Investasi Reksa Dana Terus Digenjot Tumbuh 40% - Investasi Industri Asuransi di 2012

Neraca

Jakarta – Industri asuransi jiwa masih betah menginvestasikan dananya di reksa dana. Pasalnya, saat ini ditengah krisis ekonomi global, investasi reksa dana dinilai paling aman ketimbang investasi di saham di pasar modal. Oleh karena itu, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menargetkan investasi reksa dana ditahun 2012 akan tumbuh 20-30%.

Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim mengatakan, investasi ditahun ini akan naik seiring dengan naiknya pertumbuhan premi asuransi. Namun investasi yang dipilih masih reksa dana dan obligasi, “Untuk masuk investasi saham di pasar modal belum tau, tapi kalau pasarnya bagus mungkin ke arah sana,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Asal tahu saja, pada 2011 hasil investasi asuransi jiwa turun 43,89% menjadi Rp 13,42 triliun, dari tahun sebelumnya Rp 23,92 triliun. Akibat penurunan ini, pendapatan total industri asuransi jiwa nasional hanya tumbuh 7,99% menjadi Rp 110,61 triliun, dari tahun sebelumnya Rp 102,43 triliun. Padahal andai saja hasil investasi bertambah, pendapatan industri asuransi jiwa bisa lebih besar.

Kata Hendrisman Rahim, imbal hasil merosot karena pengaruh dampak krisis global. “Karena pengaruh krisis Eropa dan AS, walau nilai investasi naik, tetapi hasilnya tidak setinggi tahun sebelumnya,”ujarnya.

Tahun lalu, total dana yang diinvestasikan industri asuransi jiwa Rp 197,541 triliun atau tumbuh 25,55% dari tahun sebelumnya Rp 157,34 triliun. Nah, sekitar Rp 149,22 triliun 75,49% ditempatkan di instrumen pasar modal seperti saham, obligasi, Surat Utang Negara (SUN) dan reksadana.

Namun, meski hasil investasi menyusut, industri asuransi jiwa masih tumbuh positif. Pasalnya, aset menunjukkan pertumbuhan sebesar 28,88% menjadi Rp 225,25 triliun dari sebelumnya Rp 174,77 triliun. Peningkatan aset ditopang pertumbuhan premi 24,28% menjadi Rp 94,43 triliun.

Hendrisman bilang, tahun ini dia tetap optimistis investasi asuransi jiwa akan membaik. Hanya portofolio investasi agak sedikit bergeser. Reksadana akan lebih dipilih karena relatif aman dibanding instrumen lain. “Apalagi deposito tentu tidak menarik setelah bunga yang ditawarkan perbankan cenderung turun mengikuti suku bunga acuan (BI Rate),” tandas Hendrisman.

Karena itu, Hendrisman yakin target pertumbuhan asuransi di kisaran 25%-30% bisa tercapai. Alasannya, jumlah pemain asuransi bertambah dari tahun ke tahun. Bahkan sudah banyak pelaku asuransi asing melirik pasar Indonesia.

Hanya saja untuk mencapai target total aset industri jiwa menjadi Rp 500 triliun pada akhir 2015 mendatang lebih berat. “Apalagi kalau hanya secara industri tumbuh di kisaran 30%, apalagi di bawah itu,” ujar Hendrisman.

Benny Waworuntu Direktur Eksekutif AAJI menambahkan, goncang-ganjing pasar modal tahun lalu bukan pertama kalinya dihadapi industri asuransi jiwa. Pada tahun 2003 dan 2008 dulu mereka juga pernah kena dampak. "Kami tidak menaruh perhatian luar biasa pada kasus tahun lalu, tapi tahun ini mesti tetap hati-hati," ujarnya. (maya/bani)

Related posts