MNC Investama Agendakan Rights Issue - Konversi Saham Lunasi Utang

NERACA

Jakarta – Cari pendanaan strategis guna mendukung ekspansi bisnis, PT MNC Investama Tbk (BHIT) berencana menambah modal dengan melakukan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMTD) atau rights issue. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin disebutkan, saham yang bakal dilepas BHIT sebesar 17,57 miliar saham dengan memperhatikan peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan No.32/POJK/04/2015.

Perusahaan memberi kewenangan penuh kepada dewan direksi dengan persetujuan dewan komisaris untuk merealisasikan aksi ini. Rencana ini akan disampaikan oleh manajemen BHIT dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang akan digelar pada 26 April 2019 mendatang. Selain itu, BHIT juga akan meminta persetujuan mengenai rencana untuk melakukan konversi utang menjadi saham melalui mekanisme rights issue dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam rights issue kali ini, BHIT akan mengkonversi utang yang dimiliki perusahaan pada Carvaggio Holding limited dan New Ascend Limited yang sebesar US$ 115 juta. Agenda lain adalah meminta persetujuan perubahan pasal 4 anggaran dasar Perseroan terkait rights issue dan rencana konversi utang menjadi saham.

Sebelumnya, perseroan di tahun lalu juga telah menyampaikan restrukturisasi utang dengan skema konversi saham alias penambahan modal perusahaan terbuka tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Disebutkan, aksi ini dilakukan untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan dan memperkuat struktur permodalan dan rasio utang terhadap ekuitas.

Senior Analyst Research Division Anugerah Sekuritas Indonesia, Bertoni Rio pernah bilang, aksi konversi saham lebih disukai emiten sebagai solusi restrukturisasi utang. "Manajemen perseroan tidak dibebani dengan biaya bunga, tidak pusing dengan jatuh tempo dan bisa konsentrasi pada kinerja emitennya," papar Rio.

Selain itu, konversi utang menjadi saham juga dipercaya bisa membuat likuiditas saham di pasar jadi lebih tinggi. Namun demkian, lanjut Rio, investor perlu mewaspadai restrukturisasi dengan cara ini. Pasalnya, emiten berpeluang melakukan aksi korporasi seperti rights issue atau reverse stocks. Sehingga, pemilik saham lama berpotensi mengalami dilusi.

Disebutkan, para pemegang saham BHIT akan mengalami dilusi sebanyak-banyaknya 29,99% dan dilusi ini diklaim terjadi pada harga pasar sehingga tidak merugikan pemegang saham saat ini.

BERITA TERKAIT

Naik 7,4%, Utang Luar Negeri Capai Rp 5.521 Triliun

  NERACA   Jakarta - Utang luar negeri Indonesia pada akhir Mei 2019 naik 7,4 persen secara tahunan (year on…

MKDA Private Placement 215 Juta Saham

NERACA Jakarta – Emiten pertambangan emas PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) bakal perkuat modal dengan aksi korporasi penambahan modal…

Saham Trikomsel Masuk Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham di luar kebiasaan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati pergerakan saham PT Trikomsel…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Acting in Concert Pemicu Jababeka Default

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) berpotensi mengalami gagal bayar notes senilai US$ 300 juta karena terjadinya perubahan pengendali sebagaimana…

Gandeng Perusahan Taiwan - Kalbe Farma Bidik Cuan di Bisnis Kecantikan

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan, inovasi dan pengembangan bisnis menjadi strategi yang dilakukan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Menggandeng…

Volume Penjualan Semen SMCB Turun 3,30%

NERACA Jakarta – Melorotnya penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) di semester pertama tahun ini, juga dirasakan oleh anak…