Lebih Efisiensi dan Menguntungkan, Sistem Bioflok Jadi Solusi Budidaya Ikan Masa Depan

NERACA

Sukabumi – Sistem budidaya ikan bioflok dianggap menjadi solusi budidaya untuk masa depan. Karena dengan bioflok lebih efisien untuk penggunaan lahan disamping itu hasilnya lebih menguntungkan.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawa (BBPAT) Sukabumi, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Supriyadi, saat didatangi dikantornya akhir pekan kemarin. “Lahan menjadi salah satu masalah budidaya ikan, terutama di daerah Jawa. Tapi, dengan sistem bioflok pembudidaya bisa budidaya ikan dilahan yang sempit, tapi hasilnya lebih menguntungkan,” katanya.

Salah satu yang sudah boming dimasyarakat budidaya ikan adalah bioflok lele. Selain menggenjot segi kuantitas, kualitas pun dipastikan lebih baik. Karena sistem bioflok adalah budidaya lele dengan media terpal melingkar yang membuat budidaya lebih hiegenis tidak kena tanah dan penggunaan pakan pun lebih efisien. Yang sudah jalan program nasional adalah Lele. Tapi saat ini bukan hanya lele saja. Tapi, Nila juga sudah bisa dibudidaya dengan sistem bioflok,” ujarnya.

Adapun untuk komoditas Nila, menurut Supriyadi, penerapan teknologi sistem bioflok untuk nila tidak terlepas dari filosofi bahwa ikan ini secara alami merupakan ikan herbivora dan mampu mencerna flok yang tersusun atas berbagai mikroorganisme, yaitu bakteri, algae, zooplankton, fitoplankton, dan bahan organik sebagai bagian sumber makanannya. “Bioflok Nila sudah dilaunching pada April kemarin, dan beberapa pembudidaya sudah ada yang mulai. Tapi rencananya baru tahun depan masuk program nasional,” ucapnya.

Dan aplikasi sistem bioflok pada pembesaran ikan nila juga telah mampu meningkatkan produktivitas hingga 25 – 30 kg/m3 atau 12-15 kali lipat jika dibandingkan dengan di kolam biasa yaitu sebanyak 2 kg/m3. Selain itu, waktu pemeliharaan lebih singkat, dengan benih awal yang ditebar berukuran 8 – 10 cm, selama 3 bulan pemeliharaan, benih tersebut mampu tumbuh hingga ukuran 250 – 300 gram/ekor. Sedangkan untuk mencapai ukuran yang sama di kolam biasa membutuhkan waktu 4-6 bulan. “Secara ekonomi, Nila lebih menguntungkan dari pada Lele. Karena harga jualnya yang lebih tinggi bisa dikisaran Rp. 22 ribu, bahkan kalau di luar Jawa bisa Rp 40 ribuan,” ungkapnya.

Semua Komoditas

Sementara itu, ditempat terpisah, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Slamet Soebjakto, saat dihubungi mengatakan sistem bioflok memang masih menjadi sitem budidaya yang paling efektif dan efisien saat ini. Komoditas lele sudah berhasil dengan sistem ini, dan sekarang Nila. Dan tidak menutup kemungkinan komoditas lain nantinya akan dicoba dengan sistem ini. “Kami terus berupaya melakukan inovasi dan trobosan untuk budidaya ikan. Lele sudah berhasil, sekarang Nila, ke depan semua komoditas harapannya bisa dibudidaya dengan sistem bioflok,” katanya.

Karena memang, sistem bioflok sangat menguntungkan, dari segi pemanfaatan lahan, dan hasil. “Dengan bioflok bisa budidaya dilahan sempit, tapi hasilnya lebih menguntungkan,” sambungnya.

Disaming itu juga, menurut Slamet, dengan sistem bioflok ramah lingkungan, karena tidak menimbulkan bau. “Budidaya sekarang tidak harus di tambak atau di tempat luas, dengan bioflok bisa dimana saja, bahkan bisa dipekarangan rumah karena dengan sistem bioflok ini tidak menimbulkan bau. Karena memang ramah lingkungan,” tandasnya.

Seperti diketahui, aplikasi sistem bioflok, dapat meningkatkan kelangsungan hidup atau survival rate (SR) hingga lebih dari 90 persen dan tanpa pergantian air. Air hasil budidaya ikan nila dengan sistem bioflok tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan.

Hal ini dikarenakan adanya mikroorganisme yang mampu mengurai limbah budidaya menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman.

Kedua, Feed Conversion Ratio (FCR) atau perbandingan antara berat pakan yang telah diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total (biomass) yang dihasilkan pada ikan nila mampu mencapai angka 1,03.

Artinya penggunaan pakan sangat efisien untuk menghasilkan 1 kg ikan Nila hanya membutuhkan 1,03 kg pakan. Jika dibandingkan dengan pemeliharaan di kolam biasa FCRnya mencapai angka 1,5.

Ketiga, padat tebarnya pun mampu mencapai 100-150 ekor/m3 atau mencapai 10-15 kali lipat dibanding dengan pemeliharaan di kolam biasa yang hanya 10 ekor/m3.

Selain itu, Ikan hasil budidaya sistem bioflok lebih gemuk sebagai hasil pencernaan makanan yang optimal. Komposisi daging atau karkasnya lebih banyak, juga kandungan air dalam dagingnya lebih sedikit..

BERITA TERKAIT

Likuiditas Perbankan akan Semakin Ketat Di Tahun Depan

      NERACA   Jakarta - Sektor perbankan akan menghadapi tantangan di tahun depan berupa likuiditas yang semakin ketat.…

Perbankan Syariah Lebih Suka Akad Mudharabah

    NERACA Jakarta - Praktisi perbankan syariah dari PT Sarana Multigriya Finansial Eko Ratrianto mengatakan perbankan syariah lebih menyukai…

Era Otomatisasi Bikin Trading Lebih Efisien

Wardah (22), mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini gak pernah absen mengikuti perkembangan harga saham lewat aplikasi smartphonenya. Meskipun…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - RI Diyakini Mampu Menjadi Pusat Pengembangan Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Provinsi Kepulauan Riau memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor industri manufaktur. Untuk itu, pemerintah terus mendorong wilayah…

KIARA: Negara Wajib Lindungi Perempuan Nelayan

NERACA Jakarta – Konflik Agraria di Indonesia terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Peningkatan ini terjadi seiring dengan praktik…

Pacu Investasi Industri Lebih Masif, Pemerintah Relaksasi DNI

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya meningkatkan nilai investasi, baik dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing…