Pengaruh Tingkat Bunga bagi Sistem Pembayaran

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Bank Sentral yang menargetkan tingkat dari reserve pada bank umumnya berusaha mencapai tujuan tersebut dengan mempengaruhi tingkat suku bunga jangka pendek. Trade off akan terjadi antara kemampuan mengontrol tingkat suku bunga tersebut dan kemauan untuk menargetkan reserve pada bank. Sementara itu bank komersial menahan reserve dalam rangka untuk mengantisipasi penarikan tabungan dan untuk melakukan pembayaran. Inilah keterkaitan awal antara tingkat suku bunga dan sistem pembayaran yang kerap dilupakan dalam melakukan telaah terhadap sistem pembayaran.

Reserve memberikan manfaat terhadap sistem pembayaran khususnya di negara dimana intraday overdrafts dari bank sentral tidak diberikan atau overnight overdraft akan mengalami hukuman yang sangat mahal. Risiko penyerahan harian dari swap tingkat suku bunga dan mata uang 0,1% dari total nilai transaksi. Risiko ini menyebabkan multiplier uang juga akan meningkat yang efeknya sama dengan peningkatan dari reserve requirement yang berujung kepada peningkatan dari penawaran akan uang yang merupakan komponen penting dari sistem pembayaran. Sementara perlu juga diingat bahwa kebijakan reserve requirement merupakan kebijakan yang secara relatif bersifat masif terhadap peningkatan dalam uang beredar.

Secara tradisional kebijakan moneter yang tidak menggunakan suku bunga dalam mempengaruhi uang beredar yang paling populer digunakan adalah open market operation. Dalam pasar reserve, open market operation akan menyebabkan maju atau mundurnya kurva reserve bagian vertikal dari kurva penewaran akan reserve. Dalam perkembangan ekonomi yang bercirikan globalisasi, terjadi pergeseran dari open market operation menuju kebijakan discount rate. Kebijakan discount rate sendiri mempengaruhi secara khusus naik atau turunnya upper bound dari kurva penawaran akan reserve tersebut.

Dengan demikian suku bunga bank sentral memainkan peran yang sentral dalam sistem pembayaran dari sisi penawaran. Sementara dalam sistem permintaan akan uang yang juga merupakan bagian tak terpisahkan dari sitem pembayaran tidak seluruhnya didominasi oleh tingkat suku bunga. Pendekatan Irving Fisher misalnya dapat menentukan tingkat ideal dari perputaran di negara yang perekonomiannya besar sebesar tujuh kali untuk uang beredar (M1). Bank sentral dapat memainkan kebijakan moneter yang paralel dengan memainkan kebijakan kebijakan discount rate dan deposit rate pada reserve secara simultan yang baru-baru ini dilakukan oleh Bank Sentral AS pada saaat krisis yang lalu. Perlu diingat bahwa kurva penawaran akan uang beredar bersifat vertikal dan kebijakan open market operation juga dapat bersifat defensif dan dynamic. Kebijakan defensif menuntut bank sentral untuk menjaga bank sentral rate untuk tidak naik sementara kebijakan dynamic dapat dilakukan bank sentral untuk mengubah tingkat suku bunga bank sentral.

Untuk mengamankan sistem pembayaran maka peningkatan dari risiko yang tentunya akan mempengaruhi permintaan akan reserve akan diantisipasi oleh open market operation atau penurunan discount rate supaya tingkat suku bunga untuk reserve tidak menjadi semakin mahal atau bahkan turun. Cara lainnya adalah menaikkan tingat suku bunga dari deposit untuk reserve, sehingga reserve mengalami penurunan.

Untuk menjaga sistem pembayaran dari naik atau turunnya discount rate secara liar adalah dengan menurunkan discount rate dan menaikkan deposit reserve rate secara bersama-sama yang sebetulnya juga memiliki efek yang sama dengan melakukan kebijakan open market operation. Kebijakan ini adalah kebijakan standar dalam menyelamatkan sistem pembayaran dari ancaman depresi perekonomian. Hal inilah yang dilupakan oleh Irving Fisher sehingga ia tidak dapat mengantisipasi depresi ekonomi pada tahun 1929 yang berakibat kepada hancurnya sistem pembayaran global.

Income velocity of money terbukti luput dalam mengindentifikasi risiko yang tengah terjadi pada saat itu. Terlepas dari itu velocity of money juga sangat dipengaruhi oleh efisiensi dari sistem pembayaran. Kecepatan dari uang juga sangat dipengaruhi seberapa sering perusahaan membayar upah pegawai. Pembayaran upah pegawai mingguan akan mempercepat kecepatan uang beredar. Karena itu adalah sangat bijaksana jika kebijakan alat pembayaran tunai dan non tunai tidak perlu dipertentangkan lagi karena yang penting adalah efisiensi dari sistem pembayaran itu sendiri. Masalahnya kecepatan uang bersifat tetap dalam jangka pendek sehingga kalaupun terjadi perubahan dalam jangka panjang akan bersifat lambat. Dengan kata lain kebijakan untuk menaikkan tingkat suku bunga bank sentral juga akan membuat sistem pembayaran akan semakin efisien dalam jangka pendek.

Menurut Neo Klasik, uang bersifat netral terhadap income sehingga peningkatan uang beredar akan meningkatkan inflasi. Hal yang sepenuhnya tidak benar. Dengan kata lain neo klasik mengasumsikan perekonomian masuk dalam perangkap pendapatan. Dalam teori kuantitas dari uang adalah harga yang akan mempengaruhi permintaan akan uang bersama efisiensi sistem pembayaran dan pendapatan, dan bukan tingkat suku bunga. Dengan demikian dari sisi pendekatan klasik, pengaruh tingkat suku bunga terhadap sistem pembayaran hanya berasal dari sisi penawaran uang beredar saja.

Keputusan The Fed untuk tidak menaikan tingkat suku bunga pada tahun ini (2019) merupakan indikator bahwa perekonomian dunia sedang dalam proses pelemahan yang sistematis, sehingga penawaran uang beredar dipaksa untuk stabil agar sistem pembayaran tidak mengalami gejolak yang berarti sekalipun profit taking terbukti terjadi pada hari Jumat dan Senin setelah keputusan Bank Sentral AS tersebut.

BERITA TERKAIT

Teknologi dan Industri di Satu Sistem

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Teknologi dan Industri dalam kesehariannya adalah kosakata netral. Tetapi begitu saling bersenyawa menyatu…

RI Mendorong Penguatan Sistem Perdagangan WTO

NERACA Jakarta – Indonesia mendorong penguatan sistem perdagangan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang disampaikan melalui Pertemuan Menteri Perdagangan Asia-Pacific Economic…

Trans Power Bagi Dividen Rp 26,6 Per Saham

NERACA Jakarta – Sukses mencetak pencapaian kinerja keuangan yang apik sepanjang tahun lalu, mendorong PT Trans Power Marine Tbk (TPMA)…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Persatuan Wujud Kemenangan Bersama Seluruh Warga Bangsa

  Oleh : Rahmat Ginanjar, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Pada 21 Mei dinihari merupakan hari dimana pengumuman resmi dari KPU telah…

Mengawal Kontribusi Pajak untuk Menjadi Manfaat

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak Berbagai upaya mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan di tahun 2019, pemerintah…

Diperlukan Konsolidasi Nasional, Segera!

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Sudah terlambat untuk saling menyalahkan. Begitu juga sudah bukan merupakan penyelesaian dengan mengatakan pelaku kerusuhan adalah…