Mengukur Indikator Keuangan dan Pajak Terhadap Kinerja Perusahaan

Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak

Pada masa sekarang ini, para pimpinan korporasi dalam berbagai macam industri memikirkan cara yang lebih baik dalam mengukur kinerja perusahaan. Pengukuran yang tepat pastinya menunjukkan suatu keberhasilan yang dicapai oleh perusahaan. Menggunakan model pengukuran secara umum, dianggap sudah lama atau tradisional, jika hanya melihat kinerja suatu organisasi melalui laporan keuangan. Sebuah manajemen perusahaan yang baik memerlukan pula tolak ukur lain yang bisa mempresentasikan titik-titik strategis perusahaan.

Salah satunya pengukuran kinerja perusahaan yang signifikan dengan kondisi persaingan bisnis saat ini dilakukan dengan metode BSC (Balance Scorecard). Metode ini diperkenalkan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton dalam Harvard Business Review, Januari 2002 yang mulai digabungkan dengan metode pembobotan AHP.

Metode BSC merupakan metode pengukuran kinerja yang terintegrasi dan mencakup keseluruhan aspek finansial dan non finansial. Dengan kata lain metode BSC merupakan sarana untuk menerjemahkan visi, misi, dan strategi perusahaan ke dalam seperangkat sasaran-sasaran strategis (Munifah, 2005).

Perspektif Metode BSC

Dalam penggunaannya, metode ini terdiri dari empat perspektif yang satu sama lain saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Perspektif pertama ialah, keuangan yang fungsinya mengukur kemampuan laba dan nilai pasar (market value) di antara perusahaan-perusahaan lain. Variabel yang diukur menggunakan analisis Return on Equity (ROE), Return of Assets (ROA), Total Asset Turnover (TATO), Sales Growth (SG), dan Profit Margin on Sales (PmoS).

Perspektif kedua ialah pelanggan, yang diukur berdasarkan analisis Customer Retention (CR), DEV (Pembayaran Deviden), Number of New Customer (NNC), dan Number of Complaint (NC). Kemudian, perspektif proses bisnis internal variabelnya diukur berdasarkan analisis sesuai sektor masing-masing. Selain itu, perspektif proses pembelajaran dan pertumbuhan variabelnya diukur berdasarkan analisis Employee Turnover (ET), Employee Productivity (EP), serta Absenteism (Abs).

Selanjutnya dalam pengakuan biaya maupun penghasilan, dengan menggunakan pendekatan fiskal dapat menunjukkan kinerja perusahaan secara realistis. Contohnya mengenai beberapa biaya yang dapat maupun tidak dapat dikurangkan.

Biaya diakui sebagai beban ketika biaya yang terjadi pada suatu periode tertentu telah dipasangkan dengan penghasilan pada periode terjadinya biaya tersebut. Dalam laporan komersial, sah-sah saja jika kita membebankan beberapa biaya yang semestinya tidak digunakan untuk melakukan produktivitas sektor pekerjaan utama. Namun menempatkan biaya yang tidak semestinya akan menunjukkan tidak sehatnya sebuah korporasi.

Lebih lanjut mengenai pengakuan penghasilan, diakui ketika direalisasi atau dihasilkan. Pada prinsipnya fiskal dapat menerima prinsip pengakuan penghasilan, namun untuk hal-hal tertentu kadang-kadang terjadi penyimpangan.

Selanjutnya ialah menggunakan unsur konsistensi. Untuk dapat membandingkan kinerja bisnis dari tahun ke tahun, maka diterapkan metode akuntansi secara konsisten (taat asas). Apabila ternyata ada perubahan prosedur akuntansi, pengaruhnya harus dikemukakan dalam laporan keuangan.

Pada dasarnya seperti laporan keuangan fiskal, laporan komersial menganut konsistensi dalam pembukuannya. Namun dalam konteks konsepsional ketentuan perpajakan dapat menentukan lain. Misalnya, pengakuan hasil operasional bisnis di luar negeri apabila mengalami kerugian.

Kemudian menggunakan unsur konservatisme. Laporan keuangan seharusnya bersifat konservatif terhadap suatu transaksi yang belum terealisir menjadi suatu fakta. Sifat demikian diimplementasikan dengan pembentukan penyisihan atas resiko kerugian yang mungkin diderita, tanpa pengakuan atas potensi keuntungan yang belum direalisasi. Administrasi pajak kurang tertarik dengan pendekatan konservatif, tetapi lebih cenderung untuk menganut realitas. Pembentukan cadangan kerugian yang tinggi menunjukkan, perusahaan kurang bisa mengelola operasional intern perusahaan,

Pendekatan selanjutnya ialah realisasi. Menurut prinsip akuntansi komersial, penghasilan hanya diakui setelah terjadi transaksi atau realisasi penjualan (stelsel kas). Dalam prinsip perpajakan penghasilan mempunyai pengertian setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh.

Berkaitan dengan konsep realisasi, pengertian diterima artinya sama dengan pengertian dalam stelsel kas, sedangkan diperoleh artinya sama dengan pengertian yang digariskan dalam stelsel akrual.

Lebih lanjut adalah substansi dan bentuk formal harus menitikberatkan kepada substansi ekonomisnya daripada bentuk formal tiap transaksi. Namun dalam kasus-kasus tertentu seperti leasing, laporan keuangannya lebih mengutamakan bentuk formal dibandingkan substansi ekonomisnya.

Terakhir ialah penggunaan unsur materialitas. Batasan materialitas nilainya sangat relatif, setiap perusahaan mempunyai batasan yang berbeda. Misalnya perusahaan membeli gelas dan alat-alat perlengkapan lainnya yang dapat digunakan lebih dari satu tahun, karena nilainya relatif kecil dan alasan kepraktisan, maka harga pembelian perlengkapan tersebut diakui sebagai biaya dan tidak dikapitalisasikan.

Walaupun konsep materialitas tidak berlaku dalam perpajakan, karena dalam penghitungan penghasilan kena pajak dilakukan berdasarkan fakta yang benar dan sesungguhnya. Dalam perpajakan tidak diperkenankan untuk mengabaikan data hanya karena jumlahnya relatif kecil, dan jika penyimpangan ini terjadi maka dapat menyebabkan dikenakan sanksi perpajakan.

Namun dengan memahami betul prinsip-prinsip yang berlaku dalam ketentuan perpajakan, dapat menghindarkan dari sanksi perpajakan akibat dari kesalahan penghitungan penghasilan kena pajak. Selain itu, akan memudahkan dalam pembukuan perusahaan baik untuk memenuhi kepentingan pelaporan bisnis/komersial maupun kepentingan pajak/fiskal sekaligus.

Penggunaan Rasio Pajak

Selanjutnya ialah menggunakan perhitungan rasio pajak. Rasio pajak dalam hal ini adalah perbandingan antara rasio penghasilan kena pajak (Taxable Income) terhadap Laba Akuntansi (Book Income) dimana penjelasan tentang rasio pajak terdapat pada catatan atas laporan keuangan suatu perusahaan (Suparman, 2011).

Dalam penelitian yang dilakukan Benny Casanova dan Marsellisa Nindito (2014), rasio pajak ini berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan, karena jika rasio pajak mengalami peningkatan, dapat dikatakan bahwa pajak yang harus dibayarkan oleh sebuah perusahaan menjadi bertambah sehingga berdampak dengan menurunnya kinerja keuangan perusahaan tersebut yang tercatat di laporan keuangan.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa, jika terdapat banyak koreksi fiskal atas biaya, menunjukkan kinerja perusahaan tersebut belum rapi dalam memilah jenis-jenis biaya sebagai pembebanannya. Maraknya pembebanan keperluan pribadi para direksi maupun biaya-biaya yang tidak dapat dikonfirmasi, dapat pula menjadi alasan terbesar likuiditas perusahaan menjadi terganggu.

BERITA TERKAIT

SHARP Bersedekah Berbagi Kebahagiaan dan Ilmu

Selalu hadir berbagi di tengah masyarakat adalah komitmen yang dilakukan PT Sharp Electronics Indonesia. Kali ini perseroan melalui kegiatan tanggung…

Donasikan Kursi Roda dan Bantuan Modal - K3S Denpasar Tingkatkan Kemandiran Disabilitas

Dalam rangka memberdayakan masyarakat disabilitas untuk mandiri, Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar, Bali menyerahkan bantuan kesehatan seperti kursi…

Menteri LHK : Indonesia Angkat Langkah Sistematis Indonesia Sektor Lingkungan Hidup dan Energi

Menteri LHK : Indonesia Angkat Langkah Sistematis Indonesia Sektor Lingkungan Hidup dan Energi NERACA Karuizawa, Jepang - Menteri Lingkungan Hidup…

BERITA LAINNYA DI OPINI

KPK Tidak Konsisten dengan Temuan Hasil Audit BPK

Oleh: Maqdir Ismail, Advokat di Jakarta Dalam simpulan “Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif Dalam Rangka Penghitungan Kerugian Negara Atas Dugaan Tindak…

Bukan Sekedar Ritual

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo    Idul Fitri kemarin diwarnai pilpres yang situasinya…

Pemilu Bukan Berarti Tidak Bersatu

Oleh : Elan Lazuardi, Pemerhati Masalah Sosial Politik   Sebagai bangsa yang besar, tentu Indonesia harus mampu menunjukkan kepada dunia,…