Penerapan Teknologi Terbaru Sudah Dilakukan Oleh IKM

NERACA

Jakarta – Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyebutkan, penerapan teknologi terbaru yang sudah dilakukan oleh IKM nasional, antara lain sektor IKM logam dengan memanfaatkan penggunaan teknologi mesin-mesin programmable Computer Numerical Control (CNC) untuk mendukung proses produksinya. Keuntungan yang didapatkan antara lain produk yang dihasilkan lebih presisi dan human error dapat diminimalisir.

“IKM yang sudah memanfaatkan, di antaranya mereka bergerak di bidang pembuatan mold and dies dan pembuatan komponen otomotif, karena produk-produk yang dihasilkan tersebut membutuhkan tingkat presisi yang tinggi,” ungkapnya seperti disalin dari siaran resmi.

Di samping itu, Ditjen IKM telah memberikan bantuan mesin CNC router kepada IKM kerajinan di Batam, sehingga pelaku IKM hanya tinggal memasukkan desain yang dikehendaki ke dalam mesin dan kemudian mesin tersebut yang bekerja membentuk produk kerajinan sesuai dengan desain yang telah dimasukkan sebelumnya.

Teknologi lainnya yang sudah diterapkan para IKM logam, yakni pembuat pande besi konvensional yang semula menempa logam dengan tenaga manusia, saat ini sudah melalui sentuhan teknologi dengan tenaga motor atau hidrolik (air hammer). “Dengan begitu, kapasitas produksi semakin meningkat dan konsistensi mutu produk juga akan terjaga,” ujar Gati.

Sementara itu, di sektor IKM pakaian jadi, penerapan teknologi dilakukan pada proses produksinya yang menggunakan aplikasi mulai dari pembuatan pola hingga penjualan produk. Pembuatan pola dapat menggunakan aplikasi Optitex yang bertujuan untuk efisiensi proses produksi dan memaksimalkan bahan baku yang akan terpakai. “Sedangkan, untuk sistem penjualan menggunakan aplikasi Raptor Point of Sales System yang telah terkoneksi pada jaringan internet dan terpantau secara real time,” imbuhnya.

Di sektor IKM furnitur, pemanfaatan teknologi diaplikasikan melalui mesin pengeringan kayu dengan menggunakan High Frequency Vacuum Kiln Dry Machine sehingga menjadi lebih cepat proses produksinya. “Apabila dilakukan secara konvensional dapat memakan waktu sampai dua minggu, saat ini bisa dipersingkat menjadi tiga hari dengan tingkat kekeringan yang lebih merata dan menghilangkan risiko bahan baku kayu menjadi terbakar ataupun retak,” jelasnya.

Gati meyakini, sentuhan teknologi pada sarana dan prasarana IKM, khususnya dalam proses produksi akan meningkatkan kapasitas produksi, mengefisienkan penggunaan energi, mengendalikan kualitas produk sehingga konsistensi mutu produk bisa terjamin serta meminimalkan defect dari suatu proses produksi.

Sementara itu Kementerian Perindustrian melatih pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di Kota Bogor, Jawa Barat, tentang perdagangan digital sebagai salah satu strategi menghadapi era industri 4.0. Pelatihan itu dilakukan melalui workshop e-SMART IKM di Kota Bogor, Jawa Barat, disalin dari Antara di Jakarta.

Gati Wibawaningsih mengatakan, menghadapi era industri 4.0, salah satu program prioritas pemerintah yakni Making Indonesia 4.0 adalah pemberdayaan IKM melalui teknologi digital. "Salah satu pemberdayaan IKM melalui teknologi digital yakni perdagangan 'online' (dalam jaringan) yang diimplementasikan dalam program e-SMART IKM," katanya.

Workshop ini diikuti 150 IKM di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. Tahun ini, Kemenperin menargetkan 4.000 IKM seluruh Indonesia mengikuti workshop e-SMART IKM yang telah dilaksanakan di 22 provinsi, di tingkat kota, kabupaten, maupun provinsi.

Menurutnya, program e-SMART IKM merupakan sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil industri, sentra, dan produk yang diintegrasikan dengan 'marketplace' (kanal pemasaran) yang telah ada dengan tujuan untuk meningkatkan akses pasar IKM melalui internet marketing. "IKM harus 'update' dengan teknologi, sesuai dengan program Making Indonesia 4.0," katanya.

Kementerian Perindustrian lanjutnya, berupaya melalukan edukasi pentingnya teknologi digital, manajemen keuangan yang baik, serta produk yang memenuhi standar sebagai implementasi era industri 4.0. Ia mengatakan, pemerintah tidak tinggal diam melihat peluang besar dalam pedagangan online atau 'e-commerece' diambil alih oleh produk-produk dari luar negeri. "Maka itu, Kemenperin merespon perkembangan perdagangan online dengan membina IKM melalui program e-SMART IKM," katanya.

Melalui program e-SMART IKM, Dirjen IKM Kemenperin berupaya membekali IKM dengan kemampuan pemanfaatan teknologi digital.

BERITA TERKAIT

Redam Kepanikan Pelaku Pasar - BEI Pastikan Sudah Miliki Protokol Krisis

NERACA Jakarta – Menjelang penetapan pemengangan pemilu presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei mendatang, memberikan situasi politik…

KKP Sebut Teknologi RAS Dorong Produksi Benih Gurame

NERACA Jakarta – Jika dikomparasi dengan sistem konvensional, pendederan ikan gurame dengan teknologi Recirculation Aquaculture System (RAS) dapat meningkatkan padat…

SMARTPHONE INFINIX TERBARU

Chief Marketing Officer Lazada Indonesia, Monika Rudijono (kiri) bersama Vice President Infinix Smartphone Indonesia Christian Sudibyo memperlihatkan Smartphone Infinix terbaru…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Petrokimia Skala Besar Siap Investasi di Gresik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan investasi di sektor industri petrokimia. Selain menumbuhkan sektor hulu, tujuannya juga guna…

Kebijakan Publik - Kemenperin dan Polri Sinergi Wujudkan Kondusifitas Iklim Usaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sepakat bersinergi untuk mewujudkan pengamanan di bidang perindustrian…

Dana Bagi Hasil Migas untuk Kesejahteraan Papua

NERACA Manokwari – Peraturan Daerah Khusus tentang Dana Bagi Hasil Migas (Perdasus DBH Migas) diharapkan segera dapat diimplementasikan di Provinsi…