IHSG Rabu Balik Arah Ke Zona Hijau

Neraca

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 42,541 poin (1,10%) ke level 3.903,557. Sementara Indeks LQ 45 ditutup menanjak 9,032 poin (1,36%) ke level 674,315. Penguatan indeks ini merupakan berkah bagi pelaku pasar untuk menikmati indeks yang sudah terkoreksi dalam sepekan kemarin.

Aksi beli yang dilakukan investor asing memicu indeks bergerak rebound. Oleh karena itu, berikutnya indeks Rabu di proyeksikan akan bergerak di zona yang sama dengan pergerakan indeks di level 3.903-3.923. Kondisi ini di dukung dengan maraknya emiten melaporkan kinerja tahun 2011 yang positif.

Pada perdagangan Selasa sore kemarin, seluruh indeks sektoral akhirnya kompak bergerak di zona hijau akibat aksi beli tersebut. Saham-saham yang sudah murah langsung diincar oleh investor. Secara teknikal, posisi indeks juga sudah jenuh beli.

Investor asing tak mau ketinggalan dan memburu banyak saham-saham unggulan. Tercatat transaksi investor asing melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 369,048 miliar di seluruh pasar. Sementara perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 122.644 kali pada volume 6,962 juta lot saham senilai Rp 4,338 triliun. Sebanyak 169 saham naik, sisanya 71 saham turun, dan 108 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Petrosea (PTRO) naik Rp 2.250 ke Rp 43.250, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.150 ke Rp 53.150, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.300 ke Rp 43.200, dan Astra Internasional (ASII) naik Rp 1.100 ke Rp 69.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Surya Citra Media (SCMA) turun Rp 250 ke Rp 8.450, Myoh (MYOH) turun Rp 200 ke Rp 3.425, Fajar Surya (FASW) turun Rp 150 ke Rp 2.325, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 150 ke Rp 20.550.

Mengakhiri perdagangan sesi I, IHSG ditutup naik tipis 4,103 poin (0,11%) ke level 3.865,119. Sementara Indeks LQ 45 menguat tipis 1,823 poin (0,27%) ke level 667,106. Posisi indeks yang sempat naik sebentar di awal perdagangan itu dimanfaatkan pelaku pasar untuk mengambil untung dalam menutupi kerugiannya yang terjadi pada koreksi indeks sepanjang pekan lalu.

Saham-saham unggulan yang sudah murah mulai diburu investor. Sementara saham-saham lapis dua masih terkena aksi ambil untung. Tiga indeks sektoral terpantau melemah, yaitu tambang, industri dasar, dan perdagangan. Sementara tujuh sektor lainnya masih berhasil cetak poin, dipimpin oleh indeks sektor konsumer yang naik hampir satu persen.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 54.366 kali pada volume 1,491 miliar lembar saham senilai Rp 1,777 triliun. Sebanyak 87 saham naik, sisanya 93 saham turun, dan 108 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Petrosea (PTRO) naik Rp 1.800 ke Rp 42.800, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 950 ke Rp 51.950, Astra Internasional (ASII) naik Rp 700 ke Rp 69.400, dan Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 250 ke Rp 41.150.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 350 ke Rp 3.750, Harum Energy (HRUM) turun Rp 200 ke Rp 8.400, Fajar Surya (FASW) turun Rp 200 ke Rp 2.275, dan Sumber Alfaria (AMRT) turun Rp 175 ke Rp 3.750.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka naik 16,04 poin atau 0,42% ke posisi 3.877,06. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 4,09 poin atau 0,61% ke posisi 669,37 poin. Penguatan saham unggulan memicu indeks BEI dibuka menguat.

Menurut analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, tekanan pasar sedikit mereda dipicu saham-saham unggulan yang telah masuk dalam area jenuh jual (oversold). "Saham unggulan terlihat mulai memasuki area `oversold` meski belum ada sinyal pembalikan arah (reversal)," katanya.

Dia sempat memperkirakan indeks BEI akan bergerak di kisaran "support-resistance" Rabu di level 3.832-3.900 poin. Namun ketidakpastian dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta ancaman tingginya inflasi masih membayangi pergerakan pasar. "Kami melihat pasar masih `over-reacted` terhadap rencana kenaikan BBM. Ketidakpastian akan menyebabkan pedagang menaikkan harga terlebih dahulu sebelum harga BBM dinaikkan. Hal ini yang ditengarai menyebabkan setiap kenaikan harga BBM selalu diikuti oleh inflasi yang tinggi dan juga reaksi negatif dari pasar finansial," ujarnya.

Disisi lain, lanjut dia, berkaca pada beberapa kenaikan harga BBM yang terjadi sebelumnya. Reaksi negatif pasar saham biasanya hanya sementara. "Saat inflasi kembali melandai, diproyeksikan indeks BEI akan kembali bergerak menguat," katanya.

Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng menguat 111,41 poin (0,53%) ke level 21.329,27, indeks Nikkei-225 turun 59,06 poin (0,61%) ke level 9.574,87 dan Straits Times menguat 9,60 poin (0,33%) ke level 2.956,38. (bani)

BERITA TERKAIT

Menelisik Arah Utang Pemerintah Era Kepemimpinan Jokowi

Oleh: Nurul Nabila, Mahasiswi Perbankan Universitas Samudra Langsa   Selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik…

Dunia Usaha - Industri Hijau Bisa Masuk Bagian Program Digitalisasi Ekonomi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus mendorong sektor industri manufaktur di Indonesia agar semakin meningkatkan kegiatan yang terkait…

APP Sinar Mas Kembali Raih Penghargaan dari Kemenperin - Terapkan Prinsip Industri Hijau

APP Sinar Mas Kembali Raih Penghargaan dari Kemenperin Terapkan Prinsip Industri Hijau NERACA Jakarta – Dua unit industri Asia Pulp…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…