Pengusaha China Lirik Pasar Farmasi Indonesia - Terbesar di Asia Tenggara

NERACA

Jakarta – Besarnya potensi pasar farmasi Indonesia yang diperkirakan mencapai 50% dari total pasar farmasi di Asia Tenggara membuat pengusaha asal China tertarik untuk berinvestasi di sektor ini. Potensi pasar tersebut dilirik oleh perusahaan asal China, Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd.

Chairman of the Board Tianjin Lu Yan Chang mengaku, jika membuka bisnis di Indonesia dinilai mudah dan cepat berkembang. "Bisnis di Indonesia paling cepat. Kebijakan pemerintah Indonesia paling kondusif terutama dalam bidang farmasi," ujarnya saat ditemui dalam acara penandatanganan perjanjian kerja sama dengan PT Kimia Farma Tbk. di Jakarta, Senin (26/3).

Sebagaimana diketahui, Kimia Farma menggandeng PT Tigaka Distrindo Perkasa dan perusahaan asal China, Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd. untuk pembangunan pabrik senilai Rp250 miliar. Chang juga menilai, faktor jumlah penduduk Indonesia yang besar menjadi salah satu faktor bisa cepat berkembangnya industri di Indonesia terutama dalam sektor farmasi. "Populasi di Indonesia besar. Trennya, obat murah dan bagus serta memiliki volume yang besar," tandasnya.

Pabrik yang rencananya di bangun di Cikarang tersebut akan akan memproduksi obat jenis kortikosteroid alam bentuk injeksi dan produk-produk hospital solution. Pabrik direncanakan memasuki produksi perdana pada akhir 2013 yang memiliki kapasitas produksi 300 juta ampul dan 20 juta infus.

Direktur Utama Kimia Farma M. Syamsul Arifin mengatakan pabrik yang akan dibangun di Lippo Cikarang mengincar kebutuhan kortikosteroid yang diperkirakan akan melonjak 2 hingga 3 kali lipat setelah realisasi sistem jaminan sosial nasional (SJSN) pada 2014.

Bahan kimia tersebut adalah produk steril yang dipergunakan untuk merawat berbagai kondisi seperti inflamasi (arthritis), reaksi alergi, rasa mual hingga untuk mengontrol efek samping dari kemoterapi pada penderita kanker. “Kortikosteroid yang paling umum adalah Dexamethasone, produk itu digunakan untuk pasien gawat darurat di rumah sakit. Jadi kebutuhannya sangat tinggi,” ujarnya.

Syamsul memaparkan Kimia Farma berencana mengekspor sekitar 10% dari hasil produksi pada tahun pertama yang akan ditingkatkan hingga 50% dari hasil produksi dalam beberapa tahun setelahnya.

Sediakan Teknologi

Sedangkan, Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd. akan menyediakan teknologi yang dibutuhkan dalam proses produksi corticostereoid dan menyediakan material pendukung. Adapun, investasi pembangunan pusat produksi tersebut, Kimia Farma memegang saham mayoritas sebesar 50 %. PT Tianjin Pharmaceutical Group 46% dan sisanya milik PT Tiga Distrindo Perkasa sebesar 5%.

Kinerja industri farmasi di Indonesia telah mencatat pertumbuhan signifikan. Dari sisi total nilai pasar farmasi domestik tercatat lebih tinggi dibandingkan Malaysia dan Singapura. Padahal dari sudut belanja kesehatan, Indonesia masih tergolong rendah. Mengacu data IMS Health, sektor farmasi di Indonesia tumbuh dari sekitar Rp29,98 triliun pada 2008 menjadi Rp33,96 triliun pada 2009, dan mencapai Rp37,53 triliun pada akhir 2010.

Dari total pencapaian tersebut, pasar obat ethical masih menjadi kontributor utama, yang bertumbuh menjadi Rp21,14 triliun dan pasar OTC mencapai Rp16,38 triliun. Sedangkan pada 2009, pasar obat ethical membukukan nilai pasar sebesar Rp19,22 triliun dan sisanya disumbangkan produk farmasi kategori OTC setara dengan nilai Rp14,74 triliun.

Di tempat berbeda, Menteri Perindustrian MS Hidayat memaparkan saat ini India telah melirik dan berniat untuk investasi pada sektor industri farmasi di Indonesia. Hidayat mengatakan bahwa untuk kebijakan yang terkait dengan industri farmasi di Indonesia, Kementerian Perindustrian telah memiliki dan mempersiapkannya. Selain menyatakan minat pada bidang farmasi, lanjut Hidayat, delegasi tersebut juga memiliki keinginan untuk melakukan program kerja sama pada bidang kesehatan seperti kedokteran dan rumah sakit.

Related posts