Menakar Risiko Beli Saham Pakai Kartu Kredit - Permudah Transaksi di Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Meskipun wacana agar transaksi saham di pasar modal bisa menggunakan kartu kredit masih dalam kajian dan belum diputuskan, namun rencana dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memudahkan investor berinvestasi di pasar modal menuai pro dan kontra. Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Kapital pernah bilang, dalam teori invesasi memang tidak ada peraturan mutlak tentang sumber dananya harus berasal dari dana sendiri dan bukan utang.

Dalam arti itu, berinvestasi dengan utang kartu kredit pun tidak dilarang, selama investor yang bersangkutan memahami risikonya. Akan tetapi, dengan membuka keran pembelian saham menggunakan fasilitas pendanaan bank melalui kartu kredit berpotensi membahayakan investor. Pasalnya, karakter investasi bersifat tidak pasti, sedangkan biaya kartu kredit bersifat pasti.”Ini bisa menyebabkan terjadi mismatch dalam portofolio investor, sehingga kalau ini dibuka prose literasi tentang risikonya harus benar-benar sampai paham. Jangan sampai investor kita karena kurang terdukasi akan lebih banyak dapat mudaratnya dari pada manfaatnya,” ujarnya.

Menurutnya, pelaku pasar dan terutama ritel harus memahami dengan baik perbedaan antara investasi jangka panjang dan trading jangka pendek. Aktivitas trading membutuhkan kemampuan dan pemahaman tentang pasar modal yang lebih dalam dibandingkan dengan investasi.

Bagi pihak-pihak yang sudah khatam tentang ilmu-ilmu analis teknikal untuk trading, boleh jadi selama ini sudah menggunakan kartu kredit atau pinjaman bank untuk mendukung kegiatan tradingnya. Akan tetapi, bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang, memanfaatkan kartu kredit bisa sangat berisiko, sebab beban bunga kartu kredit bersifat jangka pendek. Belum tentu keuntungan investasi dalam jangka pendek sudah mampu menutupi biaya-biaya kartu kredit tersebut.

Sementara bagi investor saham, Irwan Ariston Napitupulu, dirinya kurang setuju dengan wacana itu. Sebab, upaya itu tidak sejalan dengan prinsip investasi saham. "Sangat tidak saya sarankan. Karena bertolak belakang dengan prinsip investasi di saham," ujarnya.

Irwan bilang, wacana itu memiliki beberapa risiko. Pertama, investasi saham berjangka panjang, minimal tiga tahun atau lebih, sementara kartu kredit untuk jangka pendek. Selain itu, kartu kredit sifatnya berutang dan bunganya tinggi. Padahal berinvestasi saham harus menggunakan dana nganggur.

Irwan menambahkan, jika membeli saham dengan kartu kredit maka setiap transaksi dengan kartu kredit tersebut terkena biaya sekitar 2%-3% per transaksi. Oleh karena itu, dirinya meminta agar masyarakat tidak dibiasakan untuk berinvestasi menggunakan pola pikir berutang atau meminjam duit.”Karena investasi di saham selayaknya memakai dana pribadi yang sifatnya tidak akan digunakan dalam jangka menengah atau panjang," tutur Irwan.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengungkapkan, saat ini pihaknya masih dalam proses kajian terkait memungkinkan atau tidaknya kartu kredit sebagai alat pembayaran di pasar modal. Disampaikannya, penggunaan kartu kredit itu bukan beli saham secara langsung, jadi yang dibeli adalah reksadana bukan saham. Meskipun masih dalam kajian, Inarno menjelaskan kemungkinan menggunakan kartu kredit sebagai alat transaksi pembayaran bakal dilakukan lewat reksadana. Sehingga, secara tidak langsung saat investor membeli reksadana, memungkinkan untuk selanjutnya dananya digunakan untuk membeli saham.

BERITA TERKAIT

Gelar IPO, Bliss Properti Lepas 1,7 Miliar Saham

Satu lagi, perusahaan yang bakal mencatatkan saham perdananya di pasar modal adalah PT Bliss Properti Indonesia. Dalam prospektus yang diterbitkan…

Diversifikasi Ke Pasar On-Road Truck - Kobexindo Pasarkan Foton Truck dari Beijing

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan penjualan, PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) melalui anak perusahan PT Kobexindo Foton Indonesia resmi menjadi…

Pertimbangkan Kondisi Pasar - Anak Usaha BUMN IPO di Paruh Kedua

NERACA Jakarat – Sejak pembukaan perdagangan di tahun 2019, baru tiga perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…