Industri Sawit RI-India Jalin Kerjasama Produksi

NERACA

Jakarta –Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), The Solvent Extractors' Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait kerangka keberlanjutan produksi minyak sawit dan perdagangan Indonesia-India.

Dalam penandatanganan yang diselenggarakan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta,sebagaimana disalin dari Antara,tersebut juga membahas sinergi "Indonesian Sustainable Palm Oil System" (ISPO) dan "The Indian Palm Oil Sustainability (IPOS)".

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap kerja sama tersebut dapat memperkuat hubungan Indonesia dan India di bidang pertumbuhan minyak nabati dan produk turunannya.Ia mengatakan bahwa Indonesia dan India mempunyai hubungan ekonomi yang saling menguntungkan dengan total perdagangan kedua negara mencapai 18,1 miliar dolar AS pada 2017.

Ekspor produk minyak sawit Indonesia ke India mencapai 4,9 miliar dolar AS atau sekitar 34,8 persen total ekspor Indonesia ke India."Data tersebut menunjukkan pentingnya minyak sawit bagi kedua negara. Saya yakin kolaborasi ini bisa mengedepankan diskusi tentang pertumbuhan kelapa sawit yang berkelanjutan seperti yang telah dibahas pemimpin kedua negara," ujar Darmin.

India merupakan salah satu pengguna terbesar kelapa sawit Indonesia di samping China. Oleh karena itu, Darmin menilai komunikasi kedua pihak perlu dibangun tidak hanya antarpemerintah tetapi juga antar-asosiasi.

Komunikasi tersebut terutama bertujuan menanggalkan kesan bahwa kualitas kelapa sawit Indonesia rendah karena harganya yang murah."Ekspor kelapa sawit ke India itu belum di semua lapisan dipakainya, karena harganya memang lebih murah sehingga masih ada kesan bahwa dari segi kualitas mutu kalah dengan minyak yang lain, padahal tidak," ujar Darmin.

Ia menjelaskan harga kelapa sawit Indonesia lebih murah karena memiliki produktivitas yang lebih tinggi tiga hingga empat kali dibandingkan di negara-negara lain."Kami ingin kerja sama dengan asosiasinya agar ada program menyosialisasikan bahwa harga lebih murah itu bukan karena kualitas lebih rendah, tetapi karena memang produktivitasnya lebih tinggi," ujar Darmin.

Indonesia saat ini merupakan salah satu produsen besar kelapa sawit dunia dengan produksi sekitar 40 juta ton dan luas area mencapai 14,3 juta hektare.Kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati yang berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat, baik dalam bentuk minyak goreng dan produk hilir lainnya, maupun dalam bentuk bioenergi.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden SEA India Atul Chaturverdi mengatakan Nota Kesepahaman tersebut akan membuka jalan bagi keberlanjutan sektor perdagangan minyak sawit yang berkelanjutan dalam jangka panjang di Asia.

"Saya yakin bahwa sinergi antara ISPO dan IPOS secara bersama-sama akan melindungi daya saing industri kelapa sawit, meningkatkan kesiapan menghadapi permintaan pasar di masa depan, dan memenuhi komitmen nasional terhadap produksi dan perdagangan kelapa sawit yang berkelanjutan," ujar Atul.

Delegasi India juga akan berkunjung ke Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, untuk bertemu dengan pemerintah daerah setempat dan mengunjungi lokasi pemberdayaan petani kelapa sawit mandiri Solidaridad dan Keling Kumang Group.

Sebelumnya Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan mendukung arahan Presiden Joko Widodo yang menginginkan agar ke depannya dapat ditingkatkan peningkatan biodiesel dalam rangka mengatasi tekanan ekonomi global.

"Kami mendukung arahan Presiden dan Menperin untuk lebih menggunakan Biodiesel guna mengurangi impor bahan bakar juga penghematan devisa kita," kata Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan ketika dihubungi Antara di Jakarta, Rabu (11/7).

Paulus mengutarakan harapannya agar penggunaan biodiesel jenis B20 bisa cepat diperluas di dunia industri yang ada di berbagai daerah di Tanah Air. Ia berpendapat jika hal itu bisa dilaksanakan dengan baik maka akan signifikan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, yang sekitar setengahnya adalah impor.

BERITA TERKAIT

BI Sebut Mastercard Jalin Kerjasama Perusahaan “Switching” Lokal

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan perusahaan pemroses pembayaran (switching) asal Amerika Serikat, MasterCard, sudah menjalin kerja…

Produksi Alat Mekanis Multiguna Pedesaan Digenjot

Pemerintah terus memacu produktivitas dan daya saing industri otomotif di dalam negeri agar mampu memenuhi kebutuhan konsumen domestik dan semakin…

Kemenperin Sebut Laju Industri Otomotif Kian Melesat

Industri otomotif merupakan salah satu dari lima sektor manufaktur yang tengah diprioritaskan pengembangannya karena akan menjadi pionir dalam penerapan revolusi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Hadiri ODM Undip, Menteri Susi Ingin Kembalikan Kejayaan Laut

NERACA Semarang – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti  menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam kegiatan upacara penutupan Orientasi Diponegoro Muda…

Penerapan Teknologi Terbaru Sudah Dilakukan Oleh IKM

NERACA Jakarta – Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyebutkan, penerapan teknologi terbaru yang sudah dilakukan oleh IKM nasional, antara lain…

Teknologi Hybrid Berpeluang Besar untuk Pengembangan

NERACA Tangerang - Mobil elektrifikasi berbasis teknologi hybrid atau dikenal dengan Hybrid Electric Vehicle (HEV) berpeluang besar dikembangkan sebagai tahap…