GMF AeroAsia Terus Berbenah Diri Menuju IPO - Didukung Induk Usaha

NERACA

Jakarta - Maskapai penerbangan milik pemerintah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), berencana menunjuk penasihat keuangan guna mengevaluasi nilai penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) kedua anak usahanya, PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia dan PT Aero Catering Services.

Menurut Direktur Utama GIAA, Emirsyah Satar, selain mengevaluasi nilai IPO, penasihat keuangan akan mengkaji kondisi yang tepat untuk dilakukannya IPO tersebut. Dengan evaluasi nilai dan waktu IPO, diharapkan maskapai penerbangan pelat merah ini mendapatkan nilai yang optimal. "Sebenarnya sih mereka sudah siap, hanya terkendala value-nya berapa. Investment bank-nya bisa dari lokal ataupun asing. Yang penting, bisa mengkaji value," ungkap dia di Jakarta, Senin (27/2).

Emirsyah berharap agar GIAA tetap menjadi pemegang saham mayoritas kendati kedua anak perusahaannya itu ditawarkan ke publik. Meskipun begitu, dirinya mengakui bahwa GMF masih memiliki pendanaan yang cukup untuk menopang perusahaannya.

Saat ini, GMF berencana membuat hanggar dengan nilai investasi US$ 50 juta. "IPO itu tujuannya bukan hanya funding tapi perusahaan ini menjadi transparan, sehingga tata cara pengelolaan dan manajemennya berjalan," imbuhnya.

Emirsyah menambahkan, saat ini hampir 70% pendapatan GMF diperoleh dari induk perusahaan. Oleh karena itu, dia tengah mencari dan mengkaji lini bisnis yang dapat ditawarkan ke publik. "Saat ini, dari lini bisnis itu hanya IGTE (industrial gas turbine engine) yang menyumbang 100% ke GMF.

Masih bergantung induk

Rencananya akan kita lakukan spin-off dulu," kata dia. Diharapkan melalui IPO, perseroan dapat lebih transparan dan memiliki kinerja keuangan yang meningkat. Terkait spin-off atau pemisahan dari induk perusahaan, Direktur Utama GMF, Richard Budihadianto menilai, tujuan perseroan spin-off unit usahanya adalah untuk mengembangkan bisnis.

Ke depan, unit usaha yang pendapatannya tidak tergantung dengan induk usaha, GIAA, diharapkan bisa melepas saham ke publik. Langkah pemisahan ini, sambung dia, dilakukan untuk melihat ketergantungan bisnis anak usaha perusahaan kepada GIAA.

Sependapat dengan Emirsyah, Richard mengakui, saat ini 70% pendapatan GMF masih berasal dari GIAA. Melainkan dari perusahaan pelat merah lainnya, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero). Namun, saat melihat portofolio, ada unit usaha yang sebetulnya tidak bergantung dengan induk usaha. GMF saat ini memiliki empat portofolio unit bisnis, yaitu IGTE, base maintenance, logistik, dan pusat pelatihan.

Oleh karenanya, Richard mensyaratkan bahwa unit bisnis GMF yang akan melepas saham ke publik, nantinya, tidak boleh memiliki pendapatan yang bergantung kepada perusahaan induk. Tahun lalu, IGTE memberikan kontribusi pendapatan untuk GMF sebesar US$ 1,5 juta. Sedangkan tahun ini, target perseroan melonjak menjadi US$ 10 juta dan pada 2013 meningkat lagi menjadi US$ 20 juta.

Dalam evaluasi GMF, IPO yang akan dijalankan unit bisnisnya itu harus memiliki tujuan jelas, yakni untuk mencari modal kerja. Untuk itu, GMF terus menggenjot upaya pengembangan unit bisnisnya sebelum menggelar IPO. "Tujuan IPO harus jelas, cari modal kerja, dan yang pasti transparansi lebih bagus," jelasnya.

Bangun hanggar

Tak hanya itu, GMF akan membangun satu hanggar senilai US$ 30 juta hingga US$ 40 juta. Hanggar itu akan dibangun di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten. Saat ini, GMF sudah memiliki tiga unit hanggar. Selain Soetta, perseroan juga berencana membangun hanggar di Makassar, Sulawesi Selatan.

Pembangunan hanggar di Makassar ini masih dalam tahap pembicaraan. Selain investasi dari IPO, perseroan juga masih mencari pendanaan alternatif lainnya. “Kami sedang mencari sumber pendanaan pembangunan dua hanggar. Salah satu alternatifnya, ya, melalui IPO. Tapi, kami belum terlalu berharap pada IPO karena baru dirintis," tukas Richard.

Agar terlaksana, GMF akan menganggarkan dana untuk investasi dalam tiga tahun mendatang sebesar US$ 100 juta, atau Rp 904,5 miliar. Secara keseluruhan, pada 2011 mencapai US$ 165 juta. Sedangkan tahun ini, perseroan menargetkan US$ 180 juta, atau tumbuh 12,5%. Sementara, laba bersih ditargetkan Rp 80-100 miliar.

Sebagai informasi, GMF AeroAsia telah meraup kontrak senilai US$ 136,55 juta atau Rp 1,22 triliun di ajang Singapore Airshow 14-19 Februari 2012 lalu. Untuk kontrak perawatan pesawat mencapai US$ 101,3 juta atau Rp 911,7 miliar yang berasal dari sembilan perusahaan penerbangan dan perusahaan penyewaan pesawat.

Vice President Marketing GMF AeroAsi, Jemsly Hutabarat mengatakan, perseroan telah menandatangani 9 kontrak jangka panjang dengan 6 perusahaan asing dan 2 perusahaan dalam negeri yakni Sriwijaya Air dan Travira Air. Total kontraknya sebesar US$ 136,55 juta dan berjangka waktu panjang, 3-5 tahun.

Dia menambahkan, dari 9 kontrak yang diperoleh selama pameran, satu perusahaan asal Thailand melanjutkan penandatangan kontrak di Jakarta karena pada saat pameran berhalangan hadir. Nilai kontrak dari perusahaan Thailand ini mencapai US$ 6,05 juta, sehingga nilai kontrak yang ditandatangani selama pameran untuk perawatan pesawat saja sebenarnya US$ 92,25 juta.

Jemsly juga menyebutkan bahwa perusahaan yang menjalin kerja sama dengan GMF, antara lain Travira Air, Sriwijaya Air, CIT Leasing Corporation asal Amerika Serikat, United Airways asal Bangladesh, dan Vietjet Air asal Vietnam. [ardi]

BERITA TERKAIT

Siswa di Daerah Pun Kini Lebih Percaya Diri - Menaklukan Soal Matematika

Percaya atau tidak, terkadang sumpah serapah ada kalanya bisa menjadi kenyataan. Hal inilah yang menggambarkan pengalaman Adit, guru privat di…

Jababeka Residence Menuju Kota Mandiri Internasional

Jababeka Residence Menuju Kota Mandiri Internasional  NERACA Jakarta - Pengembangan kawasan residensial Jababeka tidak lepas dari konsep kota mandiri terintegrasi…

Gurihnya Untung Usaha Seblak Raja Pedas - Kerjasama Syariah

Usaha seblak adalah pilihan tepat bagi Andri Waryadi. Pasalnya dengan tawaran kerja sama dan berbagai kelebihan yang mulai dari varian…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Hary Tanoe Terima Gelar Kehormatan Sulsel

NERACA Makassar - Chairman MNC Group, Hary Tanoesoedibjo menerima gelar warga kehormatan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang diberikan…

BEI Suspensi Perdagangan Saham Malacca

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), berikutnya perdagangan saham PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) dihentikan…

Panorama Bikin Anak Usaha Mitra Global

Menggeliatnya bisnis pariwisata saat ini memacu PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) untuk lebih agresif mengembangkan bisnisnya. Teranyar, perseroan membentuk anak…