Naik Rp1.500 Dorong Inflasi 5,5% - Terkait BBM

Terkait BBM

NERACA

Jakarta-- Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga BBM subsidi di atas Rp1.000 per liter membuat target kenaikan inflasi tahunan di atas 5,5%. "Dampak inflasi (kalau ada kenaikan BBM subsidi) tentu ada, tergantung naiknya antara Rp500-Rp1.500 per liter. Kalau kenaikan BBM, inflasi akan bergerak, di atas 5%. . Apalagi kalau kenaikan di atas Rp1.000, kalau sampai Rp1.500 (kenaikan BBM subsidi), inflasi akan bergerak di atas target. Bisa lebih dari 5,5% (per tahun)," kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta,

Menurut Darmin, BI bukan berarti tidak mendukung kebijakan kenaikan BBM subsidi tersebut. Pasalnya, hal ini relatif lebih mudah dilakukan ketimbang melakukan pembatasan BBM yang memerlukan infrastruktur yang komplek. "Dalam soal harga BBM, memang tadinya wacananya membatasi tetapi keliatannya enggak workable, mungkin pom bensin yang ada pertamax cuma di Jakarta. Ketika keluar 100 kilometer sudah (menemukan pertamax)," tambahnya

Selain itu, Darmin juga mengetengahkan kenyataan bahwa neraca pembayaran khususnya di pos ekspor-impor minyak dan gas Indonesia sudah mulai negatif sejak akhir 2011 lalu. "Kalau enggak dilakukan kenaikan harga APBN kita akan kesulitan, neraca pembayaran akan kesulitan. Mulai pertengahan tahun lalu neraca migas kita sejak tahun lalu mulai timpang. Total ekspor dan impor migas kita secara keseluruhan sudah mulai lebih besar impornya sehingga transaksi berjalan defisit," tandas Mantan Dirjen Pajak ini.

Dengan menaikkan harga BBM, Darmin berharap neraca pembayaran tak akan terlau defisit. Masyarakat juga sudah harus mulai berhemat.

Sementara itu, Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo memastikan bahan bakar minyak (BBM) akan naik. Ia memprediksi kenaikannya Rp 2.000/liter atau menjadi sekitar Rp 6.500/liter untuk BBM premium. "BBM pasti naik lah, wong Presiden sudah ngomong naik kok," ujarnya

Menurut Widjajono, kenaikan harga BBM belum bisa dipastikan berapanya, karena akan dibahas dengan DPR-RI khususnya di Komisi VII. "Naiknya berapa? Tidak tahu, itu ada dimasing-masing pikiran anggota DPR dan Kementerian ESDM," tukasnya

Guru Besar ITB ini menambahkan harga BBM seharusnya bisa naik Rp 4000/liter, namun ia yakin pemerintah tak akan berani menaikkan sebesar itu "Memang bagusnya naik Rp 4.000 tapi tidak mungkin, pemerintah tidak akan berani, sepertinya bertahap mungkin Rp 2.000 dahulu baru selanjutnya Rp 2.000 lagi," ucapnya

Ia mengatakan bahwa hal ini sangat penting dari pada, uang negara habis hanya untuk subsidi BBM alias terbuang cuma-cuma karena tak tepat sasaran. "Bayangin Rp 255 triliun habis hanya untuk subsidi minyak, sementara penghasilan Minyak dan gas kita hanya Rp 270 triliun," tandasnya. **mohar

BERITA TERKAIT

DPRD Jabar Harapkan OVOC Dorong Sektor Perikanan

DPRD Jabar Harapkan OVOC Dorong Sektor Perikanan NERACA Bandung - DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengharapkan program One Village One…

Harga Minyak Naik Didukung Optimisme Perdagangan

NERACA Jakarta – Harga minyak terus menguat pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pasar didukung oleh tanda-tanda kemajuan…

Nilai Transaksi Saham Sepekan Naik 3,07%

NERACA Jakarta – Sepekan kemarin, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pertumbuhan rata-rata frekuensi transaksi sebesar 5,53% menjadi 464,93 ribu…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Atasi Defisit Produksi Migas, Pemerintah Dorong Eksplorasi

      NERACA   Jakarta - Defisit minyak dan gas yang makin besar untuk memenuhi kebutuhan nasional akan mulai…

Optimalisasi Aset Pelabuhan untuk Layanan Logistik Energi - Sinergi Pelindo III dan Pertamina

        NERACA   Surabaya - Pelindo III dan Pertamina memulai integrasi dan pendayagunaan aset pelabuhan untuk bersama…

Roadmap Pengembangan Kendaraan Listrik Telah Disiapkan Pemerintah

      NERACA   Jakarta - Sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN), Indonesia berupaya mengalihkan konsumsi energi yang sebelumnya…