Laba Nusantara Pelabuhan Handal Anjlok 89% - Biaya Operasional Membengkak

NERACA

Jakarta – Perolehan laba PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk (PORT) pada kuartal I tahun ini terkoreksi tajam. Di mana laba periode berjalan anjlok 89% dari Rp 12,01 miliar menjadi Rp 1,32 miliar. "Laba periode berjalan turun sekitar Rp 11 miliar karena kenaikan biaya operasi dan pemeliharaan terminal serta upah gaji," kata Isenta, Direktur PORT di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, peningkatan beban dan beban pajak pada kuartal I tahun ini turut menggerus kinerja bottom line. Disamping itu, kata Isenta, ada koreksi dari pemeriksaan pajak sebelumnya yang membuat beban pajak di kuartal I tahun ini mencapai Rp 9 miliar. Namun dirinya menjelaskan perusahaan terus berupaya meningkatkan ROE dan ROA perusahaan lebih baik lagi. "Debt to equity kami masih cukup konservatif di 0,97 x ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk perkembangan bisnis organik maupun non organik," lanjutnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa rasio lancar perusahaan sampai dengan kuartal I tercatat 1,67 x yang menandakan keleluasaan perusahaan untuk membayar utang jatuh tempo dalam setahun ke depan. Bila perolehan laba turun signifikan, sebaliknya pendapatan perseroan di kuartal I 2019 tercatat sebesar Rp 275,9 miliar atau naik 12,95% dari sebelumnya Rp 244,27 miliar. Pendapatan terbesar berasal dari jasa stevedoring sebesar Rp 162,83 miliar, storage yard sebesar Rp 83,85 miliar sewa kapal, operasi terminal dan lainnya.

Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal senilai Rp240 miliar yang nantinya akan digunakan untuk pengembangan terminal peti kemas milik perseroan. Paul Krisnadi, Direktur Utama Nusantara Pelabuhan Handal, mengatakan bahwa tahun ini perseroan lebih fokus untuk melakukan pengembangan di sejumlah terminal milik perseroan di dalam dan luar negeri.

Dia mengatakan bahwa pada tahun ini perseroan akan melakukan pemasangan 4 alat bongkar muat di Terminal Tanjung Priok, Jakarta yang dikelola oleh entitas anak perseroan yakni PT Mustika Alam Lestari. Selain itu, perseroan akan mengoptimalkan kinerja Suksawat Terminal, Thailand yang dikelola oleh entitas anak perseroan yaitu PT Parvi Indah Persada dengan pemasangan 4 alat bongkar muat.”Jadi Rp200 miliar untuk pengembangan terminal di domestik, dan Rp40 miliar untuk pengembangan terminal di Thailand,” ujarnya.

Untuk sumber pendanaan, kata Paul, sebagian dana belanja modal akan menggunakan dari sumber internal dan sebagian porsi lainnya akan didapatkan melaui perbankan dengan komposisi sebesar 40% dan 60%. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar, perseroan memutuskan untuk tidak memberikan dividen atas laba bersih perseroan pada 2018.

Berdasarkan laporan keuangan 2018 perseroan, PORT mencatatkan pendapatan senilai Rp1,19 triliun, turun 0,92% dibandingkan tahun sebelumnya Rp1,2 triliun. Sementara itu, laba bersih perseroan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk merosot tajam menjadi Rp743,32 juta dari tahun sebelumnya yang tercatat 41,96 miliar.“Kami tidak ada pembagian [dividen] karena secara umum masih rugi bersih tahun lalu,” ungkapnya.

Pada tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan jumlah peti kemas sepanjang tahun di kisaran 5%—10%. Target tersebut ditetapkan perseroan lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan pertumbuhan sebesar 12%—13%. Menurutnya target tersebut ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi pasar.

BERITA TERKAIT

Libur Lebaran, BI Tutup Operasional 3-7 Juni

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menetapkan untuk meniadakan seluruh kegiatan operasional pada 3-7 Juni 2019 atau…

Bayan Bukukan Laba Bersih Turun 30,85%

NERACA Jakarta – Positifnya harga batu bara di pasar belum memberikan dampak terhadap pencapaian kinerja PT Bayan Resources Tbk (BYAN).…

HARGA BAWANG MERAH ANJLOK

Pekerja menata karung berisi bawang merah di pusat perdagangan bawang komplek pasar Legi Parakan, Temanggung, Jawa Tengah Selasa (21/5/2019). Sejumlah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…