Selaraskan Hobi Anak dengan Tempat Tinggal

NERACA


Dalam membangun maupun mengembangkan rumah yang sudah jadi, utamanya haruslah mengadaptasi kebutuhan seluruh anggota keluarga, tak terkecuali anak-anak. Shahnaz Haque sangat memperhatikan kebutuhan ketiga buah hatinya yakni Pruistin Aisha (10 tahun), Charlotte Fatima (9 tahun) dan Mieke Namira (6 tahun). “Sejatinya, rumah merupakan tempat kembali pulang dan haruslah menjadi hal yang paling dirindukan. Oleh sebab itu, rumah harus nyaman untuk anak-anak agar mereka betah berlama-lama di rumah,” tukasnya.

Dikarenakan anak-anak Shahnaz belum beranjak remaja, maka keinginan belum lagi aneh-aneh. Mereka belum meminta perombakan kamar sesuai pribadi, seperti warna cat dinding, penataan furnitur dan lain-lain. “Apa yang sudah dipilihkan dan ditata ibunya, mereka iya-iya saja. Tentunya saya buat semenarik mungkin,” ujar perempuan yang mengaku tidak bisa memasak ini.

Incaran utama agar para buah hatinya betah, Shahnaz menggabungkan fungsi rumah sebagai tempat tinggal dan penyaluran hobi anak-anaknya. Ketiga anak Shahnaz menyukai kegiatan meneropong bintang, “Jadi saya membuat area kosong (dak) di lantai paling atas, terbuka, khusus untuk meneropong bintang. Lalu, karena rumah ini tidak seberapa luasnya, saya membuat tangga khusus yang menempel pada dinding lalu bisa ditarik ke bawah. Ini salah satu trik agar tidak memakan banyak tempat,” jelas anak bungsu dari 3 bersaudara ini.

Selain itu, fungsi lantai atas ini bisa juga untuk ruang sholat. Bila langit terang, seluruh anggota keluarga kecil Shahnaz memilih sholat berjamaah di ruang terbuka ini. “Seru banget shalat di bawah langit dan bintang-bintang. Ini pengalaman yang menarik dan bisa lebih dekat dengan keagungan Tuhan,” imbuhnya.

Sebagai tambahan untuk memuaskan hobi anak-anaknya, lagi-lagi kamar mandi pun berkonsep “atap langit”. “Jadi di atap kamar mandi, fungsi genteng digantikan kaca agar mandi pun bisa melihat bintang. Tapi tentu saja harus diperhatikan juga agar tidak ada yang mengintip, hehe,” gelak Shahnaz.

Karena Shahnaz merasa gerak anak-anaknya sudah bisa terkendali, ia pun tak ragu menghias rumah dengan perabotan dari barang pecah belah. Namun tidak terlalu banyak, sebab aslinya Shahnaz tidak terlalu suka rumah yang ramai dengan aksesoris. “Seperlunya saja. Di ruang tamu atau ruang-ruang lain yang menurut saya perlu untuk didandani,” jelasnya.

Shahnaz tak melupakan konsep “eco-friendly yang ditularkannya kepada anak-anak. Dalam pemilihan cat rumah, misalnya, ia menggunakan produk yang ramah lingkungan. Pilah-pilah cat rumah ini penting sebab Shahnaz dan Gilang merelakan dindingnya menjadi sarana berekspresi bagi ketiga buah hatinya.

“Aku pilih cat yang tidak mengandung bahan kimia berbahaya, yang tidak berbau atau yang minim efek negatifnya untuk anak-anak,” tuturnya.

Begitu juga penggunaan bahan bangunan, banyak area hijaunya serta kental pula nuansa alamnya. “Anak-anak juga dibiasakan merawat rumah secara sederhana, mulai dari membuang sampah. Saya memisahkan sampah basah dan kering. Edukasi-edukasi ini berguna sekali untuk masa depan kehidupan dan ini saya yang coba saya ajarkan kepada mereka,” jelas perempuan yang pernah didaulat untuk menjadi Duta Campak Unicef ini.

Related posts