Restrukturisasi Belum Jelas, Investor Dihimbau Lepas Saham - Gagal Bayar Utang BLTA

Neraca

Jakarta – Prestasi kinerja PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) masuk dalam rapot merah. Pasalnya, peringkat perusahaan turun drastis dari CCC menjadi D lantaran gagal bayar utang jatuh tempo.

Merespon hal tersebut, ketua umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan menganjurkan pemegang saham untuk segera melepas sahamnya di BLTA, “Sebaiknya pemegang saham menjual saham BLTA jika kondisi perusahaan belum ada juga perubahan untuk membayar sebelum dinyatakan gagal bayar,”katanya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Menurutnya, bisnis angkutan jasa transportasi pelayaran dinilai sangat berprospek dan sejatinya BLTA yang sudah menggeluti bisnis tersebut tidak mengalami kesulitan membayar utang jatuh tempo.

Dirinya berpendapat, kesulitan yang dialami perseroan dalam gagal bayar utang lebih disebabkan pengelolaan perusahaan yang bermasalah. Kemudian, lanjutnya, bila perusahaan belum bisa juga mampu membayar utang ada baiknya beralih kepada bisnis baru, seperti pertambangan.

Asal tahu saja, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) sudah sekian kali menurunkan peringkat BLTA dan terpuruk menjadi idSD dari idCCC. Kata analis Pefindo Vonny Widjaja & Andy Sidharta, peringkat tersebut diberikan karena perseroan tidak memenuhi pembayaran utang ke salah satu bank di luar negeri dan utang sewa kapal pada tanggal jatuh temponya.

Selain itu, laba bersih perseroan pada semester pertama tahun 2011 turun menjadi US$ 22,5 juta, dari periode yang sama tahun lalu, US$ 24,49 juta. Turunnya kinerja BLTA tidak lepas melorotnya pendapatan usaha perseroan yang turun tipis 1,98%. Dampak perseroan yang terus merugi, akhirnya BLTA terpaksa harus menunda pembayaran fasilitas pinjaman bank dan obligasi sebesar US$ 418 juta atau sekitar Rp 3,762 triliun yang jatuh tempo tahun ini.

Disampaikan Presiden Direktur PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) Widihardja Tanudjaja, penundaan pembayaran fasilitas pinjaman dan perbankan disebabkan lesunya ekonomi dunia yang mengakibatkan permintaan armada menurun, sehingga secara signifikan mempengaruhi usaha dan posisi keuangan perseroan. "Walaupun kami berharap tarif akan membaik pada periode-periode mendatang, kami harus mengambil langkah-langkah agar dapat terus mendukung efisiensi struktur permodalan dan meningkatkan modal kerja perusahaan,"ujarnya.

Selajutnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung mensuspensi perdagangan perseroan lantaran kabar tersebut. Pasalnya, kondisi ini akan merugikan para pemodal. Selain itu, BEI juga akan memanggil menajamen perseroan untuk menjelaskan keputusan tersebut, “Kami akan berdiskusi agar mereka dapat menjelaskan lebih komprehensif mengenai restrukturisasi utang yang sedang dijalankan," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito.

Selain itu, kata Eddy, otoritas bursa masih akan mengikuti perkembangan aksi korporasi perseroan, termasuk penjelasan manajemen mengenai proses restrukturisasi itu sebelum mencabut suspensi saham BLTA. (bani)

Related posts