Sentimen IHSG Tekan Kinerja Reksadana Turun 5,94% - KINERJA SEMESTER I-2018

NERACA

Jakarta – Selain tren pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) di sepanjang paruh pertama tahun 2018, kondisi yang sama juga terjadi terhadap kinerja indeks reksa dana. Pasalnya, mayoritas indeks reksa dana mencatatkan kinerja negatif.

Kinerja indeks reksa dana saham secara year-to-date (ytd) per 29 Juni 2018, berdasarkan data Infovesta Utama yang dirilis di Jakarta, kemarin turun sebesar 5,94%. Adapun indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 8,76%.Sementara itu, indeks reksa dana campuran mencatatkan penurunan sebesar 3,95%, serta indeks reksa dana pendapatan tetap turun 3,8%. Satu-satunya reksa dana yang positif adalah indeks reksa dana pasar uang yang mampu tumbuh 1,9%.

Secara year-to-date, kinerja indeks reksa dana pasar uang menjadi jawara untuk perolehan kinerja positif. Kinerja mingguan dari masing-masing indeks reksa dana pun tak jauh beda. Pekan lalu, indeks reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index turun sebesar 0,39%. Adapun indeks reksa dana campuran yang tercermin dalam Infovesta Balanced Fund Index turun sebesar 0,84%, sedangkan indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index turun 1,25%.

Sementara itu, indeks reksa dana pasar uang yang tercermin dalam Infovesta Money Market Fund Index tumbuh tipis yakni sebesar 0,06%. Namun demikian menurut Praska Putrantyo, senior research analyst PT Infovesta Utama, kinerja reksa dana pada kuartal kedua tahun ini diprediksi akan mencatatkan kinerja positif setelah pada tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan kinerja yang mengecewakan.

Disampaikannya, sejak akhir Februari lalu indeks harga saham gabungan (IHSG) telah mengalami tekanan dan berdampak pada penurunan kinerja reksa dana. Dengan demikian, pada kuartal kedua indeks berpotensi untuk kembali naik sejalan dengan kondisi ekonomi global yang mencoba bangkit dan mulai redanya sentimen negatif dari luar negeri.”Kami optimistis akan ada rebound karena secara teknikal sudah cukuo tertekan dan secara isu sudah tidak lagi berdampak sampai kuartal kedua,"ujarnya.

Dari dalam negeri, kata dia, stabilitas kondisi ekonomi serta tingkat inflasi yang cukup terkendali juga akan mendorong perbaikan reksa dana. Apalagi, pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan setidaknya hingga paruh pertama tahun ini."Market akan mencoba untuk pulih karena berbagai faktir tersebut, terutama untuk saham dan obligasi," paparnya.

Kemudian melongok IHSG di awal pekan kemarin ditutup terkoreksi 52,47 poin atau 0,90% ke 5.746,77. Sembilan sektor memberati langkah IHSG. Penurunan terbesar terjadi pada sektor aneka industri, yakni 4,68%. Sektor industri dasar melemah 2,19%. Sektor tambang turun 2,18% dan sektor manufaktur melemah 1,14%. Hanya sektor barang konsumer yang menguat 0,24%.

Total volume transaksi bursa mencapai 72,93 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 6,88triliun. Sebanyak 255 saham melemah. Masih 141 saham yang menguat dan 103 saham bergerak flat. Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp 132,70 miliar di seluruh pasar. Saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah ASII Rp 86,4 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 36,7 miliar, dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) Rp 32,5 miliar.

Saham-saham dengan pembelian bersih terbesar asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 89,1 miliar, rights issue PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC-R) Rp 63,2 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 57,2 miliar. Sementara di awal perdagangan, IHSG dibuka menguat sebesar 29,26 poin atau 0,5% ke posisi 5.828,5. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 7,39 poin (0,81%) menjadi 916,35,”Mulai meningkatnya volume beli diharapkan dapat menjadi awal untuk membentuk tren kenaikan selanjutnya," kata analis Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada.

Reza menuturkan, sentimen di pekan ini diharapkan depan dapat lebih baik, terutama dari sentimen makro ekonomi. Selain itu, diharapkan kenaikan tersebut tidak dimanfaatkan untuk kembali melakukan aksi profit taking. Pergerakan IHSG pasca melemah dalam, pada akhir pekan lalu kembali bergerak di zona hijau. Pelaku pasar memanfaatkan pelemahan dalam sebelumnya untuk kembali masuk.

Adanya rilis kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 bps atau sesuai dengan perkiraan sebelumnya, memberikan dampak positif pada IHSG dengan harapan dapat menahan gejolak pelemahan rupiah. bani

BERITA TERKAIT

Pertamina EP Catatkan Kinerja Positif di Semester I

  NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2018.…

Sentimen Cawapres Kerek Saham Saratoga

Kinerja saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) cenderung menguat pasca Sandiaga Salahuddin Uno maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi…

Pasar Tidak Khawatirkan Sentimen Pilpres - Melihat Tren Tiga Pemilu

NERACA Jakarta – Pasca  diumumkannya dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), pelaku pasar masih bersikap wait…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sentimen Krisis Turki Membuat Rp dan IHSG Loyo

NERACA Jakarta – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebagai buntut dari sentimen krisis ekonomi di Turki, memberikan dampak…

DAMPAK KRISIS MATA UANG TURKI - Darmin: Reaksi Berlebihan Berdampak Psikologis

Jakarta-Menko Perekonomian Darmin Nasution menganggap anjloknya mata uang Turki (lira), berdampak secara psikologis terhadap bursa saham dan mata uang negara-negara…

Ekonom: Program Capres Harus Beri Kepastian Berbisnis

NERACA Jakarta-Ekonom menilai faktor yang mampu mendorong sentimen positif berinvestasi bukan latar belakang sosok calon presiden dan calon wakil presiden,…