Irigasi Rusak, Produksi Padi Pun Menurun - Kabupaten Kuningan

Kuningan - Sejak beberapa tahun terakhir ini intensitas tanah di areal pesawahan di wilayah Kabupaten Kuningan mengalami gangguan sehingga produksi padi menurun, dan imbasnya kesejahteraan para petani pun belum mengalami peningkatan yang signifikan.

Dari sumber yang diperoleh Harian Ekonomi Neraca, Kamis (1/3), gangguan pada intensitas tanah dan produksi padi tersebut disebabkan karena irigasi yang terbentang di wilayah Kuningan rusak. Kerusakan tersebut mencakup bendung, bangunan dan saluran.

Di wilayah irigasi Kuningan sendiri, volume bendung sebanyak 507 buah, bangunan 1.162 buah dan saluran sepanjang 485.816 meter. Dari total irigasi tersebut, ternyata 30 sampai 35 persen kondisinya usak.

“Kerusakan tersebut jelas membawa dampak kepada tanah dan produksi padi sehingga kesejahteraan petani pun terganggu. Ini dikarenakan, jika irigasi rusak, maka yang biasanya sawah bisa diairi tiga kali sehari, menjadi dua kali, dan sistem gilir air pun diberlakukan. Ini menyebabkan produksi padi menurun, yang tadinya si petani bisa panen lima ton, karena terganggu, maka hanya tiga ton. Belum lagi panen yang tidak teratur,” papar Kabid Program pada Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (SDAP), Enjang Supriadi, mewakili Kepala, Kukuh T Malik.

Ketika ditanya faktor yang menyebabkan irigasi rusak, Enjang menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan irigasi di Kuningan rusak. Selain faktor usia bendung dan bangunan yang sudah tua, ditambah faktor bencana alam yang menghantam bendung dan bangunan tersebut sehingga rusak.

Kerusakan itu sendiri memang sudah cukup lama, dan karena kondisi anggaran di Kuningan sangat terbatas, maka SDAP pun menunggu bantuan dari pemerintah pusat maupun propinsi Jawa Barat. Setelah lobi-lobi sejak beberapa tahun lalu, akhirnya di tahun 2012 ini SDAP mendapat kucuran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan APBD Propinsi sebesar Rp13 miliar untuk memperbaiki irigasi.

Akan tetapi, dari 35 persen irigasi yang rusak, belum bisa diperbaiki semuanya, karena membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana Rp13 miliar itu dialokasikan untuk 36 bendung, 55 bangunan dan kurang lebih 7.000 meter saluran irigasi. “Karena hampir semua wilayah irigasinya rusak, maka semua wilayah kebagian perbaikan ini,” ujarnya.

Jika melihat luasnya irigasi, maka jumlah yang diperbaiki itu hanya beberapa titik dan hamparan saja. Masih luas irigasi Kuningan yang rusak dan pasti tidak begitu memberi perubahan berarti pada produksi padi dan kesejahteraan petani. Apalagi untuk memperbaiki irigasi, Kuningan hanya mengandalkan dari pusat dan provinsi.

“Kita juga tidak bisa menargetkan kapan irigasi yang rusak itu bisa diperbaiki total. Karena kalau faktornya bencana, Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kadang setelah diperbaiki, rusak lagi diterjang banjir dan longsor, dan Kuningan memang cukup rawan terhadap bencana longsor ini,” tambahnya.

Setidaknya diharapkan, dari perbaikan tersebut bisa mengurangi beban petani yang sedikit repot mengurus air. Petani diharapkan bisa kembali memperoleh air sehari tiga kali untuk swahnya, dan produksi padi bisa sedikit meningkat dari biasanyna. (nung)

Related posts