Analis : IPO BUMN Molor Picu Target IPO BEI Sulit Tercapai

Neraca

Jakarta – Rencana pemerintah mempersiapkan badan usaha milik negara (BUMN) untuk mencatatkan saham perdananya di pasar modal, diyakini pelaku pasar sulit bisa terealisasi. Pasalnya, hingga memasuki kuartal I belum juga ada BUMN menyatakan untuk IPO kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Analis MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, IPO BUMN tahun ini bakal kembali molor karena kondisi dari BUMN yang masih dalam proses penyehatan, “Saya melihat panjangnya proses penyehatan BUMN yang IPO, maka berdampak molornya target IPO BUMN,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (26/3).

Menurutnya, prediksi bakal moloronya IPO BUMN juga akan memberikan imbas negatif terhadap capaian target IPO BEI di tahun ini sebesar 25 perusahaan. Alasannya, selama ini BEI banyak berharap besar agar BUMN bisa perbanyak IPO BUMN agar mendukung likuiditas industri pasar modal.

Kata Edwin, yang pasti BEI akan kesulitan menutupi target IPO tahun ini jika BUMN molor untuk aksi korporasinya menawarkan saham perdananya di pasar modal. Asal tahu saja, sebelumnya pihak BEI juga pernah menyampaikan kekecewaannya lantaran hanya satu BUMN yang siap IPO dari tiga BUMN yang disiapkan.

Melesat Dari Target

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Eddy Sugito menyatakan, sedikit kecewa dengan kabar kesiapan Kementerian BUMN yang cuma bisa meng-IPOkan satu perusahaan BUMN. Kondisi tersebut sangat jauh dari target sebelumnya, yang dipatok tiga hingga lima BUMN. “Kalau cuma satu kurang menantang,” ungkapnya

Eddy menuturkan, pihaknya ingin kalau Kementerian BUMN bisa meng-IPO-kan perusahaan BUMN sebanyak-banyaknya tahun ini. Namun, saat ini yang tahu kondisi BUMN itu hanya Menteri BUMN, Dahlan Iskan, sehingga tidak bisa dipaksakan untuk IPO.

Meski demikian, lanjut dia, pihaknya tetap meyakini dapat mencapai target IPO sebanyak 25 perusahaan pada tahun ini. Sepanjang tahun ini, baru tiga perusahaan yang melaksanakan pencatatan saham di BEI.

Sementara BEI menargetkan sebanyak 25 perusahaan melaksanakan IPO pada 2012. Tiga perusahaan yang telah melaksanakan IPO tahun ini, yakni PT Minna Padi Investama Tbk (PADI), PT TiPhone Mobile Tbk (TELE), dan PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA).

Selain itu, kuatnya potensi pertumbuhan ekonomi nasional ke depan juga diyakini akan menjadi salah satu pendorong banyaknya perusahaan dalam negeri untuk melakukan IPO, baik dari kalangan perusahaan BUMN maupun juga perusahaan swasta. "Kami tetap optimis IPO tahun ini bisa mencapai 25 perusahaan," ujarnya

Dia juga menyakini, pada kuartal kedua 2012 akan diramaikan oleh perusahaan melakukan penawaran umum saham perdana. "Jadi kami harapkan akhir Maret akan banyak calon emiten yang mendaftarkan untuk IPO. Kalau dilihat kuartal pertama ini yang mencatatkan saham mungkin baru beberapa saja dikarenakan pada kuartal ini biasanya yang muncul hanya beberapa perusahaan yang diproses di bulan Desember 2011," kata Eddy.

Pengamat dari Sinarmas Sekuritas Jeff Tan pernah bilang, BUMN yang akan IPO diharapkan memiliki prospek industri dan fundamental baik serta ditawarkan dengan jumlah saham memadai.

Kata Jeff Tan, BUMN yang telah memiliki kapitalisasi dan ukuran perusahaan besar dinilai menjadi nilai plus BUMN untuk menawarkan saham perdana ke publik. Selain itu, penawaran umum saham perdana BUMN dapat berhasil juga melihat prospek industri dan fundamental BUMN tersebut. "Berhasil atau tidaknya suatu IPO tergantung dengan murah atau tidaknya, sizenya, dan prospek industri serta emiten tersebut," kata Jeff.

Pemerinatah sendiri kala itu telah menyiapkan tiga BUMN yang disiapkan untuk melantai di bursa efek. Ketiga BUMN tersebut adalah, PT Semen Batu Raja, PT Waskita Karya dan PT Hutama Karya. (bani)

Related posts