Warisan Budaya Tertua Di Dunia - Art Body Painting :

Menghias tubuh dengan men-tattoo, tak lepas dari perjalanan peradaban manusia. Bahkan seni tattoo telah menjadi bagian budaya bangsa Indonesia, ribuan tahun.

Neraca. Dalam bahasa Tahiti, Tattoo konon diambil dari kata ‘tatau’, yang kali pertama tercatat dalam ekspedisi James Cook pada 1769. Menurut Ensiklopedi Britania, tattoo atau tato ditemukan pada mumi Mesir dari abad ke-20 SM.

Rangkaian tanda permanen yang dibuat dengan cara memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit juga ditemui hampir diseluruh belahan dunia, mulai Siberia (300 SM), Inggris (54 SM), hingga belahan Indian Haida di Amerika, suku-suku di Eskimo, Hawaii, Kepulauan Marquesas, termasuk Indonesia yakni Mentawai, Kalimantan hingga Papua.

Tato Indonesia dikenal sebagai rajah tertua di dunia, tepatnya tato yang dibuat oleh masyaralat Kepulauan Mentawai, kini salah satu Kabupaten Propinsi Sumatera Barat.

Dalam catatan Adi Rosa (50), seorang dosen Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, disebutkan bahwa, “Tato Mesir baru ada pada 1300 SM, sementara orang Mentawai sudah melukis tubuh mereka sejak kedatangannya di Pantai Barat Sumatera,” demikian tulis Adi.

Dijelaskan pula bila Bangsa Proto Melayu sudah ada di daratan Asia (Indocina), pada Zaman Logam (1500 SM-500 SM). “Artinya, tato Mentawai-lah yang paling tua di dunia,’’ tukas alumnus Magister Seni Murni, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Para suku di Indonesia ini memberi tanda pada diri mereka sebagai bentuk strata sosial, latar belakang suku, prestasi, kemampuan. Tato pun dipercaya mampu menangkal roh jahat, mengusir penyakit maupun roh kematian.

Budaya Mentawai

Keunikan tato ala Indonesia, nyatanya mengundang pembawa acara, “Tattoo Hunter,” Lars Krutak yang disiarkan oleh Discovery Channel. Pemburu tato dan penggemar tato dengan segala filosofinya ini, bahkan membekali dirinya dengan gelar Doktor Antropologi. Ia mengkoleksi tato tradisional dari berbagai bangsa di dunia, salah satunya Indonesia mencakup Mentawai, Dayak dan Papua.

Perburuan Lars bukan hanya lewat konvensi tato yang kerap diadakan di berbagai kota besar, namun juga masuk ke wilayah pelosok yang bahkan tak terjamah pemerintahan setempat.

Di tahun 2002, Lars telah memasuki Indonesia dengan mengobservasi tato tradisional pada Suku Dayak Kayan, Sihan dan Lahanan hingga tiga tahun lamanya untuk setelahnya dipublish sebagai artikel di website pribadinya.

Salah satu fakta yang mencengangkan adalah perempuan Dayak dari tiga suku ini justru merupakan seniman tato yang menonjol! Padahal selama ini banyak yang mengira bahwa tato merupakan area atau ranah kaum lelaki.

Para perempuan Kayan, Sihan dan Lahanan men-tato beberapa area tubuh bahkan wajah sebagai simbol-simbol tertentu dan ada anggapan semakin banyak tato maka akan semakin cantik. Perempuan cantik dengan tato ternyata juga diamini suku Maori dari New Zealand, Suku Kayabi di dekat Sungai Amazon, Brazil dan masih banyak lagi.

Satu demi satu fakta bahwa Tato ternyata bagian dari budaya penting Indonesia sebenarnya sudah sering digulirkan. Seperti “Gawai Dayak”, sebuah acara yang dibuat oleh komunitas mahasiswa dayak yang berkuliah di Yogyakarta dan perhelatannya sudah dimulai sekitar tahun 2002 lalu. Tujuannya untuk mengenalkan budaya dan tradisi Dayak Kalimantan, termasuk tato.

Dion dari Durga Tattoo, Jakarta, menjadi salah satu seniman tato yang mencoba untuk mempertahankan tradisi tato Indonesia Asli. Bahkan, empat tahun belakangan dia aktif melakukan perjalanan ke Mentawai guna mengumpulkan serta mendata berbagai motif tato tradisional dan filosofinya langsung dari masyarakat adat setempat yang dirangkumnya dalam video perjalanan “Mentawai Tattoo Revival”.

Hal serupa juga dilakukan Hendra dan Erzane dari Folktattoo Space dan Agung dari Eternity Tattoo Parlor (keduanya berdomisili di Yogyakarta) yang mendokumentasikan “Jejak Pantang Iban”, sebuah perjalanan melestarikan tato tradisional Dayak Iban, Kalimantan.

Usaha-usaha pelestarian ini tentunya harus didukung pula oleh berbagai pihak, terutama pemerintah setempat hingga pemerintah pusat dan seluruh masyarakat. Tato tradisional terlepas dari kesukuan dan agama, tetapi lebih merupakan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Jika pemerintah jeli, tato tradisional tentunya bisa menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk lebih mengetahui kekayaan budaya negeri ini.

Related posts