Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Pula

Nasib Perusahaan Grup Bakrie

Senin, 07/03/2011

NERACA

Jakarta – Lambatnya penyelesaian kasus Bakrie Life terhadap nasabahnya, memaksa Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) memberikan ultimatum batas akhir penyelesaian hingga bulan Maret dan bila tidak izin usaha Bakrie Life segera dicabut.

Direktrur Utama Bakrie Life Timoer Sutanto mengakui, Bapepam LK telah memberikan teguran terhadap Bakrie Life dan Bakrie Capital Indonesia untuk melunasi tunggakan bunga dan pembayaran pokok bulan SeptemberhinggaDesember2010yang belum lunas atas produk Diamond Investasebesar Rp360 miliar. “Instruksi ini langsung datang dari Ketua Bapepam-LKNurhaida, yang memanggil manajemen serta pemegang saham (Bakrie Life danBCI) terkait penjelasan penyelesaian gagal bayar produk asuransi berbasis investasi,” katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Maka atas permintaan Bapepam-LK, manajemen berjanji akan semaksimal mungkin untuk mentaatinya. Pasalnya hingga kini, BCI tetap terus mengusahakan dana dari berbagai pihak."Kami akanusaha terussupaya bisa (dilunasi),” kata Timoer di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diamenyebutkan, pengembalian dana nasabah terdiri dari pembayaran pokok yang belum terbayardiperiode SeptemberhinggaDesember2010.Sertapelunasan atas bunga tunggakkanpadaJuli 2010."Secepatnyaini (bunga tunggakan dan pembayaran pokok) semua selesaiakhir Maret,"tambahnya.

Terkait dicabutnya izin usaha Bakrie Life, Timoer menuturkan,Bapepam-LKbelum berencana mencabut, namun akan diberikan pengenaan sanksi lanjutan baru bilaperusahaan asuransi grup Bakrie ini, tuntas menyelesaikan skema pembayaran. "Belum akan dicabut. Masih dalam penyelesaian. Mereka (nasabah) kecewa tapi mereka tetap percaya, karena dibawah grup besar.Bagi kami, Bapepam-LKjuga bilang saya harus menjaga komunikasi terus dengan nasabah dan jugamedia,"ungkapnya.

Kondisi terakhir Bakrie Life, kata Timoer, perseroan melalui Bakrie Capital tetap berkomitmen memenuhi skema pengembalian dana pokok sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012. Dimana Bakrie Life kala itu,menderita gagal bayar atas produk Diamond Investa sebesar Rp360 miliar.

Terancam di Cabut

Menurut pakar hukum ekonomi Ningrum Natasya Sirait menilai, ancaman penutupan izin usaha Bakrie Life bakal berdampak pada nasabah. Pasalnya, status perusahaan itu masih memiliki kewajiban pengembalian dana nasabah.Skema pembayaran pun telah ditetapkan yaitu sebesar 25% di 2010, 25% di 2011, dan sisanya 50% di 2012.

Lebih lanjut, Ningrum yang juga guru besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara itu mengatakan, kasus Bakrie Life telah menjadi preseden buruk karena mengikis kepercayaan masyarakat terhadap produk investasi dan keuangan sejenis. Apalagi, kasus itu menyangkut nama grup yang besar.

Asal tahu saja, masyarakat menjatuhkan pilihan berinvestasi karena brand ‘Bakrie’ namun lantas kecewa karena nama besar tidak menjamin keamanan investasi. Oleh karena iu, dirinya menyarankan agar nasabah Bakrie Life mengumpulkan informasi seakurat mungkin untuk memastikan hak-hak terpenuhi.

Selain itu, Bapepam-LK selaku pihak otoritas pengawas lembaga keuangan mesti lebih berinisiatif dengan memberikan keterangan pada nasabah. “Ini sebagai bentuk kepedulian dan perlindungan pemerintah terhadap publik. Selain itu, Grup Bakrie harus konsekuen turut mengalirkan dananya dalam pembayaran kepada nasabah,”ungkapnya.

Berhutang Lunasi Utang

Sudah menjadi rumusnya, perusahaan Bakrie selalu mensiasati tunggakan utang dengan berutang pula. Setidaknya kondisi inilah yang dilakukan induk perusahaan PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holdings Ltd (LHH) yang mendapat fasilitas pinjamansebesarUS$1,345 miliar dari Credit Suisse AG, cabang Singapura sebagaistructuringagent.

MenurutCorporate SecretaryBNBR Sri Dharmayanti, dengan adanya fasilitas ini makajatah pinjaman yang menjadi hak perusahaan Grup Bakriesebanyak US$601,75 juta."Hasil dari pinjaman itu sebagian besar digunakan untuk melunasi kewajiban-kewajiban perseroan yang ada saat ini," katanya.

Dijelaskannya, kewajiban perseroan dari perjanjian fasilitas pinjaman itu terpisah dari kewajiban LHH.Seperti diketahui,BNBRtelah menyelesaikan utangnyakepada sejumlah kreditor, termasuk Piper, Price & Company Limited dan Brenwood Ventures Pte Ltd,senilai Rp2,251 triliun. Skemapenyelesaian utanginimenjadi bagian dari kesepakatan perseroan dengan kreditur, seperti tercantum dalamconditionalsale andpurchaseagreement (CSPA),settlementagreement, danbuybackagreementyang ditandatanganipada19 November 2010.Artinya, telahdisepakatiolehperseroranmengenai penyelesaian utang sebesarRp2.251triliunkepada Piper, Price & Company Limited dan Brenwood Ventures Pte Ltd.

Penyelesaian utang baru tuntas (closing)yangdilakukan perseroandi tanggal30 Desember 2010. “Utang dibayar dengan saham perseroan di sejumlah anak usaha grup Bakrie sebagai jaminan kepada kreditur,” ujar Dharmayanti.

Saham-saham tersebut diantaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), serta PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).

Namun sayangnya, tidak diterangkan secara rinci berapa masing-masing jumlah saham yang dijaminkan.Akan tetapiBNBR menegaskan, transaksi tersebut berjenis material dan dikecualikan berdasarkan peraturan Bapepam-LK No. IX.E.2.

Lunasi obligasi

Selain itu,PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)menyatakansiapmelunasi obligasipertamapokok seri A tahun 2008denganbunganya yang jatuh tempo tahun ini. Total dana yang akan dibayarkanke agen pembayaran yaitu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 10 Maret 2011 mendatang sebesarRp235,54 miliar.

Menurut Direktur Utama ELTY Hiramsyah Sambudhy Thaib,pembayaran pokokseri A obligasi tersebut jumlahnyasenilaiRp220 miliar. Sementara bungaseri A tersebut sebesar Rp6,545 miliar danseri B sebanyakRp8,995 miliar. Sedangkan totaljumlah keduanyaadalahRp15,54 miliar.

Dengan demikian, kewajiban yang akan dibayar oleh emiten berkode ELTYtersebut menjadisebesar Rp235,54 miliar. Hingga penutupan perdaganganJumat (4/3)kemarin, saham ELTY turun4poinatau2,77%ke posisi Rp140 per lembar.Sahamnya diperdagangkan 638 kali dengan volume 136.480 lot atau setara 68,24 juta lembar sahamsenilaiRp9,752 miliar. (ardi/bani)