STP Bukukan Pendapatan Rp 1,8 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) sepanjang 2018 mencatat pendapatan (audit) sebesar Rp 1,808 triliun atau turun tipis 1% dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya sebesar Rp 1,908 triliun.”EBITDA 2019 sebesar Rp 1,637,7 triliun dimana marjin EBITDA stabil sebesar 86,2%," kata Presiden Direktur PT Solusi Tunas Pratama Tbk, Nobel Tanihaha di Jakarta, Rabu (15/5).

Sepanjang 2018, perseroan memiliki aset portofolio yang terdiri dari 5.979 menara makro2, 433 microcell poles2, 37 lokasi indoor DAS dan jaringan serat optik sepanjang 3.260 3 km. "Penyewaan kami tercatat sebanyak 10,492, sehingga rasio penyewaan menara tercatat sebesar 1,64x per Desember 2018,"ujarnya.

Nobel Tanihaha mengatakan, pelanggan utama Solusi Tunas Pratama terdiri dari empat operator telekomunikasi terbesar di Indonesia, yaitu PT XL Axiata Tbk, Telkom Grup, PT Indosat Tbk. dan PT Hutchison 3 Indonesia. "Keempat operator ini mengkontribusi sebanyak 92 persen dari pendapatan kami pada 2018," kata Nobel Tanihaha.

Adapun pada 2018, jumlah pendapatan kontraktual dengan pelanggan perseroan sebesar Rp 8,5 triliun. Menurut Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), industri telekomunikasi di Indonesia berkontraksi sebesar 6,4 persen pada tahun 2018 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Industri seluler juga mengalami penurunan sebesar 2-3 persen pada tahun yang sama. Oleh karena itu, para penyedia layanan telekomunikasi fokus meningkatkan kapasitas dan cakupan jaringan walaupun lebih lambat dari yang diharapkan.

Meski dengan pertumbuhan negatif, Nobel percaya bahwa masih ada ruang bagi industri ini untuk terus tumbuh dikarenakan pengadopsian jaringan 4G LTE di Indonesia yang masih dalam tahap awal.”Kami yakin bahwa industri seluler negeri ini akan mulai pulih pada 2019. Para penyedia layanan telekomunikasi akan memperluas cakupan jaringan di luar Pulau Jawa dan memperkuat kualitas dan kapasitas jaringan di area-area perkotaan agar dapat memanfaatkan permintaan data berkecepatan tinggi yang terus bertumbuh dengan pesat,” kata Nobel Tanihaha.

BERITA TERKAIT

Bayan Bukukan Laba Bersih Turun 30,85%

NERACA Jakarta – Positifnya harga batu bara di pasar belum memberikan dampak terhadap pencapaian kinerja PT Bayan Resources Tbk (BYAN).…

MABA Masih Bukukan Rugi Rp50,64 Miliar

NERACA Jakarta – Perfomance kinerja keuangan emiten properti dan hotel, PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA) masih membukukan raport merah.…

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…