Laba Bersih Erajaya Swasembada Capai Rp 256,29 Miliar

Neraca

Jakarta- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) bukukan laba bersih sepanjang 2011 senilai Rp256,29 miliar atau meningkat 17,22 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar Rp218,63 miliar.

Presiden Direktur ERAA Budiarto Halim mengatakan, kenaikan laba bersih ini ditopang penjualan bersih selama 2011 senilai Rp6,89 triliun, atau tumbuh 48,81% dibandingkan periode yang sama 2010 yang sebesar Rp4,63 triliun. "Penjualan bersih ERAA dikontribusikan oleh penjualan telepon selular sebesar Rp6,09 triliun, voucher elektronik Rp667,51 miliar, voucher fisik sebesar Rp90 miliar, aksesoris HP senilai Rp30,49 miliar, starter packs senilai Rp11,38 miliar, sedangkan sisanya berasal dari penjualan suku cadang dan lain-lain,"katanya dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (27/3).

Namun, seiring kenaikan penjualan bersih, beban pokok penjualan juga mengalami peningkatan menjadi Rp6,15 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2010 sebesar Rp4,13 triliun. Sementara laba usaha perseroan tercatat meningkat 31,13 persen menjadi Rp385,01 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai Rp293,60 miliar.

Terkait ekspansi usaha, pada tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 12 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk pembukaan gerai dan cabang distribusi. Untuk sumber dana belanja modal ini berasal dari hasil Penawaran Umum Saham Perdana (initial public offering/IPO) yang dilakukan perseroan pada medio Desember 2011 lalu.

Bayar Utang

Selain itu, dana IPO juga digunakan untuk melunasi utang atau promissory notes (PN) yang telah diterbitkan dalam rangka akuisisi PT Teletama Artha Mandiri senilai Rp736,3 miliar. Budiarto pernah bilang, pembayaran promissory notes akan diambil dari dana penawaran saham perdana dan akan dibayarkan selambat-lambatnya sebelum akhir tahun ini, “Kita akan melunasi utang tersebut selambat-lambatnya sebelum akhir tahun ini,”ujarnya.

Menurutnya, dana hasil penawaran saham perdana akan digunakan untuk menambah gerai baru dan melunasi utang perseroan. Karena perseroan hanya memiliki utang modal kerja yang tidak terlalu besar. "Kita tidak ada utang jangka panjang," tutur Budiarto.

Perseroan akan terus melakukan inovasi untuk meningkatkan kinerja perseroan. Prediksi rata-rata pertumbuhan dalam industri seluler sebesar 24%-25% dalam tiga tahun mendatang. Apalagi berdasarkan riset, masyarakat Indonesia mengganti feature handphone menjadi smartphone dalam waktu 7-14 bulan.

Maka untuk mendukung pengembangan jaringan distribusi dan ritel perseroan, PT Erajaya Swasembada Tbk akan menganggarkan modal kerja senilai US$12 juta. "Modal kerja itu untuk pembukaan outlet dan cabang distribusi yang belum penetrasi, rencananya perseroan akan buka outlet sebesar 40-60 outlet," ungkapnya. (bani)

Related posts