Ambil Untung Lebih Kuat Dibanding Aksi Beli di Akhir Pekan

Neraca

Jakarta – Harapan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis ditutup menguat seiring dengan inflasi yang diyakini masih rendah belum mampu menahan aksi ambil untung. Alhasil, IHSG Kamis sore ditutup melemah melemah 22,924 poin (0,58%) ke level 3.962,286. Sementara Indeks LQ 45 ditutup turun 6,35 poin (0,92%) ke level 686,421.

Menurut analis saham BNI Securities, Viviet S Putri, pelemahan indeks dipicu oleh pelaku pasar saham yang mengambil posisi ambil untung. "Kamis sore kemarin, pasar saham dalam negeri didominasi oleh aksi ambil untung," katanya di Jakarta, Kamis (1/3).

Dia menambahkan, sentimen negatif kembali merebak setelah lembaga pemeringkat S&P kembali menurunkan peringkat Yunani menjadi "Selective Default" meskipun pihak Parlemen Yunani telah menyetujui rencana pemangkasan tunjangan pensiun dan berbagai anggaran belanja pemerintah sebesar US$ 4,3 miliar.

Oleh karena itu, indeks Jum’at akhir pekan masih meneruskan aksi ambil untung ketimbang aksi beli. Dimana indeks akan bergerak kembali terkoreksi di level 3.920-3.952. Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar tampak kecewa setelah Ketua Federal Reserve Ben Bernanke dalam pidatonya kemarin tidak mengisyaratkan adanya stimulus lanjutan.

Pada perdagangan kemarin, saham properti, agrikultur dan perdagangan mencoba mengangkat indeks ke zona hijau namun masih kalah oleh tujuh sektor lainnya yang terjebak di zona merah. Pelemahan kali ini dipimpin indeks sektor konsumer.

Transaksi pemodal asing berbalik arah menjadi penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 17,06 miliar di seluruh pasar. Sementara perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 105.830 kali pada volume 6,4 juta lot saham senilai Rp 3,29 triliun. Sebanyak 87 saham naik, sisanya 142 saham turun, dan 118 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Petrosea (PTRO) naik Rp 1.500 ke Rp 45.000, United Tractor (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 29.350, Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 150 ke Rp 2.150, dan Mayora (MYOR) naik Rp 150 ke Rp 14.900,

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.200 ke Rp 69.650, Unilever (UNVR) turun Rp 600 ke Rp 18.650, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 600 ke Rp 56.150, dan Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 450 ke Rp 140.050.

Pada perdagangan sesi I, IHSG ditutup melemah 10,281 poin (0,26%) ke level 3.974,929. Sementara Indeks LQ 45 turun tipis 3,461 poin (0,50%) ke level 689,310. Investor banyak profit taking untuk menutupi kerugian dalam empat perdagangan terakhir sebelum akhirnya melonjak tinggi di penutupan kemarin. Ambil untung rata-rata dilakukan oleh investor lokal.

Saham properti dan perdagangan mencoba mengangkat indeks ke zona hijau namun masih kalah oleh delapan sektor lainnya yang terjebak di zona merah. Data inflasi pada Februari 2012 yang di umumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 0,05% belum memberikan pengaruh signifikan. Padahal, data inflasi tersebut dinilai terendah sejak 2007.

Perdagangan pun berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 60.576 kali pada volume 2,58 juta lot saham senilai Rp 1,543 triliun. Sebanyak 86 saham naik, sisanya 114 saham turun, dan 108 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Petrosea (PTRO) naik Rp 1.500 ke Rp 45.000, Mayora (MYOR) naik Rp 250 ke Rp 15.000, Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 200 ke Rp 5.850, dan United Tractor (UNTR) naik Rp 200 ke Rp 29.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 450 ke Rp 56.300, Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 450 ke Rp 140.050, Astra Internasional (ASII) turun Rp 450 ke Rp 70.400, dan Surya Citra (SCMA) turun Rp 200 ke Rp 8.500.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka turun 10,20 poin atau 0,26% ke posisi 3.974,12. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,10 poin atau 0,30% ke posisi 690,79 poin. "Tidak adanya `benang merah` dari The Fed mengenai akan dikucurkannya paket stimulus baru membuat Wall Street dilanda aksi `profit taking` sebelumnya, kondisi itu memberi imbas negatif IHSG Kamis pagi," kata Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang.

Meski demikian, lanjut dia, bursa Indonesia masih diyakini berpeluang menguat terbatas didorong "sisa-sisa" eforia penguatan perdagangan hari sebelumnya. Hal itu akibat absennya kenaikan harga minyak dan penguatan Rupiah di tengah dua faktor ekonomi penting yakni ketegasan Pemerintah dan DPR mengenai berapa besar kenaikan harga BBM premium di tengah kekhawatiran "Inconsistency" kebijakan BI atas tingkat suku bunga acuan (BI Rate) sebagai tanggapan inflasi ke depan.

Analis Sinarmas Sekuritas, Jeff Tan menambahkan, pada perdagangan Kamis, secara teknikal indeks BEI masih mempunyai potensi untuk melanjutkan penguatan pada kisaran 3.930-4.015 poin.

Menurutnya, data perekonomian AS seperti data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan hasil dari program lanjutan bank sentral Eropa seputar fasilitas pinjaman terhadap bank-bank Eropa (LTRO), serta perkembangan dari hasil laporan keuangan perusahaan domestik dan antisipasi akan pengumuman inflasi Februari, dapat memberikan sentimen terhadap indeks.

Tercatat bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 72,32 poin (0,33%) ke level 21.607,76, indeks Nikkei-225 naik 30,78 poin (0,32%) menjadi 9.754,02 dan Straits Times menguat 6,88 poin (0,23%) ke level 3.000,94. (bani)

Related posts