Pefindo Taksir Obligasi Capai Rp 135 Triliun - Marak di Semester Kedua

NERACA

Jakarta – Memasuki semester kedua tahun ini, banyak sentimen positif yang bakal menjadi pemicu tren pasar obligasi kembali marak. Selain pemilu presiden yang berjalan damai ada juga rencana Bank Indonesia (BI) yang bakal menurunkan acuan suku bunga menjadi faktor menggeliatnya pasar obligasi dalam negeri.

Oleh karena itu, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan pada semester dua akan ramai penerbitan surat utang atau obligasi yang akan dilakukan oleh korporasi. Penerbitan obligasi di paruh kedua tahun ini diperkirakan akan mencapai Rp80 triliun,”Kita perkirakan sampai akhir tahun sama dengan 2018 sebesar Rp 135 triliun. Untuk tahun ini, first semester rendah karena suku bunga tinggi, apalagi kondisi politik yang masih berlanjut sehingga membuat recover belum optimal. Kita harapkan second semester ini akan membaik dan jauh lebih baik,“kata Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra di Jakarta, Selasa (16/7).

Berdasarkan data Pefindo, sampai dengan 30 Juni 2019 penerbitan obligasi korporaai sebesar Rp 52,5 triliun. Penerbitan obligasi pada semester I 2019 memang masih terbilang lesu. Menurutnya, kondisi tahun ini berbalik dengan tahun lalu. Pada tahun ini, jelasnya, memang semester pertama melambat, tetapi pada semester kedua diperkirakan penerbitan obligasi bakal ramai."Jadi trennya tahun lalu first semester besar, karena tingkat suku bunga rendah, setelah kenaikan suku bunga agak menurun itu untuk tahun lalu,"ungkapnya.

Sementara Ekonom Pefindo, Fikri C Permana memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur pekan ini. Disampaikannya, BI saat ini sudah memiliki ruang untuk adanya penurunan tingkat suku bunga saat ini. Apalagi Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) menunjukkan kemungkinan menurunkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate).

Dia menyebutkan, BI diperkirakan akan mendahului The Fed (ahead the curve) dan hal ini sudah diperkirakan (price in) oleh pasar. Jika tak terjadi penurunan suku bunga maka akan terjadi volatilitas di pasar. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell sebelumnya menyampaikan testimoni terkait kebijakan moneter semi tahunan AS berturut-turut di hadapan Komite Jasa Perbankan DPR dan Komite Perbankan Senat terkait gambaran proyeksi terkini.

Salah satu hal yang disampaikannya adalah bahwa The Fed serius mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga acuan.”Saya rasa kolega-kolega di FOMC (Federal Open Market Committee, komite pengambil kebijakan The Fed) sampai pada pandangan bahwa sudah cukup layak untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif,"ujarnya.

Kata-kata sakti Powel dalam dua hari paparan tersebut jelas mengindikasikan Bank Sentral paling kuat di dunia tersebut siap menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

BERITA TERKAIT

Waspadai Dampak Sistemik - BEI Terus Pantau Reksadana Gagal Bayar

NERACA Jakarta –Guna memberikan kepastian hukum dan perlindungan investor terhadap produk investasi reksadana yang gagal bayar, PT Bursa Efek Indonesia…

Saham Perdana IFSH Dibuka Melesat 47,73%

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) pada Kamis (5/12) dibuka menguat tajam…

Raup Bisnis Daur Ulang Sampah Plastik - Coca Cola Inisiasi Packaging Recovery Organization

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam mengurangi sampah plastik, produsen minuman kemasan Coca Cola Indonesia sangat aktif dalam…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Salurkan KPR Rp 300 Triliun - BTN Telah Biayai 5 Juta Masyarakat Indonesia

Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) KPR ke 43 yang jatuh pada tanggal 10 Desember mendatang, PT Bank Tabungan Negara (Persero)…

Geliat Bisnis Jalan Tol - WTR Beri Pinjaman CCT Rp 206,57 Miliar

NERACA Jakarta- Dukung pengembangan bisnis di jalan tol, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road…

CJ CGV Restrukturisasi Saham di Graha Layar

NERACA Jakarta - CJ CGV Co Ltd merestrukturisasi kepemilikan sahamnya pada PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ). Perusahaan bioskop asal…