BI Sebut Tren Pelemahan Rupiah Hanya Sementara

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang sudah berlangsung setidaknya dalam dua pekan terakhir, merupakan gejala sementara karena tekanan ketidakpastian pasar keuangan global.

Tekanan terhadap rupiah tak terhindarkan menyusul greenback dolar AS yang terus menguat dalam beberapa pekan terakhir, setelah nuansa perbedaan pandangan terlihat dari berbagai anggota Komite Bank Sentral The Fed menyikapi laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah di Jakarta, Senin (6/5), menjelaskan ketidakpastian tersebut juga dilengkapi dengan pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump tentang perang dagang dengan China yang kerap membuat pasar keuangan dunia bergejolak. "Namun, seperti diketahui dinamika yang disebabkan sinyalemen dari pernyataan ini sifatnya jangka pendek. Karena pernyataan ini bisa berubah-ubah," ujar Nanang.

Pernyataan Trump terbaru adalah mengenai ancaman AS untuk menaikkan bea impor sebesar 25 persen terhadap berbagai produk China dengan nilai 200 miliar dolar AS. Pernyataan Trump itu mengacaukan ekspetasi pelaku pasar yang dalam beberapa pekan terakhir berharap kedamaian dari negoisasi perdagangan antara dua negara raksasa ekonomi dunia itu.

"Itu juga yang mendorong mata uang volatile yuan China juga jatuh, bahkan pergerakan saham di China jatuh lima persen," ujar dia. Senin ini, BI menerapkan tiga intervensi (triple intervention) di pasar valas, Surat Berharga Negara dan DNDF untuk menjaga nilai tukar rupiah.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, bergerak melemah seiring rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019. Rupiah melemah 32 poin atau 0,22 persen menjadi Rp14.298 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.266 per dolar AS. "Rilis PDB di kuartal I-2019 tumbuh 5,07 persen, di bawah ekspektasi pasar yaitu 5,19 persen. Tapi kita harus lihat secara "comparable" dengan negara lain, artinya PDB bergerak di 5 persen masih solid," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Dari eksternal, sentimen pelemahan rupiah yaitu adanya ancaman dari Presiden AS Donald Trump yang akan menaikkan tarif terhadap barang-barang China senilai 200 miliar dolar AS apabila perundingan antara AS dan China tidak seperti yang diharapkan oleh negara Paman Sam tersebut. Sementara itu, bank sentral China merespons cuitan Trump di Twitter tersebut dengan memotong persyaratan cadangan untuk bank-bank kecil dan menengah yaitu suatu ukuran yang katanya akan melepaskan likuiditas sebesar 280 miliar yuan guna menstabilkan ekonomi China akibat ancaman Trump.

BERITA TERKAIT

Dampak Negatif Perang Dagang - Tren Laju IHSG Berada di Zona Merah

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin (17/6) awal pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 1% (59,75 poin)…

TREN PENURUNAN SUKU BUNGA DI DUNIA - OJK: Saatnya Turunkan Bunga Acuan BI

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Bank Indonesia sudah saatnya segera menurunkan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate-7DRRR).…

Tunjukkan Tren Positif di 2018 - Lorena Optimalkan Layanan Angkutan Bandara

NERACA Jakarta – Ketatnya persaingan bisnis layanan jasa moda transportasi publik mendorong PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) untuk…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta - Lembaga kajian ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga…

OJK Revisi Target Pertumbuhan Kredit Bank

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merevisi ke bawah target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 9 persen…

Sequis Luncurkan Produk Asuransi dengan Perlindungan Hingga Rp90 miliar

    NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwa Sequis Life meluncurkan produk asuransi kesehatan dengan perlindungan hingga Rp 90…