OASA Selektif Pilih Proyek Margin Bagus - Tekan Angka Kerugian

NERACA

Jakarta – Mencatatkan pendapatan di 2018 sebesar Rp 22,82 miliar atau turun 28,59% dibanding tahun lalu Rp 31,96 miliar, mendorong PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) untuk kerja keras membalikkan keadaan lebih baik lagi di tahun ini. Apalagi, di tahun lalu perseroan juta membukukan rugi bersih Rp 758,32 juta.

Komisaris Utama PT Protech Mitra Perkasa Tbk, Anton Santoso mengatakan, perseroan akan lebih selektif memilih proyek dengan margin yang bagus. Dengan demikian, risiko kerugian dapat dibendung atau berkurang. Yang pasti, tahun ini OASA akan fokus dan mencari peluang bisnis di bidang kelistrikan. "Kami juga mencoba masuk ke sektor energi terbarukan, seperti PLTS atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya tahun ini," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Lantaran merugi di tahun lalu, OASA dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sepakat untuk tidak membagi dividen kepada para pemegang saham. "Jika tahun ini sudah profitable maka kami akan consider untuk mengadakan pembagian deviden. Namun karena masih rugi, hal tersebut belum ada,"kata Anton.

Dirinya juga menjelaskan, kinerja perusahaan tidak menggembirakan lantaran waktu pengerjaan proyek meleset dari estimasi. "Kerugian perusahaan disebabkan oleh pengerjaan suatu proyek yang seringkali tidak sesuai dengan waktu yang sudah diestimasi. Misalnya, suatu proyek yang diperkirakan berjalan tiga bulan, ada yang tertunda atau berjalan lebih lama karena suatu hal. Tentu ini akan menaikkan cost dan biaya operasional,"ungkapnya.

Kemudian untuk merambah bisnis energi terbarukan di tahun ini, kata Anton, perseroan berencana membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dinilai memiliki prospek cukup positif. Apalagi, Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan curah matahari yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan Peraturan menteri (Permen) ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) No 50/2019 tentang listrik surya atap, mengatur konsumen listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) bisa melakukan transfer energi listrik dari panel surya ke PLN kemudian disalurkan kembali ke rumah. Sehingga, penggunaan listrik dari PLN berkurang dan nantinya bisa mengurangi tagihan listrik. "Kami akan memasang instalasi panel surya sendiri. Kami juga sudah memiliki pembeli potensial dan memiliki penawaran. Kami berharap tahun ini bisa berjalan dengan adanya Permen tersebut," tambah Anton.

Diakuinya, pelaku bisnis masih terganjal dengan urusan perizinan dan administrasi birokratis, salah satunya adalah ketentuan PLN yang hanya membeli dengan harga 45%. Namun demikian, Anton percaya walau bisnis ini masih tergolong baru di Indonesia, pihaknya sudah sangat siap. Menurutnya, pemasangan instalasi panel surya tidak memakan waktu lama seperti halnya proyek kelistrikan lain. Selain itu, ketidakpastian (uncertainty) dari proyek ini lebih kecil. Selain itu, instalasi hanya memakan waktu sebulan karena sangat mudah.

Lebih lanjut, OASA sudah menggandeng tiga perusahaan swasta yang bergerak di sektor kelistrikan untuk menjalankan proyek tenaga surya atap. Tiga perusahaan tersebut, mampu menghasilkan listrik sebesar 2 megawatt. "Kami akan impor panel-panel surya dari China, kami pula yang akan pasang," imbuh Anton.

BERITA TERKAIT

Kantungi Empat Proyek Baru - TOTL Pede Target Kontrak Baru Capai Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Mengandalkan proyek-proyek pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya, tidak menjadi kekhawatiran bagi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)…

IPO Almazia Ditaksir Oversubscribed 3 Kali

NERACA Jakarta – Jelang pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas selaku penjamin emisi penawaran umum saham perdana…

MAPI Lunasi Pokok Obligasi Rp 205,45 Miliar

NERACA Jakarta – Pangkas beban utang dan juga menjaga kesehatan keuangan, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) telah melunasi pokok obligasi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perbaiki Kinerja Keuangan - INAF Kembangkan Strategic Business Unit

NERACA Jakarta – Dorong pengembangan bisnis lebih ekspansif, PT Indofarma Tbk (INAF) fokus mengembangkan strategi pendirian strategic business unit (SBU)…

Melalui Proyek ISED - Siapkan SDM Unggul di Manufaktur dan Pariwisata

NERACA JAKARTA - Indonesia telah memasuki era digitalisasi dan Industri 4.0. Bersamaan dengan hal tersebut, pemerintah Indonesia telah meluncurkan “Making…

Geliatkan KEK Tanjung Lesung - KIJA Cari Investor Potensial Kembangkan Wisata

NERACA Jakarta – Bangkit dari musibah gempa dan tsunami Banten yang terjadi pada 2018 lalu, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.…