XL Bagi Dividen Rp 1,1 Triliun - Posisi Utang Terjaga

NERACA

Jakarta - Hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT XL Axiata Tbk (EXCL) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp 1,107 triliun atau 35% dari laba bersih tahun buku 2011 yang mencapai Rp 2,8 triliun. Dividen yang akan diterima setiap pemegang saham senilai Rp 130 per lembar saham.

Direktur Utama EXCL, Hasnul Suhaimi mengatakan, selain bagi dividen, sisa laba akan digunakan sebagai cadangan umum sebagaimana diisyaratkan UU No. 40 Tahun 2007 sebesar Rp 100 juta atau 0,004% dari laba bersih 2011. “Sisa laba bersih sebesar Rp 1,722 triliun akan dicatatkan dalam saldo laba untuk mendukung pengembangan usaha kami,” ujar dia di Jakarta, Kamis (29/3).

Sepanjang 2011, pendapatan EXCL naik tipis tujuh persen menjadi Rp 18,92 triliun. Hal ini didorong peningkatan layanan data sekitar 61%. Pendapatan layanan value added service (VAS) tercatat turun 57% pada triwulan keempat tahun lalu, yang dipengaruhi adanya Instruksi Pemerintah mengenai Layanan Jasa Pesan Premium.

Pengguna layanan data perseroan, lanjut Hasnul, mencapai 25,5 juta, atau 55% dari total pelanggan. Sementara trafik penggunaan data tumbuh 295% dari 2,7 petabyte di 2010 menjadi 10,6 petabyte pada 2011.

Hasnul juga menyampaikan bahwa perseroan akan menjaga posisi utang di kisaran Rp 11 triliun hingga akhir tahun ini. "Saat ini, posisi utang kami Rp 10,5 triliun dan akhir 2012 akan kami jaga di posisi Rp 11 triliun," tambahnya.

Pernyataan Hasnul ini didukung Direktur Keuangan EXCL, Mohamed Adlan bin Admad Tajudin. Menurut dia, angka utang saat ini belum dihitung dari utang yang baru saja didapat perseroan dari PT Bank BCA Tbk (BBCA) senilai Rp 3 triliun. Adlan menyebutkan, utang baru tersebut akan digunakan untuk pembayaran utang obligasi EXCL.

Sedangkan, utang obligasi Excelcom II akan jatuh tempo pada April tahun ini dengan total nilai mencapai Rp 1,5 triliun. Bunga obligasi EXCL tersebut mencapai 10,35%. "Semuanya akan dilunasi semuanya dari pinjaman tersebut," ujar Adlan.

Biayai capex

Selain itu, sebagian dana pinjaman juga dialokasikan untuk membiayai belanja modal atau capital expenditure 2012 yang mencapai Rp 7 triliun hingga Rp 8 triliun. Tak hanya BBCA, belanja modal juga akan didanai dari pinjaman perbankan lainnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), sebesar Rp 5,5 triliun.

Perjanjian pinjaman dilakukan dalam dua tahap. Pertama, EXCL memperoleh pinjaman Rp 2,5 triliun pada 17 September 2010 lalu. Pinjaman ini dikenakan Jakarta Inter Bank Offered Rate (JIBOR) tiga bulan plus 0,8%-1% dan akan jatuh tempo pada September 2014 mendatang.

Pinjaman kedua pada 20 Oktober 2011 senilai Rp 3 triliun. Fasilitas pinjaman ini dikenakan JIBOR tiga bulan plus margin 1%. EXCL mencicil utang tersebut setiap tahun hingga Oktober 2014. Per akhir Desember 2011, jumlah utang EXCL kepada BMRI tercatat Rp 4,8 triliun.

Selain utang obligasi, EXCL sebenarnya masih memiliki utang jatuh tempo lainnya kepada Export kredit namnden (EKN) dari Swedia. Perseroan menanggung dua fasilitas pinjaman, yaitu sebesar US$ 213,95 juta dan US$ 123,58 juta. Kedua pinjaman tersebut jatuh tempo setiap enam bulan sekali. Jumlah utang EXCL kepada EKN per Desember 2011 sebesar US$ 192,87 juta.

Perseroan yang saham mayoritasnya dimiliki Malaysia ini sudah memiliki blenket yang berasal dari stakeholders senilai Rp 19 triliun. Namun tahun lalu, perseroan kembali meminta persetujuan blenket senilai Rp 10 triliun.

Related posts