SMF Berniat Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - Perbanyak Sekuritisasi KPR

Neraca

Jakarta–PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) menyatakan akan kembali menerbitkan Obligasi Berkelanjutan yang sebelumnya telah dilakukkan SMF pada akhir 2011. Obligasi yang akan digulirkan tersebut dengan total Rp2 triliun.

Direktur Utama SMF, Raharjo Adisusanto mengatakan, penerbitan obligasi sebesar Rp 2 triliun akan dilakukan pada akhir Maret atau April tahun ini, “Penerbitan obligasi ini akan dilakukan berkelanjutan,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, penerbitan obligasi di bulan Maret dan April senilai Rp 1.250 triliun dan sebelumnya pernah diterbitkan Rp 750 miliar. Namun, penerbitan itu tidak akan dilakukan seluruhnya. Alasanya, kata Raharjo, hal tersebut dengan menimbang kondisi pasar yang ada.“Kita akan lihat kondisi pasar terlebih dahulu seperti apa. Kalau memungkinkan kita terbitkan semuanya”, tandasnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga berinisiatif menerbitkan obligasi kembali setelah Obligasi Berkelanjutan pada 2011 telah habis.“Nanti kalau penerbitan sisanya pada akhir Maret atau awal April sudah selesai. Kita juga berencana akan menerbitkan lagi. Tapi, itu bila obligasi sebelumnya ini sudah beres,”jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Sarana Multigriya Finansial (Persero) menyepakati "Repurchase Agreement" (Repo) dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk senilai Rp500 miliar sebagai dana penyaluran pinjaman kredit pemilikan rumah (KPR).

Dijelaskannya, kerja sama dengan SMF yang sudah dilakukan sebelumnya akan dilanjutkan, kali ini akan difokuskan untuk mekanisme penyaluran pinjaman jual beli tagihan KPR bersyarat. Kata Dirut BTN Iqbal Latanro, mekanisme itu hampir sama dengan transaksi Repo yang berlaku pada obligasi yang diperdagangkan di pasar uang, namun yang digunakan sebagai "underlying" transaksi adalah KPR.

Dari sisi pencatatan akuntansi skema Repo tidak mengurangi aset karena aset tetap dimiliki BTN tapi hanya menambahkan kewajiban kontinjensi lima tahun lagi. Atas dana Rp500 miliar, tersebut hak atas aset tagihan KPR beralih ke SMF namun secara akuntansi pengelolaan aset KPR tetap ditangani Bank BTN seperti pada transaksi sekuritisasi.

Repo Rp500 miliar tersebut memiliki bunga 7,36% dan direncanakan untuk penyaluran KPR bagi 10.000 rumah. Selain berbentuk Repo, Bank BTN dan SMF juga bekerja sama dalam proses sekuritisasi KPR yang telah dilakukan sebanyak empat kali dengan total dana Rp1,95 triliun.

Berdasarkan Perpres No 1/2008, tugas SMF sejak 2005 hingga 2018 adalah membangun dan mengembangkan pasar pembiayaan sekunder perumahan dengan memberikan pinjaman bagi penyalur KPR yang berasal dari penjualan obligasi di pasar modal.

Tercatat total aliran dana SMF ke penyalur KPR hingga 31 Januari 2012 adalah Rp5,4 triliun dengan rincian dalam bentuk sekuritisasi sebesar Rp1,95 triliun dan penyaluran pinjaman Rp3,45 triliun. (bani)

Related posts