek untuk menghasilkan energi listrik dari sampah sedang dibangun di Bali. Investor asal Inggris, Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI), bahkan akan mendirikan instalasi pengelolaan sampah terpadu sebagai penghasil listrik untuk Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan. Proyek ini akan mengolah sampah sebanyak 500 ton per hari dan menhasilkan listrik 5-8 megawatt.

Teknologi yang digunakan adalah teknologi landfill. Prosesnya, menjadikan biogas yang didapat dari sampah melalui gas engine dikonservasikan menjadi energi listrik.

Mula-mula seluruh sampah ditimbun dengan tanah, lalu lewat pipa yang dipasang di dalamnya, gas methan ditangkap dan digunakan untuk mengeringkan sampah. Dengan demikian tumpukan sampah itu akan mengering.

Cairan yang keluar selama proses itu ditampung dan dikelola dalam instalasi khusus atau water treatment supaya tidak menimbulkan pencemaran. Untuk sampah yang baru, prosesnya dipilah dulu. Sampah basah seperti kayu, daun, kertas dicacah dulu, kemudian dimasukkan dalam digester (pengering) yang nantinya menghasilkan biogas dan kompos.

Teknologi ini disebut Anaerobic Digestion. Sedangkan sampah kering semacam plastik akan diolah dengan teknologi pirolisis dan gassfication, yakni dengan pemanasan tinggi tanpa oksigen yang menhasilkan gas dan digunakan untuk menggerakkan turbin.

Pemprov DKI juga berencana menerapkan system waste to energy (WTE), yang akan dibangun di empat lokasi; Marunda, Pulo Gebang, Ragunan dan Duri Kosambi. Dengan ini diharapkan sampah di Bantar Gebang bisa berkurang dari 6.250 ton per hari menjadi 1000 ton.

DKI sendiri belum memiliki tempat pembuangan akhir (TPA). Hingga kini pemda setempat masih mengandalkan kota-kota penyangga untuk mengelola sampah. Menurut data dinas kebersihan DKI, per hari sedikitnya 27.966 kubik atau 6.663 ton sampah masyarakat ibukota harus dikirim ke TPA kota penyangga seperti Bekasi.

Nah, dengan pemanfaatan teknologi pengeloalan sampah secara modern ini, pemerintah juga berpeluang untuk menjawab tantangan dibidang penyediaan sumber energi serta mendukung target pemerintah dibidang energi sesuai dengan kebiijakan energi nasional.

Related posts