Pefindo Prediksi Ada Potensi Gagal Bayar - Obligasi Jatuh Tempo Rp 110 Triliun

NERACA

Jakarta – Besarnya dominasi perusahaan pembiayaan dalam penerbitan obligasi, dikhawatirkan akan menjadi kesulitan tersendiri bagi perusahaan seiring dengan jatuh tempo di tahun politik 2019. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, jumlah obligasi yang jatuh tempo tahun depan mencapai Rp 110 triliun. Mempertimbangkan kondisi tahun politik dan makro ekonomi yang terkoreksi, menurut analis Pefindo bakal berpotensi gagal bayar. “Kemungkinan besar yang gagal bayar itu dari industri-industri yang terdampak makro ekonomi seperti perusahaan pembiayaan,”analis pendapatan tetap Pefindo, Ahmad Nasrudin di Jakarta, kemarin.

Oleh karena itu, dirinya menghimbau pemegang obligasi harus mencermati peringkat efek dari dari emiten-emiten pembiayaan sejak tahun 2107, khususnya perusahaan yang mengalami penurunan peringkat efek. Dijelaskannya, industri pembiayaan pada tahun depan masih akan mengalami tantangan dari kenaikan suku bunga perbankan.

Tahun depan, dirinya memperkirakan, imbal hasil atau yield akan naik menjadi 9% untuk obligasi dengan jangka waktu 10 tahun. Kemudian dari nilai obligasi jatuh tempo yang mencapai Rp110 triliun pada tahun depan, 60% diperkirakan akan melakukan penerbitan obligasi kembali, sebagai usaha memenuhi kewajibannya.”Tentunya yang menggunakan cara pembiayaan ulang melalui penerbitan obligasi akan terkena biaya tinggi,” ujar dia.

Sedangkan sisanya, atau sebanyak 40% akan mengelontorkan dana dari kas internal untuk memenuhi kewajibannya.“Untuk jalur ini, datang dari emiten yang memiliki arus kas kuat seperti emiten pertambangan dan perdagangan,” kata dia.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto pernah bilang, nilai emisi dari penerbitan obligasi korporasi pada tahun depan diprediksi akan stagnan dibandingkan capaian pada tahun ini, yakni di kisaran Rp100 triliun. Nilai penerbitan tersebut masih belum mampu melampaui atau minimal menyamai capaian pada 2017 yang cukup tinggi yakni senilai Rp156,71 triliun. Penerbitan obligasi pada tahun depan mayoritas dilakukan karena kebutuhan refinancing.

Disampaikannya, minat penerbitan obligasi pada tahun depan masih ada karena utang jatuh tempo cukup tinggi. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan tahun ini yang hanya Rp75 triliun.”Penerbitan masih ada karena kebutuhan refinancing cukup besar. Tapi nilai emisinya tidak akan lebih besar dibandingkan tahun ini, nilainya bisa dibilang stagnan. Penerbitan hanya karena refinancing itu,"ujarnya.

Tahun depan, pelaku pasar masih dibayangi oleh kenaikan suku bunga acuan, baik di Amerika Serikat (AS) maupun di dalam negeri. Namun menurut Handy, AS akan lebih moderat dalam kebijakan suku bunga. Jika Fed Funds Rate dinaikkan secra agresif pada semester I/2019, kata dia, maka pada semester II/2019 AS akan cenderung bertahan. Sedangkan kondisi di dalam negeri, menurutnya telah diantisipasi oleh Bank Indonesia sejak jauh-jauh hari.

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Catatkan Perolehan Laba Rp 13,5 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan perolehan laba konsolidasi tumbuh 11,1% mencapai Rp13,5 triliun, kualitas kredit…

Penurunan Kemiskinan Melambat, Ada Apa?

Oleh: Sarwani Wajah-wajah lusuh kurang makan, berbalut pakaian asal menutup badan, tidur beralaskan material seadanya banyak ditemukan di perkotaan maupun…

Tahun Depan, Pefindo Gelar Rights Issue 15%

Lembaga rating PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) akan melakukan penerbitan saham baru (rights issue) sebanyak 15% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sesuaikan Hasil Kajian RBB - Bank BTN Optimis Bisnis Tetap Tumbuh

Tahun 2019, menjadi tahun yang penuh tantangan karena pertumbuhan ekonomi dunia dan  domestik diperkirakan melambat akibat berkepanjangannya perang dagang antara…

Berikan Pendampingan Analis Investasi - CSA Research Gandeng Kerjasama Modalsaham

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal, khususnya generasi milenial dan juga mendukung inovasi sektor keuangan digital, Certified Security…

Sentimen BI Rate Jadi Katalis Positif Sektor Properti

NERACA Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% mendapatkan…