Pertumbuhan Ekonomi Rapuh, Dibantu Momentum Pilkada

Oleh: Sarwani

Meski biduk ekonomi terombang-ambing dihempas gelombang fluktuasi nilai tukar rupiah, defisit transaksi berjalan, pelarian modal asing, kenaikan harga barang, dan inflasi, ia masih sanggup tumbuh 5,27 persen per triwulan II 2018.

Berdasarkan catatan Biro Pusat Statistik, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan II 2018 mencapai Rp3.683,9 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.603,7 triliun. Itu berarti ekonomi Indonesia pada triwulan II 2018 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya tumbuh 5,27 persen (year to year).

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 9,22 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 8,71 persen.

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2018 meningkat sebesar 4,21 persen (quarter-to-quarter). Dorongan dari sisi produksi disumbang oleh pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 9,93 persen.

Dari sisi pengeluaran, sumbangan berasal dari Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang meningkat signifikan sebesar 32,52 persen dan merupakan pertumbuhan tertinggi.

Dengan tingginya P-KP tersebut lagi-lagi kita melihat pemerintah dapat memainkan perannya sebagai agen pendorong pertumbuhan ekonomi. Namun seberapa mampu peran tersebut terus dijalankan karena hal itu tergantung pada momen tertentu saja seperti pilkada? Dibutuhkan dana yang tidak sedikit sementara penerimaan negara terbatas saat ini. Akankah mengorbankan prioritas pembangunan yang lain?

Lain triwulan lain tengah tahunan. Pada semester I 2018 ekonomi Indonesia tumbuh 5,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di lihat dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi terjadi pada Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 8,82 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada komponen PK-LNPRT yang tumbuh sebesar 8,40 persen.

Jika dilihat secara regional, sumbangan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2018 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia, yakni 58,61 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,54 persen, dan Pulau Kalimantan sebesar 8,05 persen. Sementara itu, walaupun kontribusinya masih yang terkecil, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh kelompok Pulau Maluku dan Papua.

Melihat angka pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan semula, apakah menandakan ekonomi nasional tidak terkena dampak fluktuasi nilai tukar rupiah? Bagaimana dengan target pertumbuhan ekonomi akhir tahun? Apakah pertumbuhan ekonomi tersebut berkesinambungan atau hanya siklikal karena momen tertentu saja? Bagaimana pemerintah dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tersebut? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

Pilkada vs Hoax

  Oleh : Erina Novita, Mahasiswi Universitas Negeri Padang   Konsep demokrasi, meskipun dapat ditelusuri jauh ke belakang sampai pada…

Kenaikan Investasi dan Ekspor Manufaktur Wujudkan Ekonomi Sehat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang memprioritaskan peningkatan investasi dan ekspor guna memperbaiki struktur perekonomian nasional. Dua faktor tersebut, juga menjadi…

Pacu Pertumbuhan Kinerja - Wismilak Raih Izin Kawasan Berikat Surabaya

NERACA Jakarta – Emiten produsen rokok, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menyambut baik ketetapan pemerintah yang memberikan izin atas…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pilkada vs Hoax

  Oleh : Erina Novita, Mahasiswi Universitas Negeri Padang   Konsep demokrasi, meskipun dapat ditelusuri jauh ke belakang sampai pada…

Tepat Pemerintah, Atasi Dampak Negatif Kenaikan Tarif Pesawat

  Oleh : Abdul Aziz, Pengamat Jasa Transportasi   Sekarang, banyak sekali sektor yang bergantung pada dunia penerbangan, sebut saja…

Penugasan Khusus dan Relevansi Penghapusan Pajak BUMN

Oleh: Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi Polemik mahalnya tiket pesawat dengan menuding mahalnya harga avtur yang dijual oleh BUMN Pertamina bisa…