KKP Pacu Budidaya Udang Vaname Berkelanjutan Berbasis Klaster

NERACA

Jakarta – Buol – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto dalam acara “workshop pengembangan klaster budidaya perikanan kerjasama utara-utara” yang dilaksanakan oleh Badan Kerjasama Utara Utara (BKSU) di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pekan lalu mengatakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendukung penuh terbangunnya kawasan perikanan budidaya pada wilayah kerjasama kabupaten yang secara geografis berada di utara pulau Sulawesi tersebut.

Sebagai informasi, BKSU sendiri merupakan wadah kerjasama kabupaten yang berada di kawasan utara Sulawesi, saat ini beranggotakan 4 kabupaten yakni Buol Provinsi Sulawesi Tengah, Gorontalo Utara dan Bone Bolango Provinsi Gorontalo serta Bolaang Mongondow Utara Provinsi Sulawesi Utara. Ketua badan kerjasama ini bergiliran di antara anggotanya, saat ini Bupati Buol bertindak sebagai ketua yang sebelumnya diketuai Bupati Bone Bolango.

Kerjasama utara utara bertujuan mendorong percepatan pembangunan kawasan utara Sulawesi dengan prinsip saling membutuhkan, saling mendukung, saling memperkuat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Serta guna mewujudkan keempat daerah anggotanya menjadi kawasan strategis nasional perbatasan negara aspek ekonomi wilayah.

Tiga program unggulan BKSU yakni pengembangan sapi potong, budidaya udang vaname, dan pariwisata. Pemilihan program dan komoditas didasarkan pada kesamaan potensi dan komoditas unggulan keempat kabupaten anggota kerjasama utara utara tersebut.

Menanggapi program BKSU tersebut, Slamet menyampaikan bahwa salah satu konsep pengembangan kawasan perikanan budidaya khususnya udang vaname yang tengah gencar dilakukan KKP yakni kawasan budidaya udang vaname berkelanjutan berbasis klaster.

“Secara teknis, tantangan pengembangan kawasan budidaya udang yakni terkait dengan pengelolaan tambak yang belum menerapkan prinsip berkelanjutan dan belum tertata dengan baik secara teknis maupun manajemennya,” jelas Slamet dalam siaran resmi.

“Selain itu, lemahnya implementasi biosecurity, penyebaran penyakit dan tracebility juga masih menjadi tantangan dalam budidaya udang. Oleh sebab itu, klasterisasi ini merupakan konsep yang tepat untuk menjawab berbagai tantangan tersebut”, lanjut Slamet saat memberikan sambutannya dalam workshop tersebut.

Ada tiga aspek utama menurut Slamet yang menjadi prinsip dalam manajemen dan implementasi konsep klasterisasi tersebut, yakni manajemen lingkungan, efisiensi dan integrasi.

Manajemen lingkungan lanjut Slamet, meliputi penyusunan zonasi budidaya udang dalam rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) dan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K); pemeliharaan kawasan mangrove serta meminimalkan serangan dan penyebaran penyakit. Aspek efisiensi terangnya, meliputi implementasi sistem polikultur udang/bandeng/ rumput laut, closed system, dan teknologi resirculating aquaculture system (RAS).

Sedangkan aspek integrasi yakni dukungan lintas sektor untuk pengembangan usaha dan penyediaan infrastruktur; adanya sinergi kebijakan pemerintah pusat atau kementerian, daerah dan stakeholder; serta integrasi unit produksi hulu-hilir seperti hatchery, cold storage, pabrik es, kawasan tambak udang, bandara, pelabuhan ekspor dan berbagai infrastruktur pendukung lainnya.

“Dalam konsep klasterisasi, areal tambak udang tidak melulu digunakan untuk kegiatan pembesaran udang. Namun ada pembagian kawasan tambak, yakni 50% lahan untuk pembesaran udang dan 50% sebagai kawasan penyangga meliputi 30% polikultur dan 20% untuk bandeng”, jelas Slamet.

Disinggung terkait dukungan yang diperlukan untuk penyediaan infrastruktur dari lintas sektor, Slamet menyampaikan bahwa untuk mendukung klastersisasi tambak udang, diperlukan rehabilitasi jaringan irigasi tambak, kontruksi dasar tambak, dan pematang tambak.

Selain itu, pembuatan akses jalan produksi dan jaringan listrik. “kami berharap penyediaan infrastruktur ini bisa mendapatkan dukungan dari sektor atau kementerian terkait”, ujarnya. “Selain infrastruktur, input produksi seperti benih unggul dan pakan bermutu, kincir, pompa penyediaan BBM, air bersih, pendampingan teknis dan usaha, serta kemitraan juga menjadi faktor yang perlu dipenuhi”, tambah Slamet.

Saat ini menurut Slamet, KKP telah membangun beberapa kawasan percontohan budidaya udang berkelanjutan dengan konsep klasterisasi.

BERITA TERKAIT

Substitusi Impor, Industri Refraktori Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri pengolahan bahan galian nonlogam di Indonesia. Hal ini sejalan dengan kebijakan…

Cegah Penyakit Komoditas Udang, Perlu Sinergi Lintas Sektor

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan diharapkan dapat benar-benar bersinergi dalam rangka mencegah penyakit komoditas udang yang dibudidayakan di…

China Disebut Sebagai Pengguna Batu Bara Tertinggi di Dunia

NERACA Jakarta – China masih menjadi pengguna batu bara tertinggi di dunia sebagai bahan bakar utama pembangkit energi di negara…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemenperin Terus Pertajam Strategi Peningkatan SDM Industri

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang industri. Langkah strategis tersebut…

Kemenperin Ingin Hidupkan Kembali Peran Koperasi Industri Kreatif

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mendukung penguatan peran koperasi sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional. Langkah strategis yang didorong, antara…

Niaga Energi - Kekhawatiran Kelebihan Pasokan 2020 Meningkat, Harga Minyak Turun

NERACA Jakarta – Harga minyak turun tipis pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena sedikit kemajuan pada negosiasi perdagangan…