Superkrane Raih Kontrak Baru Rp 40 Miliar - Garap Dua Proyek PLTU

NERACA

Jakarta – Di sisa akhir tahun 2018, PT Superkrane Mitra Utama Tbk (Superkrane) belum lama ini mengantongi dua kontrak baru untuk tahun 2019. Kedua kontrak baru itu berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang dan Cirebon II.”Kedua kontrak baru ini senilai lebih dari Rp 40 miliar sehingga total kontrak tahun 2019 mencapai sekitar Rp 300 miliar,”kata Direktur Utama PT Superkrane Mitra Utama Tbk, Yafin Tandiono Tan dalam siaran pers di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan, kontrak baru tersebut mulai beroperasi pada Februari-Maret 2019 dengan masa kerja berkisar 7-9 bulan. “Selain kedua kontrak baru itu, kami juga sedang mengincar kontrak di proyek jalan tol Cilincing-Cibitung dan windmill Atambua,” tutur Yafin.

Dia menegaskan, tahun ini pendapatan Superkrane ditargetkan mencapai Rp 600 miliar, naik 25% dari 2017 sebesar Rp 480 miliar. Hingga September 2018, pendapatan sudah menyentuh Rp 450 miliar. Pihaknya menargetkan pendapatan tumbuh 25% menjadi Rp 700 miliar. Hal ini didorong masih kuatnya permintaan sewa crane dari sektor migas, infrastruktur, hingga pertambangan.

Berdasarkan data Solidiance, Superkrane adalah pemain terbesar di industri sewa crane Indonesia. Tahun 2017, pangsa pasar Superkrane mencapai 7,3%, sedangkan kompetitor terdekat mencapai 6,6%, dan kompetitor lainya 4,9%. Di segmen critical lifting, Superkrane mendominasi dengan pangsa pasar 28,3%. Adapun kompetitor terdekat mencapai 18,9% dan kompetitor lainnya 14,5%.

Pasar penyewaan crane Indonesia lebih seksi dari Thailand. Ini terlihat pada nilai pasar dan jumlah unit yang tersedia. Sebagai ilustrasi, nilai pasar critical crane yang berkapasitas angkut di atas 200 ton Indonesia mencapai US$ 32 juta pada 2017, mengalahkan Thailand dan Malaysia. Sementara itu, Superkrane melepas 300 juta saham atau setara 20% melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO), di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (11/10).

Harga pelaksanaan IPO emiten berkode SKRN ini Rp 700 per saham sehingga perseroan meraup dana Rp 210 miliar. Merujuk harga saham perdana, kapitalisasi pasar Superkrane mencapai Rp 1,05 triliun. Bertindak sebagai pemimpin penjamin pelaksana efek adalah PT UOB Kay Hian Sekuritas. Perseroan akan menggunakan 50% dana hasil IPO untuk membayar uang muka (down payment/DP) crane baru, 25% untuk membayar utang, dan sisanya untuk modal kerja.

Saat ini, Superkrane memiliki 90 crane berkapasitas angkut di bawah 100 ton, 31 unit berkapasitas 100-199 ton, dan 28 unit berkapasitas 200 ton-750 ton. Selain itu, perseroan memiliki scissor lifts dan man lifts 85 unit, lalu telehandlers, forklift, excavator, reachstacker 14 unit, dan truk muliaxle 19 unit.

BERITA TERKAIT

Sulap Ponsel Android Lama jadi Baru

Tak dimungkiri, permasalahan yang dihadapi pengguna smartphone Android adalah adopsi sistem operasi yang tidak merata. Sejumlah vendor smartphone kerap kesulitan…

BMRS Lunasi 20% Saham DPM Ke Antam - Raih Dana Segar dari NFC China

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar senilai US$ 198 juta dari NFC China, mendorong PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)…

Siap Beri Kenyamanan Berbelanja di Era Serba Terkoneksi - Hadirnya Logo Baru di HUT Electronic City

Siap Beri Kenyamanan Berbelanja di Era Serba Terkoneksi Hadirnya Logo Baru di HUT Electronic City NERACA Jakarta – Perjalanan bisnis…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

HRUM Targetkan Penjualan 4,8 Juta Ton

Hingga akhir tahun 2018, PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menargetkan volume produksi dan penjualan batu bara mencapai 4,8 juta ton.…

BNBR Private Placement Rp 9,38 Triliun

Lunasi utang, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) berencana mengonversi utang dengan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih…

Danai Pelunasan Utang - Chandra Asri Rilis Obligasi Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun, emisi penerbitan obligasi masih ramai dan salah satunya PT Chandra Asri Petrochemical Tbl (TPIA)…