Akhir Pekan, Indeks Belum Bergerak Leluasa Ke Zona Hijau

Neraca

Jakarta – Sentimen negatif krisis Eropa masih menghantui pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI). Alhasil sejak diawal perdagangan hingga menutup pasar, indeks BEI berada di zona merah. Menutup perdagangan Kamis sore, indeks BEI ditutup melemah 36,215 poin (0,91%) ke level 3.958,809. Sementara Indeks LQ 45 ditutup terpangkas 9.016 poin (1,30%) ke level 684,966.

Terkoreksinya indeks disebabkan aksi ambil untung di saham-saham unggulan dan lapis dua. Tercatat sembilan indeks sektoral di lantai bursa terkena koreksi. Saham-saham berbasis aneka industri menjadi yang paling banyak kena profit taking dan memimpin pelemahan IHSG Kamis kemarin. Saham-saham di sektor konstruksi menjadi penopang jatuhnya bursa.

Menurut Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang, kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia yang diindikasikan turunnya data PMI Jerman dan China serta Taiwan memicu kekhawatiran pelaku pasar. "Kondisi itu memotong proyeksi pertumbuhan ekonomi negar itu dan berdampak negatif pada pasar saham sehingga menenggelamkan mayoritas Bursa Asia,"katanya di Jakarta, Kamis (23/2).

Dia menambahkan, isu domestik dalam negeri mengenai apakah harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan dinaikkan atau tidak. Berikutnya, indeks Jum’at akhir pekan diproyeksikan masih akan berada di zona yang sama dan akan bergerak di level 3.940-3.952. Namun tidak kemungkinan besar peluang bangkit kezona hijau masih terbuka dan akan bergerak menguat.

Tercatat perdagangan kemarin berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 107.108 kali pada volume 5,357 miliar lembar saham senilai Rp 4,146 triliun. Sebanyak 55 saham naik, sisanya 152 saham turun, dan 109 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 4.200 ke Rp 53.000, Dian Swastatika (DSSA) naik Rp 2.450 ke Rp 17.700, Fastfood (FAST) naik Rp 1.000 ke Rp 13.500, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 900 ke Rp 53.650.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.500 ke Rp 70.850, United Tractor (UNTR) turun Rp 950 ke Rp 28.250, Unilever (UNVR) turun Rp 600 ke Rp 18.550, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 200 ke Rp 20.800.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 22,726 poin (0,57%) ke level 3.972,298. Sementara Indeks LQ 45 terkoreksi 5,535 poin (0,80%) ke level 688,447. Saham-saham berbasis aneka industri menjadi yang paling banyak kena profit taking. Saham-saham komoditas yang kemarin menguat juga hari ini balik arah ke zona merah.

Hanya satu sektor yang masih bertahan di zona hijau, yaitu indeks sektor konstruksi. Sayangnya, sembilan sektor lainnya di lantai bursa terkena koreksi. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 60.937 kali pada volume 2,215 miliar lembar saham senilai Rp 1,766 triliun. Sebanyak 56 saham naik, sisanya 149 saham turun, dan 80 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.200 ke Rp 50.000, Dian Swastatika (DSSA) naik Rp 1.150 ke Rp 16.400, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.100 ke Rp 44.600, dan Fastfood (FAST) naik Rp 1.000 ke Rp 13.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.200 ke Rp 71.150, United Tractor (UNTR) turun Rp 650 ke Rp 28.550, Unilever (UNVR) turun Rp 450 ke Rp 18.700, dan Petrosea (PTRO) turun Rp 450 ke Rp 39.300.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 13,62 poin atau 0,34% ke posisi 3.901,41. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 3,47 poin atau 0,50% ke posisi 690,52 poin. "Bursa Asia Kamis pagi bergerak terkoreksi, hal itu memfaktorkan penurunan data manufaktur di Eropa dan data penjualan rumah AS yang lebih rendah dari estimasi," ujar Kepala Riset Samuel Sekuritas, Christine Salim.

Dia mengatakan, data indeks purchasing manager Uni Eropa di bulan Januari secara mengejutkan turun ke level 49,7 ditambah dengan penurunan data manufaktur Jerman di bulan Februari. Data existing home sales AS di bulan Januari juga lebih rendah dari estimasi.

Kemudian, sinyal dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan kisaran Rp500-1500 direspon negatif oleh pasar seiring kembali naiknya ekspektasi inflasi mendatang.

Analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono menambahkan, melonjaknya harga minyak mentah di pasar internasional ke tingkat tertinggi dalam sembilan bulan terakhir menjadi sentimen negatif IHSG.

Dia mengatakan, pemerintah dalam beberapa kali kesempatan mengungkapkan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi jika harga minyak mentah menembus level 115 dolar AS per barel.

Sementara opsi kenaikan harga BBM bersubsidi menurut Pemerintah tidak bisa dihindari. Pasar merespon negatif adanya wacana itu, meski beberapa sektor seperti pertambangan dan perkebunan diuntungkan oleh apresiasi harga komoditas di pasar internasional. "Kami melihat harga minyak mentah serta perkembangan krisis hutang Eropa masih akan membayangi pergerakan indeks BEI dalam jangka pendek," tandasnya

Bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 171,31 poin (0,79%) ke level 21.377,97, indeks Nikkei-225 turun 4,72 poin (0,05%) ke level 9.549,28 dan Straits Times menguat 13,43 poin (0,45%) ke level 2.982,16.(bani)

BERITA TERKAIT

Pemerintah Pastikan Stok Pangan Akhir Tahun Aman

  NERACA   Jakarta - Kementerian Pertanian menjamin stok pangan jelang perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 aman. Kepala…

Kinerja Saham PGN Belum Masih Tertekan - Holding BUMN Migas Dibentuk

NERACA Jakarta - Menteri BUMN Rini Soemarno menargetkan pembentukan holding BUMN migas terwujud pada triwulan-I tahun 2018.”Setelah holding BUMN industri…

Pemkot Sukabumi Harus Cepat Ambil Langkah Antisipasi - Meski Masyarakat Belum Sulit Dapatkan Gas LPG 3 Kg

Pemkot Sukabumi Harus Cepat Ambil Langkah Antisipasi Meski Masyarakat Belum Sulit Dapatkan Gas LPG 3 Kg NERACA Sukabumi - Meskipun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Siapkan Dana Rp 1,01 Miliar - Tahun Depan, Bank Jatim Buyback Saham

NERACA Surabaya - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) di pasar reguler pada…

Aturan Saham IPO Dongkrak Investor Baru

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio menilai bahwa kajian mengenai aturan untuk meningkatkan alokasi saham bagi investor…

MNC Edukasi Pasar Modal di UPI Bandung

Komitmen untuk meningkatkan literasi keuangan di pasar modal, MNC Asset Management belum lama ini menggelar eduasi investasi pasar modal di…