DOID Yakin Pendapatan Capai US$ 950 Juta - Volume Produksi Naik

NERACA

Jakarta – Kembali menggeliatnya industri batu bara menaruh harapan besar PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) bisa membukukan kinerja keuangan yang positif. Perseroan optimis hingga akhir tahun bisa membukukan pendapatan sebesar sekitar US$ 850 juta - US$ 950 juta, dari realisasi 2018 sebesar US$ 892,45 juta.”Adapun EBITDA tahun 2019 diharapkan mencapai US$ 280 juta hingga US$ 320 juta," kata Direktur Keuangan PT Delta Dunia Makmur Tbk, Eddy Porwanto di Jakarta, Rabu (22/5).

Disampaikannya, kenaikan EBITDA dan pendapatan tahun ini akan ditopang dengan meningkatnya volume produksi dan kenaikan harga batu bara. Oleh karena itu, Perusahaan berharap harga batu bara Newcastle stabil di US$ 65 - US$ 75 per ton. Tahun ini, perseroan menargetkan volume overburden (OB)sebesar 380-420 juta bank cubic meter (bcm) atau naik dari tahun 2018 sebesar 393 juta bcm.

Sebagai informasi, perseroan mengincarearning before interest, taxes, depreciation, and amortizationhingga US$320 juta pada 2019 atau tumbuh 7,38% dari realisasi tahun lalu. Sementara untuk belanja modal (capital expenditure/capex) 2019 berkisar di bawah US$ 100 juta. Adapun dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), pemegang saham Delta Dunia sepakat untuk tidak membagikan dividen. Pertimbangannya, perusahaam baru saja mengalokasikan dana sekitar US$ 305 juta untuk investasi. Di samping itu, harga batu bara belakangan ini tidak menentu menyusul perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). "Apalagi kinerja kuartal I kami tertekan, sehingga perlu laba ditahan," kata Eddy Porwanto.

Tercatat EBITDA perseroan di kuartal pertama tahun ini sebesar US$54 juta atau turun 6% dari US$57 juta priode yang sama tahun lalu. Dijelaskan Eddy, tertekannya EBITDA kuartal I/2019 akibat dari rendahnya harga batu bara. Selain itu, volume OB masih juga masih rendah akibat kondisi cuaca. “Ke depan, secara kuartalan EBITDA akan membaik sejalan dengan kenaikan volume dan harga,” ujarnya.

Pada kuartal I/2019, DOID mengantongi pendapatan US$213,91 juta pada. Pencapaian itu tumbuh 17,64% dari US$181,83 juta pada kuartal I/2018. Kendati demikian, beban pokok pendapatan perseroan naik lebih tinggi secara tahunan pada kuartal I/2019. Pasalnya, beban pokok pendapatan naik 27,79% dari US$144,35 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$184,47 juta.

Dari situ, perseroan membukukan laba bersih US$1,36 juta pada kuartal I/2019. Pencapaian itu turun 86,99% dari US$10,45 juta pada kuartal I/2018. Di sisi lain, Eddy menyebut saat ini perseroan tengah melakukan diskusi untuk perpanjangan sejumlah kontrak jasa pertambangan. Pembahasan itu dilakukan dengan PT Kideco Jaya Agung yang akan habis pada 2019 dan PT Berau Coal (Binungan) yang akan habis pada 2020.“Kami berada pada tahap akhir untuk diskusi dengan mereka terkait perpanjangan kontrak,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Targetkan Produksi 800 Ribu MT - BOSS Genjot Produksi di Semester Dua

NERACA Jakarta - Emiten produsen batu bara berkalori tinggi PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) optimis mampu memacu produksi…

Pendapatan Urban Jakarta Tumbuh 195%

Kuartal pertama 2019, PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) mencatatkan pendapatan Rp117,9 miliar atau naik 195% dibanding priode yang sama…

Rating Utang Naik Diiringi Kenaikan Utang

    NERACA   Jakarta – Belum lama ini, lembaga rating utang berbasis di Amerika Serikat Standard & Poor's (S&P)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Masih Rugi, Citra Putra Tidak Bagi Dividen

Mempertimbangkan kondisi perusahaan yang masih mencatatkan rugi sepanjang tahun 2018 kemarin, menjadi alasan bagi PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY)…

Tawarkan IPO Rp 396-525 Persaham - Hensel Davest Tambah 300 Ribu Agen Baru

NERACA Jakarta – Dalam rangka penetrasi pasar, khususnya mengoptimalkan pasar di Timur Indonesia, PT Hensel Davest Indonesia Tbk sebagai perusahaan…

Sinar Mas Agro Bagi Dividen Rp 750 Per saham

NERACA Jakarta - Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMART (SMAR)…