Mewujudkan Sila Ketiga Pancasila Pasca Pemilu 2019

Oleh : Ananda Rasti, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

Berbeda pilihan merupakan sebuah keniscayaan, karena setiap individu akan selalu punya sudut pandang dan penilaian yang tidak sama dengan orang lain, termasuk dengan teman atau dengan sanak saudara. Tentu akan sangat tidak etis apabila hanya karena agenda 5 tahunan, keharmonisan keluargaan antar sesama menjadi remuk. Hanya karena beda pilihan, rekan alumni se almamater tersulut debat di sosial media, saling klaim dan menyalahkan penyelenggara pemilu.

Atas hal tersebut, sejumlah pemuka agama meminta masyarakat untuk menjaga suasana damai dan menahan diri setelah Pemilu 17 April 2019. Masyarakat juga diminta untuk tidak terprovokasi oleh informasi di media sosial yang sumbernya tidak jelas. Din Syamsudin selaku Dewan Pertimbangan MUI, menghimbau kepada penyelenggara pemilu, yaitu KPU, Bawaslu, DKPP dengan segenap jajarannya untuk menunaikan amanat konstitusi, yaitu agar mewujudkan pemilu secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Luber Jurdil).

“Jurdil sangat penting untuk tahapan yang paling menentukan selanjutnya yaitu perhitungan suara dan penetapan. Ini mudah – mudahan didengar KPU sehingga jadi perhatian,” tutur Din.

Pada kesempatan yang lain, Ketua PBNU Said Aqil Siraj mengajak dan menghimbau kepada seluruh warga Indonesia agar menjaga keutuhan dan kerukunan di manapun, sampai kapanpun dan dalam situasi apapun.

“Pemilu sudah berjalan dengan aman dan damai, tidak ada kerusuhan kerusuhan yang berarti. Ini merupakan keberhasilan rakyat Indonesia dalam menjalankan proses demokrasi politik,” ujarnya.

Pihaknya juga meminta kepada rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia telah menjalankan proses demokrasi dengan matang dan bijak. Karena Islam tidak bertentangan dengan demokrasi, pun demokrasi tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam. Hal senada juga diucapkan oleh Ketua PGI Pendeta Henriette Tabita Hutabarat Lebang, dirinya mengatakan, perlunya kembali merekatkan kalau ada gesekan setelah Pemilu 2019.

“Ini masanya saling bersatu kembali, saling damai kembali. Dalam pemahaman iman Kristiani, masa paskah ini, adalah masa dimana setiam orang merenungkan dirinya, merenungkan kesalahan dan berdamai satu sama lain. Karena dalam keyakinan Kristen, Kristus datang untuk membawa damai sejahtera,” ujar Pendeta Henriette.

Selain itu, menanggapi pasca Pemilu yang telah diselenggarakan 17 April lalu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghimbau kepada para kontestan pemilihan presiden – wakil presiden dan legislatif serta para tim sukses dan pendukungnya, hendaknya tidak membuat pernyataan spekulatif dan konfrontatif yang dapat menjadikan suasana pasca pemilu dan kehidupan kebangsaan menjadi tidak kondusif. Pihaknya juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, agar kembali melakukan aktifitas masing – masing sesuai profesi dan tugas masing – masing dengan tetap menjaga kerukunan, persatuan dan saling bekerjasama untuk kemajuan bangsa.

“Hampir satu tahun rakyat Indonesia terlibat dalam proses Pemilu 2019, karenanya diperlukan recovery atau pemulihan sekaligus kerja – kerja produktif untuk meraih kemajuan bagi masa depan Indonesia yang semakin banyak tantangan,” jelas Haedar.

PP Muhammadiyah juga mengajak kepada seluruh elite bangsa agar senantiasa memberikan suri tauladan yang baik dalam menciptakan ketenangan dan kedamaian di tubuh bangsa Indonesia pasca Pemilu.

“Hendaknya tetap menjalin kebersamaan dan merajut persaudaraan serta kerjasama dengan semua elemen bangsa untuk terwujudnya Indonesia yang aman, rukun, damai, moderat dan berkemajuan,” pungkas Haedar.

Beragam fitnah dan upaya delegitimasi untuk KPU tentu menjadi berita yang memperkeruh suasana demokrasi di Indonesia, para pendukung garis keras saling klaim hasil penghitungan yang mengunggulkan jagoannya, hal ini tentu harus diredam, karena bagaimanapun kita harus menunggu pengumuman resmi dari KPU. Apabila masyarakat menemui kecurangan, alangkah baiknya untuk disampaikan kepada Bawaslu melalui prosedur yang telah ditetapkan, tidak lantas mengunggahnya di sosial media sehingga para netizen akan rawan menerima berita yang belum tentu benar.

Para kontestan pemilu 2019 juga sebaiknya menjaga diri untuk tidak melakukan hal yang berlebihan, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan merupakan salah satu cara agar Sila Ke – 3 “Persatuan Indonesia” dapat terwujud. Siapapun presidennya, dialah presiden pilihan rakyat, demokrasi yang telah menjadi nafas di Indonesia haruslah dijunjung dengan semangat persatuan.

BERITA TERKAIT

AKIBAT AKSI DEMO 22 MEI 2019 - Aprindo: Pengusaha Mal Rugi Rp1,5 Triliun

Jakarta-Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan, kerugian pusat perbelanjaan atau mal di kawasan Jakarta yang menutup kegiatan operasionalnya karena demo…

Bagikan Dividen Rp 298,4 Miliar - Saratoga Berharap Bisnis Pulih Pasca Pilpres

NERACA Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) menetapkan dividen senilai…

MK Dahulukan Perkara Sengketa Hasil Pilpres 2019

MK Dahulukan Perkara Sengketa Hasil Pilpres 2019 NERACA Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) melalui juru bicaranya Fajar Laksono menyatakan pihaknya…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Persatuan Wujud Kemenangan Bersama Seluruh Warga Bangsa

  Oleh : Rahmat Ginanjar, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Pada 21 Mei dinihari merupakan hari dimana pengumuman resmi dari KPU telah…

Mengawal Kontribusi Pajak untuk Menjadi Manfaat

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak Berbagai upaya mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan di tahun 2019, pemerintah…

Diperlukan Konsolidasi Nasional, Segera!

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Sudah terlambat untuk saling menyalahkan. Begitu juga sudah bukan merupakan penyelesaian dengan mengatakan pelaku kerusuhan adalah…