CJ Superfeed Siap Bangun Pabrik Pakan Ternak Senilai US$ 20 Juta

NERACA

Jakarta – Tingginya permintaan masyarakat untuk ayam potong atau unggas berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan pakan ternak di Indonesia. Karena itu produsen pakan ternak asal Korea Selatan, PT Cheil Jedang Superfeed (CJ Superfeed), siap berekspansi dengan membangun pabrik pakan ternak senilai US$ 20 juta. Pabrik baru tersebut diperkirakan mampu memproduksi pakan ternak sekitar 10.000 ton-20.000 ton per bulan.

Tevi Melviana, General Manager Marketing and Sales CJ Superfeed menuturkan, pembangunan pabrik baru tersebut direncanakan paling lambat di awal tahun depan. "Kami tunggu hasil produksi pakan dari pabrik yang ada saat ini dulu," kata Tevi di Jakarta, Senin (26/3).

Meski belum memastikan lokasi pembangunan pabrik pakan baru tesebut, namun menurut Tevi, pembangunan pabrik baru tersebut kemungkinan di antara wilayah Sumatera Utara atau Jawa Tengah. Luas lahannya sekitar 5 hektare (ha).

Rencana pembangunan satu pabrik pakan baru ini akan menambah jumlah pabrik pakan CJ Superfeed yang telah ada sebelumnya. Sejauh ini, perusahaan telah memiliki dua parik pakan ternak dan satu pabrik pakan udang yang berlokasi di Serang Banten dan Jombang Jawa Timur. Rinciannya, pabrik pakan ternak untuk unggas di Banten berkapasitas produksi 40.000 ton per bulan, sedangkan pabrik pakan di Jombang kapasitasnya 20.000 ton. Produksi pakan udang di Jombang kapasitasnya 2.000 ton per bulan.

Pabrik pakan CJ Superfeed di Serang menyuplai produksi pakan ke Kalimantan Barat, Sumatera dan Jawa Barat. Sementara, pabrik pakan di Jombang menyuplai produksi pakan ke Kalimantan selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). "Pasar utama penjualan pakan ternak CJ Superfeed adalah wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, persentasenya mencapai 30%," ujar Tevi.

Selain alasan full capacity pabrik, pembangunan pabrik baru tersebut karena alasan meningkatnya kebutuhan protein. Tevi mengatakan, saat ini pabrik pakan CJ Superfeed yang beroperasi sudah digunakan sebanyak 98%-99%. Tahun depan, CJ Superfeed juga merencanakan membangun pabrik pakan udang di wilayah barat. "Mungkin kami juga akan membangun pabrik pakan udang di Serang," jelasnya.

Pembangunan tersebut, lanjutnya, karena kapasitas terpasang untuk pakan udang sudah full capacity. Meski tidak menyebutkan berapa nilai investasinya, namun setidaknya produksi pakannya berkisar 1.000 ton-2.000 ton per bulan. Pembangunan pabrik di Serang tersebut untuk menyuplai kebutuhan pakan udang di Lampung.

Sekedar informasi, harga pakan unggas dan udang produksi CJ Superfeed bervariasi. Untuk pakan udang harganya berada dikisaran Rp 10.000 per kilogram (kg), Pakan unggas pedaging Rp 5.000 per kg - Rp 5.500 per kg, dan pakan ayam petelur sekitar Rp 4.000 per kg. Meski pasar domestik masih mendominasi hasil penjualan CJ Superfeed, namun Tevi menyebut, sudah ada penjajakan untuk melakukan ekspor seperti ke Vietnam dan Malaysia.

Bahan Baku Impor

Di tempat berbeda, Ketua Umum Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (APPI) Sudirman memaparkan, kalau sampai saat ini pasokan jagung untuk bahan baku industri pakan ternak Indonesia masih minim. Akibatnya, Indonesia masih harus mengimpor dari Amerika Serikat (AS), Brazil, dan Argentina.

Lebih jauh lagi Sudirman mengatakan, impor jagung Indonesia terus meningkat. Di 2009 jumlahnya 400 ribu ton dan di 2010 jumlahnya sebanyak 1,5 juta ton.“Di 2011 impor pakan ternak meningkat karena industri nasional tidak baik. Impor jagung di 2009 mencapai 400 ribu ton. lalu di 2010 sebanyak 1,5 juta ton. Harga jagung juga naik. Harga impor jagung untuk April nanti Rp 3.300 per kg, padahal 3 bulan lalu Rp 2.300," jelasnya.

Sudirman mengatakan, dari 10,3 juta ton konsumsi pakan ternak di 2010, sebanyak 50% berasal dari jagung. "Industri dalam negeri sebenarnya tidak suka impor. Pemerintah meningkatkan produksi tapi sulit karena banyak faktor, salah satunya infrastruktur," urai Sudirman.

Karena itu, APPI meminta kepada pemerintah untuk membebaskan bea masuk jagung dari 5% menjadi 0% sehingga para produsen diringankan, dan harga jual makin murah. "Pemerintah harusnya memperhatikan nasib peternak. Ada bahan baku yang tidak diproduksi di Indonesia, jadi harus bebas bea masuk. Bea masuk bukan untuk instrumen pendapatan negara tapi untuk proteksi," tukasnya.

Related posts