Meningkatkan Produktivitas Generasi Milenial

Oleh : Untung Juanto ST. MM, Pemerhati Produktivitas SDM

Debat Capres mengenai starup unicorn masih ramai diperbincangkan oleh netizen di dunia maya dan menjadi viral setelah Capres nomor urut 01 Joko Widodo memberikan pertanyaan kepada Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Unicornyang dimaksudkan dalam debat tersebut bukanlah seekor kuda putih bertanduk seperti hewan legenda mitologi meskipun istilah tersebut berasal dari hewan legenda mitologi tersebut. Unicornadalah status yang diberikan pada suatu perusahaan rintisan atau startup yang memiliki nilai valuasi lebih dari US$1 miliar atau setara dengan Rp 14 triliun dengan asumsi kurs 1 USD = Rp 14.000.

Istilah unicorn pertama kali diperkenalkan oleh Aileen lee founder dari Cowboy Ventures pada tahun 2013 dalamartikelnya “Welcome to The Unicorn Club”.Aillen Lee telah melakukan riset terhadap 39 perusahaan startup yang berstatus unicorn dan akan terus bertambah empat startup baru degan status unicorn setiap tahunnyan. Sampai saat ini perkembangannya lebih cepat dari prediksi Ailern Lee karena sampai tahun 2019 ini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 300 Unicorn di seluruh dunia.

Di Indonesia terdapat empat perusahaanstartupyang sudah mencapai status unicorn. Mereka adalah Gojek dengan valuasi sebesar US$9,5 miliar, Tokopedia sebesar US$7 miliar, Traveloka sebesar US$4,1 miliar, dan terakhir Bukalapak sebesar US$1 miliar. Dengan semakin berkembangnya perusahaan startup di Indonesia dan mulai mencapai angka valuasi US$1 miliar ini membuat banyak investor untuk menyuntik dana ke perusahaan–perusahaan startup tersebut karena memiliki prospek yang menjanjikan pada era milenium ini dimana disruptive technology menjadi salah satu latent demand dalam perebutan kue market size yang sangat prospektif.

Dalam perkembangan selanjutnya di dunia startup valuasinya meningkat secara signifikan sehingga muncul istilah baru yang dikenal denganDecacorn yaitu status tingkat lanjut yang diberikan kepadastartupdengan valuasi lebih dari US$10 miliar. Berdasarkan riset dariCB Insights terdapat banyak perusahaan startup yang mulai memiliki status ini yang didominasi dari negara Amerika Serikat dan Cina. Perusahaan start up tersebut diantaranya adalah Toutiao dengan valuasi US$75 miliar, Uber sekitar US$72 miliar, Didi Chuxing sekitar US$56 miliar, WeWork sekitar US$47 miliar, Airbnb sekitar US$29,3 miliar. Hanya Grab perusahaan dari Asia Tenggara yang mencapai statusdecacorn dengan valuasi sebesar US$11 milliar. Setelah decacorn naik ke tingkat yang lebih tinggi yaitu Hectocorn untuk perusahaan startup dengan nilai valuasi mencapai US$100 milliar.

Suntikan dana terutama dari luar negri bisa mempercepat perkembangan startup unicorn, di sis lain investor asing tersebut dikhawatirkan bisa mengambil dan menyalahgunakan data user yangdikumpulkanstartup unicorn. Data-data user ini dapat diolah untuk mendapatkan pasar di Indonesia. Sehingga bila tidak diantisipasi dapat terjadi penyalahgunaan data pengguna oleh investor asing untuk kepentingan database market mereka sehingga Indonesia hanya menjadi pasar saja.

Generasi milenial yang lahir pada masa internet booming membawa lifestyle yang unik dengan sistem kehidupan yang sedang mengalami transformasi. Saat ini generasi milenial menganggap kehidupan sosial sebagai aspek yang penting walaupun melalui dunia maya. Berbagai kemajuan teknologi dan perilaku konsumtif menjadi karakteristik era milenium ini.

Berikut beberapa karakteristik generasi milenial:

-Ketergantungan terhadap Gadget

Gadget saat ini menjadi bagian dari kehidupan generasi millenial, banyak kemudahan yang ditawarkan membuat para milenial betah berselancar dengan gadgetnya sehingga tidak bisa lepas dari gadget tersebut. Generasi millenial suka sekali untuk sharing informasi apapun terkadang tanpa di filter pada siapa pun dan di mana pun. Dalam dunia pendidikan dan dunia kerja saat ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi tersebut. Melihat moment yanginstagram-able langsung update status seperti makanan, pakaian branded atau ada tempat kumpul baru.

-Suka dengan yang cepat dan instan

Perkembangan teknologi berkontribusi terhadap kemudahan para millennial untuk mendapatkan hal yang diinginkan tanpa menunggu lama. Mobilitas yang tinggi membuat mereka memilih yang serba instant dan simple semua dalam kendali jari tangan. Kecanggihan teknologi bukan hanya ada pada smartphone atau gadget saja. Bahkan saat ini pun dalam melakukan transaksi juga makin mudah dan cepat, real time. Berkembangnya metode transaksi non-tunai melalui media kemajuan teknologi internet.

-Cepat Bosan

Generasi millenial memang punya jurus gercepalias gerak cepat kalau sedang keluar produk baru. Dengan mudahnya mengakses internet dan dalam waktu singkat sudah bertransaksi online. Tetapi ternyata generasi millennial mudah bosan dengan barang yang mereka miliki kemudian barang-barang mereka segera di jual kembali di situs jual beli online. Di sisi lainnya mereka lebih suka menghabiskan uang untuk traveling mencari pengalaman dibandingkan menambah aset untuk berinvestasi.

-Multitasking

Generasi Millennials ternyata mampu untuk melakukan beberapa tugas secara bersamaan. Mobilitas serta aktivitas yang tinggi membuat mereka terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan dalam waktu yang cepat.

-Kritis terhadap fenomena sosial

Karena banyak menghabiskan banyak waktu untuk berselancar di dunia maya dengan smartphone atau gadgetnya maka banyak informasi yang di terima dari seluruh dunia sehingga lebih aktif untuk beropini di media sosial mengenai berita yang sedang hangat. Sekarang ngobrol rame-rame tidak harus bertemu secara fisik dengan komunitasnya berkat banyaknya aplikasi berbasischat, semua orang pun bisa ngobrol dengan banyak teman sekaligus dalam fiturgroup chat.

Generasi milenial atau disebut juga generasi Y yang lahir antara tahun 1980an hingga 2000an, saat ini usia mereka berada antara 20 hingga 30 tahun. Mereka menempati posisi terbesar kedua dalam jumlah terbanyak yang berada di dalam dunia kerja di Indonesia hampir 40%. Setelah mengenal karakter dasar Generasi milennial di atas maka akan lebih mudah untuk menemukan cara kerja yang lebih efisien dan efektif sehingga lebih produktif. Berikut adalah 5 cara kerja yang bisa diterapkan untuk meningkatkan produktivitas generasi milennial:

-Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan

Hilangkan hierarki dan otoritas yang tidak perlu dalam pekerjaan karena hal tersebut akan mempersulit penyelesaian pekerjaan. Menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang positif dan menyenangkan dengan supervisi yang minim.

-Memberi contoh yang jelas dalam bekerja

Tempatkan karyawan senior yang bisa memberikan teladan dan arahan yang jelas bagi tim dengan cara lead by example. Buat skema strategi sejelas mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan beserta timeline pengerjaannya.

-Kolaborasi dengan rekan kerja

Bertukar pengetahuan dengan para millennial di waktu senggang dengan memanfaatkan teknologi. Kolaborasi ini akan dapat memaksimalkan alat, teknologi, program atau aplikasi terbaik yang membuat kerja lebih efektif dan efisien. Berikan pendampingan untuk mengembangkan kreativitas dan membangun diskusi proaktif untuk penyelesaian kerja yang lebih baik.

-Berikan kesempatan untuk pengembangan diri

Berikan ruang untuk generasi millennial mengembangkan diri dengan memberikan mereka pelatihan dan buku atau materi pembelajaran yang dapat membantu mereka memaksimalkan potensi. Gunakan waktu luang untuk belajar atau terlibat dalam proyek lain untuk berkolaborasi. Perusahaan terbuka bagi karyawannya mengambil pelatihan atau kesempatan kerja yang lebih luas untuk pengembangan diri.

-Memberikan motivasi dengan kebebasan berekspresi

Motivasi yang paling baik adalah dengan memberikan ruang untuk generasi millennial menuangkan ide dan masukan dalam pekerjaan yang membuat mereka semangat dan optimis akan bekerja lebih baik. Kelola saran atau pendapat yang ditujukan kepada management sebagai sesifeedback berkala untuk melihat opportunity.

Generasi Millennial memiliki banyak strategi yang smart untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan membawa lifestyle dan konsep baru. Kreativitas dengan cara kerja yang beragam akan menghasilkan metode kerja yang efektif dan efisien untuk meningkatkan produktivitas personal dan perusahaannya.

BERITA TERKAIT

Calon Jaksa Agung Pilihan Milenial dan Netizen

  NERACA   Jakarta - Aliansi Mahasiswa Peduli Hukum Indonesia (AMPHI) melakukan survey siapa calon Jaksa Agung yang diinginkan masyarakat…

Menperin: Milenial Penopang Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam memasuki era revolusi industri 4.0.…

Menperin: Milenial Penopang Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam memasuki era revolusi industri 4.0.…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Dukung Hasil Keputusan Sidang MK Demi Persatuan Bangsa

    Oleh: Muhammad Martin Abdullah, Mahasiswa Unas Jakarta   Pelaksanaan Pemilu 2019 ini banyak pihak menilai sudah berjalan baik…

Deindustrialisasi Makin Nyata, Ekonomi Memburuk

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Ekonomi Indonesia 2019 semakin terpuruk. Neraca perdagangan selama empat…

Limbah Medis: Bagaimana Dikelola?

Oleh: Evelyn Suleeman, Peneliti dan Dosen Sosiologi di FISIP-UI Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) sangat berbahaya bagi lingkungan hidup,…