M Cash Integrasi Bidik Pendapatan Rp 8 Triliun - Mengandalkan Strategi Yang Sama

NERACA

Jakarta – Seiring perluasnya kerjasama PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) dengan mitra bisnis lainnya, memacu perseroan untuk membukukan kinerja keuangan lebih baik lagi dibandingkan tahun lalu yang membukukan pendapatan Rp 6,36 triliun atau tumbuh 139,33% dibandingkan tahun 2017.”Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan mencapai Rp 8 triliun,”kata Managing Director MCAS, Jahja Suryandi di Jakarta, kemarin.

Guna memenuhi target tersebut, lanjutnya, perseroan masih menjalankan strategi sama seperti tahun sebelumnya, yakni mengandalkan layanan yang bakal dimanfaatkan orang-orang tanpa ada promo. “Misalnya kita coba kerja sama untuk memberikan layanan bayar tol tanpa tap yang terhubung dengan ponsel,”ungkapnya.

Ada beberapa konten yang jadi andalan untuk jadi faktor pendongkrak pertumbuhan pendapatan MCAS tahun ini. Pertama, layanan pembayaran pulsa, PLN, dan tiket transportasi. Kedua, layanan fintech seperti top up untuk LinkAja, Go-Pay, maupun OVO. Terakhir memberikan layanan pembelian tiket konser digital. Untuk layanan tiket konser digital contohnya seperti konser musisi asal Amerika Serikat John Mayer. “Kita akan targetkan beberapa konser besar lainnya di tahun ini,” tambah Direktur Independen MCAS Anis Yunianto.

Anis menambahkan penyebaran infrastruktur untuk layanan-layanan pembayaran itu juga masih jadi fokus MCAS tahun ini. Dari total sebanyak 75.910 di tahun 2018 tahun ini diharapkan bakal bertambah menjadi 90.000 sampai 100.000. Sampai kuartal I 2019, MCAS telah mencatat pendapatan sebesar Rp 2,03 triliun atau tumbuh 68,87% dibandingkan denganperiode yang sama tahun lalu. Jumlah itu artinya MCAS telah merealisasikan target pendapatan tahun ini sekitar 25% di kuartal I 2019.

Selain itu, perseroan telah menyiapkan belanja modal sebesar Rp 120 miliar. Dana itu rencananya bakal digunakan untuk pengembangan Informasi Teknologi. Head of Investor Relation MCAS, Stanley Tjiandra mengatakan, sumber pendanaan MCAS terhadap belanja modal tahun ini berasal dari kas internal dan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) yang masih ada. “Dari IPO sekitar Rp 45 miliar sampai Rp 46 miliar, sisanya dari kas internal,”jelasnya.

Per 31 Desember 2018 MCAS masih memiliki sisa dana IPO sebesar Rp 75 miliar. MCAS melakukan IPO pada 1 November 2017 dan memperoleh dana sebesar Rp 300 miliar. Stanley menjelaskan belanja modal bakal digunakan untuk pengembangan IT. “Kebanyakan untuk hardware dan berbagai kiosk yang besar maupun kecil,” terangnya.

Sampai kuartal I 2019, kata Stanley, MCAS telah menyerap dana belanja modal sebesar Rp 26 miliar. Di periode selanjutnya, MCAS telah menyiapkan beberapa layanan baru yang diharapkan bisa diaplikasikan di tahun ini. “Kita lagi ada pilot project untuk layanan end to end di restoran, jadi orang dari pesan makan sampai bayar tinggal lewat kiosk saja,” tambahnya.

BERITA TERKAIT

Menkeu Proyeksi Defisit APBN Capai Rp310,8 Triliun

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 berpotensi…

DEFISIT APBN MELEBAR HINGGA RP 135 TRILIUN LEBIH - Menkeu: Pertumbuhan Semester I Capai 5,1%

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I-2019 mencapai  5,1%.  Angka ini berdasarkan perhitungannya terhadap kontribusi…

Gandeng Perusahan Taiwan - Kalbe Farma Bidik Cuan di Bisnis Kecantikan

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan, inovasi dan pengembangan bisnis menjadi strategi yang dilakukan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Menggandeng…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Penjualan Terkoreksi 5,58% - Astra Terus Pacu Penjualan di Semester Kedua

NERACA Jakarta – Lesunya bisnis otomotif di paruh pertama tahun ini memberikan dampak terhadap bisnis otomotif PT Astra International Tbk…

Hartadinata Akuisisi Perusahaan E-Commerce

Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) pada tanggal 15 Juli 2019 menandatangani akta perjanjian penyertaan modal yang pada…

Kasus Hukum Menimpa Tiga Pilar - Investor Ritel Minta Kepastian Hukum

NERACA Jakarta – Kisruh sengketa manajamen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) masih menyisakan masalah bagi para investor, khususnya investor…