26.000 Petani Kopi Oku Selatan Dilatih Tingkatkan Kualitas

26.000 Petani Kopi Oku Selatan Dilatih Tingkatkan Kualitas

NERACA

Palembang - Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH) yang bergerak di bidang pengembangan rencana pertumbuhan ekonomi hijau telah melatih 26.000 petani kopi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan.

Program Officer Coffee YIDH Melati mengatakan pembinaan dan pelatihan petani kopi tersebut untuk meningkatkan kualitas kopi sesuai keinginan pasar."Kabupaten OKU Selatan merupakan penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia, tapi jumlah besar itu tidak diikuti dengan kualitas yang masih rendah," ujar Melati pada diskusi pada Festival Musi Coffee Culture di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (7/4).

Menurut dia, YIDH mendukung program-program di tingkat petani terutama dalam upaya peningkatan kualitas produk untuk membuka akses ke pasar Eropa. Namun ia mengatakan tidak semua petani bersedia dilatih sehingga harus dilakukan pendekatan khusus.

Selain pembinaan, YIDH juga membantu petani memasarkan kopinya dengan metode penjualan kolektif yakni petani menjual kopi ke pedagang secara berkelompok, kemudian diekspor ke luar negeri.

YIDH juga bekerja sama dengan pihak swasta asing Hanns R Neumann Stiftung (HRNS) untuk melatih petani tersebut, pelatihan meliputi aspek tata kebun, proses penanaman, proses panen hingga pasca panen.

Country Director HRNS Indonesia Dr Adrian Bolliger mengatakan pihaknya berupaya memperbaiki praktek budi daya kopi, meningkatkan produktivitas kebun, memperkenalkan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, memperkuat kelompok tani, serta menghubungkan dengan pasar."Lebih dari 150.000 kali pelatihan HRNS diadakan sejak 2013 di 137 desa produsen kopi yang menjangkau 15.242 petani, hasilnya produksi kopi terus naik 4.000 ton, nilainya setara 7 juta dolar AS," kata Dr Adrian Bolliger.

HRNS berencana membuat sistem pertanian yang lebih beragam, menciptakan sumber mata pencaharian yang lebih luas dengan ditopang kemudahan akses keuangan, dan menguatkan keterlibatan perempuan, seiring upaya mengurangi deforestasi.

Keterlibatan pihak swasta, kata dia, merupakan hal yang penting dalam pengembangan sektor kopi. Hal itu untuk memastikan kopi yang dihasilkan oleh petani akan diserap oleh pasar seiring naiknya angka konsumsi kopi Indonesia dan dunia. Ant

BERITA TERKAIT

Asosiasi Dorong Petani Tembakau Jalin Kemitraan Dengan Perusahaan Rokok

NERACA Jakarta - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mendukung wacana pemerintah untuk mewajibkan importir atau perusahaan rokok membangun kemitraan dengan…

BPOM Temukan Pelanggaran Kadaluwarsa Kopi Pak Belalang

BPOM Temukan Pelanggaran Kadaluwarsa Kopi Pak Belalang NERACA Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan pelanggaran kopi merk…

Gandeng Kerjasam Baznas - SIMAC Berdayakan Umat Lewat Festival Kopi

Berbagi keberkahan di bulan Ramadhan, Santri Millenial Center (SIMAC) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengadakan festival kopi di Plaza…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Pemprov Banten Gelar Pasar Murah Stabilkan Harga Bahan Pokok

Pemprov Banten Gelar Pasar Murah Stabilkan Harga Bahan Pokok  NERACA Serang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui Dinas Perindustrian dan…

Pemkot Sukabumi Gelar Penyuluhan Produk Hukum Kepada Masyarakat

Pemkot Sukabumi Gelar Penyuluhan Produk Hukum Kepada Masyarakat NERACA Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi melalui bagian hukum lakukan penyuluhan…

Pemprov Jabar Siapkan Pembentukan 12 Daerah Otonomi Baru

Pemprov Jabar Siapkan Pembentukan 12 Daerah Otonomi Baru NERACA Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan Pemerintah…