Indocement Patok Pertumbuhan Konservatif - Bisnis Semen Masih Lesu

NERACA

Jakarta – Mempertimbangkan masih terjadinya kelebihan pasokan pasar semen dalam negeri dan juga melihat pencapaian kinerja keuangan sepanjang tahun 2018 yang stagnan, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) tahun ini menargetkan pertumbuhan bisnis sangat konservatif. Dimana perseroan menargetkan pendapatan tumbuh sebesar 4% tahun ini.

Target tersebut melambat dibandingkan dengan capaian perseroan pada tahun sebelumnya, mencatatkan pendapatan senilai Rp15,19 triliun atau naik tipis sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp14,43 triliun.”Pada semester I/2019 permintaan semen masih lemah karena faktor cuaca yang menyebabkan banjir, selain itu ada Pemilu, puasa, dan lebaran,”kata Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa, Christian Kartawijaya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kondisi berbeda akan terjadi pada paruh kedua 2019, dimana sektor properti baik hunian maupun komersial baru akan bangkit dan lanjutan program pembangunan infrastruktur yang membawa angin segar bagi perseroan. Selain itu, Christian memprediksi biaya-biaya produksi perseroan akan membaik karena penguatan nilai tukar rupiah dan penurunan harga batu bara dan minyak di semester I/2019.”Kami mengantongi 4 sampai 5 tender bahkan lebih dalam pipeline kami pada tahun ini, kami prediksi akan lebih baik,”ungkapnya.

Meskipun laba tahun kemarin terkoreksi, perseroan merencanakan membagikan dividen. Dimana dividen payout ratio atau rasio dividen terhadap laba bersih tahun buku 2018 sama dengan besaran tahun buku 2017. Seperti diketahui, untuk tahun buku 2017, perseroan membagikan dividen dengan rasio 138,6% atau senilai Rp2,577 triliun. Sedangkan laba bersih tahun 2017 tercatat sebesar Rp1,85 triliun. Kemudian perseroan akan menekan efisiensi guna menjaga pertumbuhan bisnis di tahun ini.

Efisiensi dilakukan adalah dengan meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif. Ini dilihat dari perjanjian INTP dengan pemerintah Jabar September 2018 untuk membeli 500 ton Refuse Derived Fuel (RDF), sebagai hasil pengolahan dari 1.500 ton sampah masyarakat. “Penggunaan RDF nantinya akan menurunkan ketergantungan pada batubara sebagai sumber bahan bakar. Apalagi, jarak yang dekat antara tempat pengumpulan RDF dan Citeureup 6,6 km," kata Christian.

Christian mengungkapkan, langkah efisiensi telah diterapkan sejak kuartal IV-2018. Salah satu upayanya dengan menganalisa logistik, supply chainagar bisa lebih efisien. Selain itu, INTP juga telah melakukan pembangun terminal, salah satunya terminal Lampung yang dibangun di atas lahan seluas 4,2 hektare (ha). Di mana kapasitas produksi Bag mencapai 1.500 ton per hari dan bulk sebanyak 1.000 ton per hari. “Dengan terminal, kalau dulu kita bawa pakai big bag, mahal, all the way pakai truk, ferry dan lainnya, sekarang kita pakai kapal sebagian. Ini salah satu langkah yang kita lakukan," jelasnya.

Bahkan, perseroan juga telah menutup tiga pabriknya dan menggantikannya dengan pabrik P14 yang memiliki kapasitas produksi hingga 4,4 juta ton. Maka dengan demikian, lanjutnya, perseroan bisa efisiensi karena biaya bahan bakar yang dikeluarkan juga lebih rendah. Strategi lainnya, adalah mendorong penjualan klinker di mana pada 2018 jumlah penjualannya meningkat hingga 47,6%. Ditambah lagi, dengan kebijakan pemerintah yang membatasi impor klinker membuat produksi klinker Tanah Air bisa diserap dengan baik.

Upaya lain yang dilakukan INTP yakni dengan integrasi vertikal di bidang beton siap pakai dan agregat.Harapannya, ini mampu memperkuat juga bisnis beton siap pakai, terutama yang memiliki kualitas tinggi, demi memenuhi permintaan proyek infrastruktur. Sebagai informasi, saat ini dua produk brand perseroan menjadi andalan. Dimana brand Semen Tiga Roda saat ini berkontribusi hingga 94% terhadap total bisnis INTP dan sedangkan sisanya berasal dari Semen Rajawali 6%."Untuk Rajawali, strateginya kita hanya menjual terbatas, yaitu di Jakarta, Jawa Barat dan beberapa kota di Jawa Tengah," ungkap Christian.

BERITA TERKAIT

Prospek Bisnis Ban Positif - Multistrada Masih Bukukan Rugi US$ 8,18 Juta

NERACA Jakarta –Aksi korporasi Compagnie Generale Des Etablissements Michelin (Michelin) mengakuisisi 80% saham PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) di…

Dukung Program Penghapusan Stunting - Indocement Beri Makanan Tambahan Anak Sekolah

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dan juga dukungan kepada pemerintah dalam menghapus stunting atau gizi buruk, manajemen industri…

Pertumbuhan Otomotif Jadi Magnet DFSK Bermain di SUV

Pasar otomotif Indonesia menjadi salah satu magnet bagi perusahaan otomotif dunia untuk menawarkan portofolio kendaraannya di tanah air, termasuk jenama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Bersih Siantar Top Naik 17,95%

NERACA Jakarta – Di tahun 2018 kemarin, PT Siantar Top Tbk (STTP) berhasil membukukan kenaikan laba bersih sebesar 17,95% secara…

LMPI Targetkan Penjualan Rp 523,89 Miliar

NERACA Jakarta – Meskipun sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) masih mencatatkan rugi sebesar Rp 46,39…

Bumi Teknokultura Raup Untung Rp 76 Miliar

PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) membukukan laba bersih Rp76 miliar pada 2018, setelah membukukan rugi bersih sebesar Rp31,48 miliar…