The Duck King Patok IPO Rp 505 Per Saham

NERACA

Jakarta – Emiten pengelola jaringan restoran The Duck King, PT Jaya Bersama Indo Tbk (JBI). menetapkan harga saham dalam penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) senilai Rp505 per saham. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Dalam IPO, melepas sebanyak-banyaknya 513,33 juta sama atau setra dengan 40% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Harga penawaran Rp505 per saham. Nilai penawaran umum perdana saham adalah Rp259,23 miliar. Selain IPO, perseroan juga menggulirkan program opsi kepemilikan saham oleh karyawan atau employee stock allocation (ESA) sebanyak-banyaknya 0,1% dari jumlah saham IPO atau 513.000 saham.

Di samping itu, perseroan juga memberikan opsi kepemilikan saham oleh manajemen (MESOP) sebanyak-banyaknya 10% saham dari portapel atau sekitar 128,33 juta. Nantinya, susunan pemegang saham Jaya Bersama Indo setelah IPO, ESA dan MESOP, terdiri atas PT Asia Kuliner Sejahtera dengan porsi 54,543%, Itek Bachtiar 0,003%, masyarakat 36,327%, dam ESA 0,036%,dan MESOP 9,091%.

Perseroan akan menggunakan 80% dari dana hasil IPO untuk pembukaan gerai baru di beberapa lokasi di Indonesia, di antaranya beberapa kota di Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan, serta luar negeri, yaitu Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Dana tersebut juga akan diserap untuk keperluasn renovasi gerai restoran yang ada untuk mendukung kesinambungan seluruh jaringan gerai restoran entitas Jaya Bersama Indo, seperti The Duck King, Imperial Chef dan Fook Yew.

Sisanya, sekitar 20% akan digunakan untuk modal kerja dan untuk meningkatkan kapabilitas operasional perseroan dan entitas anak. Direktur Keuangan Jaya Bersama Indo, Dewi Tio pernah bilang, perseroan menganggarkan dana sekitar Rp670 miliar hingga tiga tahun ke depan untuk membuka gerai baru yang direncanakan sebanyak 48 gerai.”Capex untuk ekspansi, 80% dari IPO. Kita butuh tiga tahun senilai Rp670 miliar dengan rincian tambah 11 gerai 2018, 18 gerai di 2019 dan 19 gerai di 2020," ujarnya.

Menurutnya, JBI menjadi salah satu jaringan restoran yang paling cepat berkembang dengan jumlah gerai sebanyak 35 yang tersebar di sembilan kota di Indonesia. Perusahaan memiliki tiga merek utama yaitu The Duck King, Fook Yew dan Panda Bowl, serta tujuh sub-merek dari The Duck King untuk menangkap permintaan di segmen konsumen kelas menengah yang sedang tumbuh di Indonesia. Restoran yang dikelola perusahaan, kata Dewi, juga tumbuh sebagai merek internasional.

BERITA TERKAIT

Bukaka Kuasai 25% Saham Poso Energy

PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) kembali menguasai 25% saham PT Poso Energy. Sebelumnya, Bukaka sempat melepas 4,49% sehingga kepemlikan…

Geliat Bisnis Investasi - PII Agresif Sertakan Saham di Anak Usaha IPC

NERACA Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, sampai…

Pusaka Bumi Transportasi IPO di 2019

PT Pusaka Bumi Transportasi sebagai perusahaan alat berat dan juga anak usaha dari PT Blue Bird Tbk (BIRD) berencana menggalang…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Indosat Lunasi Obligasi Rp 224,59 Miliar

Meskipun performance kinerja keuangan masih negatif, kondisi tersebut tidak membuat PT Indosat Tbk (ISAT) untuk nunggak bayar obligasi yang jatuh…